LOGIN"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
Wajah Sheila manyun ketika naik mobil Andre. Bahkan setelah mobil itu mulai jalan, kondisi wajahnya tak berubah. Ada yang kaku, tapi bukan ular Faiq. Ada yang kelabu, tapi bukan pernikahan Sekai (Dilarang tag authornya sebelum santet melayang).
"Oom, kalau jemput bisa diem tunggu di mobil saja gak?" pinta Sheila.
Andre mengedip-ngedip. Matanya tak bisa berpaling dari kemudi. "Masa tuan putri keluar dari toko gak dijaga. Dari pintu toko ke parkiran lumayan jauh. Gimana kalau dalam jarak sepuluh senti dari pintu kamu kesandung. Kalau kesandung langkah gak apa, kalau kesandung cinta sama penjaga toko sebelah lain lagi," jawab Andre.
Sheila mendengus. Ia merasa kesal karena Andre menimpalinya dengan candaan. "Aku serius ya, Oom. Setiap kali Oom datang, temanku pasti tebar pesona. Parfum yang biasanya kecium cuman ujungnya, sekarang membahana hingga sepuluh meter. Bibir mereka saja sekarang merekah mengalahkan pantat jambu air. Dibandingkan Sheila, aku lebih khawatir Oom yang kesandung."
Andre mencolek pipi Sheila. "Jangan ragu sayang, jika kau belah dadaku maka kau akan temukan cinta yang hanya untuk dirimu. Asyeek," celetuknya.
Sheila meraih tas lalu ia pukulkan pada lengan pacarnya. "Enggak lucu dan gak asik. Sudah, ah! Sheila kesel. Mana tadi gajian kecil lagi. Pasti pulang mamah ngamuk lagi," keluhnya.
Andre mengeluarkan amplop coklat dari dashboard. Ia berikan amplop panjang itu pada Sheila. "Berikan sama mamah mertua. Bilang dari calon mantu yang gantengnya sudah ngegantung di kerak bulan."
Sheila menggeleng. Ia berikan amplop itu pada Andre. Mereka baru pacaran satu minggu sungguh tak pantas Sheila menerima uang darinya. "Jangan kasih aku uang, Oom. Rasanya aku cuman dihargai, tapi gak dicintai. Sheila mau sama Oom bukan karena uangnya. Oom bertanggung jawab dan baik hati."
Tangan Andre mengusap rambut Sheila. "Sabar ya sayang. Tiga bulan lagi gak lama, kok. Bulan depan aku langsung ngelamar. Sayang belum diACC sama atasan. Dia maksa terus aku nikah sama anaknya. Resiko jadi cowok ganteng memang gini, banyak yang niat jadiin calon mantu," keluhnya.
Rasanya mual-mual manja mendengar Andre berkata begitu. "Kalau banyak yang mau jadiin calon mantu, kenapa malah ikut-ikut biro jodoh?" tegur Sheila.
Andre mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi mobil. "Karena Allah sudah menakdirkan agar aku bertemu denganmu," jawabnya.
"Ampuh deh, kalau gini terus aku minta udahan saja," keluh Sheila.
Tawa Andre membahana. Akhirnya mereka sampai di depan kosan Andre. Sheila lekas turun dari mobil pria itu. "Aku gak mau sama anak bosku itu. Pernah jalan sekali sudah bikin ill feel. Dia sombongnya sudah tembus ke nirwana. Pakai bahas-bahas masalah pakaian dalamnya yang diimport dari Amerika. Gak sanggup aku jadi suaminya. Bisa-bisa kerja lembur sampai mati cuman buat nafkahin."
Sheila bergidik. "Yang lainnya gimana?" Gadis itu masih penasaran dengan kisah cinta Andre sebelum dirinya.
"Lupa," jawab Andre dengan wajah polosnya. Ia tak pernah menghitung berapa banyak mantan yang pernah menghiasi hidup. Mereka datang dan pergi seperti bis di terminal. "Mereka kebanyakan sama dan serupa. Aku sudah sayang, mereka main di belakang. Katanya aku membosankan?"
