Masuk"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Ia harus lumayan lama menunggu hingga pesanannya siap. Cireng masa kini memang digoreng secara dadakan dan disajikan secara hangat. Biasanya disajikan dengan bumbu balado, keju hingga cabe kering yang lumayan pedas di mulut. Namun, masih lebih pedas mulut tetangga julid.
Sheila tersenyum senang. Wajahnya seperti dikerubungi peri-peri dari dunia halu yang menaburkan beribu bunga. "Makasih, Oom. Padahal aku bercanda loh waktu bilang mau cireng," timpal gadis itu. Matanya berbinar dan tubuhnya bergerak-gerak manja tanda rasa senang.
Andre mendengus. "Mana ada bercanda minta cireng sambil melotot, itu mah ngancam!" protes Andre. Ia berdiri bersandar pada tiang listrik. Tangannya membetulkan bagian lengan kemeja takut kena minyak gorengan. Bulan di atas sana terlihat indah di pandang. Suara pengamen memetik gitar dan bernyanyi begitu merdu. Ia meminta pemberian ikhlas dari pengunjung tempat itu. Hanya Andre dan Sheila yang dikecualikan, tak tahu kenapa.
Sheila mengangguk saja. Ia tak peduli Andre ingin protes apa, cireng lebih penting meski di perut sudah ada nasi dan roti. Kadang kalau kalap, ia bisa makan cireng dengan nasi habis itu ngemil kentang goreng.
"Mulut kamu itu mungil kayak lubang botol, tapi segala macam makanan dan ghibahan muat, ya?" ledek Andre. Sheila bahkan mampu melahap satu cireng dalam sekali telan selayaknya menyeruput mie.
Sheila mengangguk. Sambil mengigit cireng yang sudah mulai keras karena membeli terlalu malam, ia menimpali ucapan Andre. "Kejaiban Tuhan mana yang kau dustai, Oom." Tawanya membahana melihat Andre bergidik geli. Rok Sheila bergerak-gerak tertiup angin. Meski sudah malam, tubuhnya masih tercium wangi.
Andre geleng-geleng kepala. Mendengar percakapan mereka, orang-orang yang lewat di sekitar alun-alun Bandung bergidik. Mereka mengira Sheila itu simpanan dan Oom pemiliknya. Mana bukan sekali dua kali Sheila memanggil Andre dengan sebut Oom. Suaranya juga cukup lantang untuk memancing keributan.
Sejak tadi ia menahan ingin membahas sesuatu dengan Sheila. Namun, gadis itu seakan memberikan hastag 'Jangan diajak mikir, sedang lapar' di jidatnya. Terlihat sejak tadi diajak ngobrol tak pernah nyambung. Sekalinya nyambung malah seputar obrolan level kacang gosong, garing luar dalam.
Menunggu beberapa menit, kantong kertas di tangan Sheila sudah remuk diremas lalu terbuang ke tempat sampah seperti cinta yang ditubruk pelakor. Cirengnya sudah habis Sheila giling di mulut dan masuk lancar ke dalam perut. Andre berdeham, ia ingin mulai bicara serius.
"Shei, aku mau tanya boleh?" Suara dibuat macho untuk branding di langkah pertama. Sheila mengangguk. Kakinya bergerak ke depan dan belakang akibat tak menapak ke trotoar. Gadis itu masih duduk manis di kursi taman.
"Kamu ikutan acara tadi siang buat nyari calon suami?" tanya Andre memastikan.
"Iyalah, Oom. Kalau mau nyari semen ada di matrial. Aku mau nikah, Oom. Sudah lelah menghadapi mamah makin lama. Sheila sadar di sana cuman nyusahin. Lebih baik nikah dan pergi," timpal Sheila.
Andre mengangguk-angguk. Sesuai dengan apa yang ia tebak, Sheila pasti ingin lari dari kenyatan hidupnya, seperti apa yang ingin Andre lakukan.
"Aku juga sama. Gak betah di rumah. Biasa aku nurut ucapan Papah. Sejak ia balik lagi sama Mamah, hilang sudah rasa hormat. Tinggal rasa kecewa," ungkap Andre.
Sheila mengedip-ngedipkan kedua matanya. "Oom Andre loh enak, punya restoran. Kerja kantoran pula, mikirin apa. Sheila yakin, urusan bersih-bersih pasti ada pembantu, masak tinggal makan di restoran. Kurang apa?" protes Sheila.
Andre menggeleng. "Justru selama aku masih hidup sendiri, pasti dipaksa pulang. Itu yang aku gak mau, Shei. Pulang ke rumah serasa beban. Gimana rasanya lihat wanita yang dulu pergi dengan pria lain saat kamu masih balita? Bahkan sampai sekarang, aku masih inget waktu dia selingkuh depan mata. Pantas apa seorang ibu begitu di depan anak umur tiga tahun?" cerita Andre sambil menunduk melihat sepatunya.
Sheila membuka mulutnya lebar-lebar. "Ya ampun! Oom Andre dari umur tiga tahun sudah lihat tindakan asusila?"
Jelas tangan Andre langsung menoyor jidat Sheila. "Gak sampe segitunya juga! Dulu mana ngerti kenapa lihat mamahku sering diam di kamar lama-lama sama oom itu. Makin dewasa makin tahu," jelas Andre. Sheila mengangguk. "Makanya otak jangan dimasukin mulu novel lapak oren!"
Sheila mencubit pinggang Andre. "Oom gak tahu gimana uwunya laki-laki di sana. Gak kayak laki-laki di dalam kenyataan yang cuman bisa kasih harapan, tapi tidak dengan kepastian," protes Sheila.
Andre tertawa sejadinya. "Itu bukan cowoknya gak kasih pengertian. Emang dari awal sudah gak cinta, kamunya ke geeran!"
"Iyalah, emang aku wanita yang tak pantas dicintai," keluh Sheila.
Andre menelan ludah. "Tak pantas dicintai pria lain, tapi pantas dicintai olehku saja," celetuknya. Setelah mengucapkan itu, Andre lekas menutup mulut dengan sebelah telapak tangan.
Sheila berpaling pada pria jangkung berwajah imut itu. "Oom Andre lagi nembak? Oke, aku terima," timpalnya.
Mata Andre terbelalak. "Kok cepet banget?" tanyanya bingung.
"Durasi, Oom. Nanti malah kena potong scene sama authornya," jawab Sheila. Andre mengangguk saja. "Lagian ngapain harus ribet segala sih, Oom? Toh kita juga bukan lagi maen film India, bukan juga dalam drama Korea."
"Buat kenang-kenangan. Orang itu kalau jadian diinget kata-kata manisnya pas ditembak. Suasana sampai berapa banyak geledek yang didengar saja inget."
Andre mendadak meninggalkan Sheila di sana. Tak tahu hendak pergi ke mana pria itu. Sheila sampai bengong sendiri. Orang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sheila ditinggal pas baru mulai, ironis.
"Dia ke mana, sih?" tanya Sheila. Ada mungkin setengah jam Andre tak kembali. Hanya satu pegangan Sheila, mobil Andre masih terparkir di seberang jalan. Alun-alun yang karpetnya tadi masih ramai dengan anak-anak bermain bola, mulai sepi.
Dari kejauhan terlihat Andre berlari. Ia dengan cekatan berhenti di depan Sheila. Di belakang punggung, tangannya menyembunyikan sesuatu. Sheila tersipu malu, ia membayangkan karangan bunga di sana. Kemudian angan-angannya jatuh terjun ke dalam lembah yang terjal ketika Andre memperlihatkan tiga buah mangga matang.
"Shei, maukah kamu jadi pacar aku?" tanya Andre sambil memberikan mangga itu. Sheila hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengangguk. Ia menunjuk mangga yang Andre berikan dengan tatapan heran. "Ouh ini, biar romantis," jelasnya.
"Romantis gimana?" tanya Sheila bingung.
Andre tersenyum dengan lengkungan layaknya bulan sabit. "Karena tiga buah mangga yang mempertemukan kita berdua," jawabnya.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.