"Ini Kak Andre curhat?" potong Sheila.
"Bukan, itu tadi iklan deterjen," ralat Andre kesal.
"Tunggu," cegah Andre ketika Sheila baru membuka pintu. Ia tarik lengan Sheila dan beberapa detik kemudian satu kecupan mendarat di pipi Sheila. Wajah Sheila mendadak merona. "Apa sih, Oom! Malu," ucap Sheila sambil menutup wajah dan keluar mobil Andre.
Andre nyengir sambil menyandarkan wajah di kemudi mobilnya. "Ampun, dia manis banget kayak gulali. Untung dia low kalori jadi aman gak bikin dia betes," ucapnya sambil senyum-senyum sendiri. Mendadak jadi geregetan. Andre mematikan mesin mobilnya lalu turun dan tak lupa mengunci pintu mobil.
"Oom Andre!" panggil suara yang tak asing bagi Andre. Kepala Sheila nongol dari batas ujung pagar. Ia berjinjit lalu mengangkat tangannya dan menyilangkan jari telunjuk dan jempol membentuk love. "Saranghae!" teriak Sheila lalu berlari menuju rumahnya dengan wajah malu.
Andre berkedip-kedip. Jidatnya mengerut. "Hah? Apa katanya? Minta jahe? Buat apa?" Berkat rasa cinta dan sayang, lekas Andre lari ke kosan. Ia ingat siapa diantara orang dikosannya yang rajin masak sendiri.
"Sunny!" panggil Andre tepat di depan pintu kosan Sunny. Sahabat Andre itu tak lama keluar dari kosannya. Ia sedang bersantai menonton suara hati seorang suami dengan memakai kaos dan sarung sebelum Andre datang mengganggu.
"Kenapa?" tegur Sunny.
"Minta jahe. Kayaknya pacarku masuk angin," pinta Andre.
Sunny terdiam bingung. "Belikan saja tolak badai, ngapain pake jahe?" Sunny membetulkan sarungnya yang terancam melorot. Bahaya kalau burung kakak tua menclok di jendela.
"Mintanya itu tadi." Andre kekeuh pada pendiriannya.
"Gak punya, beli saja sana di warung depan ada."
Lekas Andre berlari ke warung depan. Sementara itu Sheila duduk sambil bersandar di depan pintu. Ia tersenyum-senyum geli. Sesekali Sheila menyampirkan rambutnya ke belakang telinga lalu mengusap pipi. "Cuci muka jangan, ya?" pikirnya. Ini pertama kalinya ia pacaran dan pertama kalinya ada pria selain ayahnya yang mengecup hangat pipinya. Ternyata cinta itu seperti ini. Rasanya seperti terkena asam lambung. Tak jelas, perut terasa kembung dan pikiran tertuju pada satu arah.
Sheila terperanjat mendengar suara pintu diketuk. Ia bangkit dan lekas membuka pintu rumahnya. Mata Sheila berbinar melihat keberadaan Andre di sana dengan wajah yang basah dipenuhi keringat akibat berkeliling beberapa warung sepanjang gang kampung ini.
"Ini." Andre memberikan sebuah keresek hitam. Senyum Sheila merekah. Ia ambil keresek itu. "Aku harap itu cukup."
"Ini apa?" tanya Sheila bingung setelah meraba isi keresek rasanya tak seperti bungkusan nasi goreng.
"Jahe satu kilo," jawab Andre. Wajahnya nampak bangga. "Kamu tadi bukannya minta itu."
Mata Sheila menyipit. "Kapan?" tanya Sheila bingung.
"Pas di pagar tadi." Andre mengingatkan.
Lagi-lagi Andre membunyikan gong di otak Sheila setelah kejadian mangga. "Makasih," ucap Sheila kesal lalu menutup pintu dengan kasar.
Di luar Andre bingung luar biasa. Ia sampai mengusap tengkuknya. "Apa jahenya masih kurang ya? Atau karena jahenya gak bermerk?" Akhirnya ia lebih memilih untuk pulang ke kosan.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.