Jodoh 50 Ribu (Indonesia)

Jodoh 50 Ribu (Indonesia)

last updateLast Updated : 2020-11-13
By:  Elara murakoOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
0 ratings. 0 reviews
13Chapters
82views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Setelah ayahnya meninggal, Sheila harus kembali hidup dengan ibu dan saudara tirinya. Ia dipaksa bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya juga melakukan pekerjaan rumah. Akhirnya Sheila memutuskan untuk menikah selepas ia lulus sekolah. Andre tidak ingin tinggal serumah dengan ibu yang pernah meninggalkannya demi laki-laki lain. Ia memilih hidup di rumah sewa. Hingga Ayahnya terus meminta ia pulang, Andre tahu jalan satu-satunya adalah dengan menikah. Sheila dan Andre menggunakan jasa komunitas pencari jodoh di instagram. Syaratnya dengan membayar lima puluh ribu rupiah agar bisa menikah secepatnya. Begitu dipertemukan mereka kaget, Andre adalah mantan pacar dari sahabat Sheila sementara bagi Andre, Sheila anak ingusan yang pantasnya menjadi adik. Apakah mereka bisa hidup bersama sebagai suami dan istri?

View More

Chapter 1

Peristiwa Hari Itu

"Ya ampun!" pekik Sheila mendengar suara begitu keras seperti triplek yang terpotong. Sambil membawa sapu lidi, Sheila yang sedang menyapu halaman depan rumah siang itu kontan pergi ke belakang rumah.

Mata Sheila terbelalak melihat seorang pria tengah berpegangan pada pagar sambil mengusap-usap pantat. "Siapa kamu!" bentak Sheila pada pria yang mengenakan kaos merah dan masuk ke dalam halaman rumahnya tanpa izin.

Pria itu berbalik seakan menciptakan angin yang meniup pelan rambut Sheila dan memberi efek slow motion. "Eh ampun, ganteng sekali!" batin Sheila. Sapu lidi di tangannya sampai terjatuh melihat pria dengan rahang tegas dan mata belo itu. Hidungnya seperti Gunung Jaya Wijaya dan kulitnya mulus seperti porselen yang baru disiram pembersih keramik.

"Maaf, Teh (kakak)! Jatuh tadi," ucap pria itu sambil nyengir kuda seolah pamer jika giginya tercipta atas bantuan pasta gigi pemutih gigi. Senyum yang lekukannya membawa Sheila meluncur hingga angan-angannya terbang ke udara. Pangeran dari mana? Ia tiba-tiba muncul dan membuat bening pemandangan.

Namun, mata Sheila fokus pada apa yang ada di tangan pria itu. Tiga buah mangga muda masih terjuntai indah bersatu padu dengan hiasan daunnya yang menempel pada ranting. Ia yakin mangga itu berasal dari pohon milik ibunya. Karena hanya mangga di rumah ini yang berbuah lebat lebih dulu. 

Sheila mendengus. "Ganteng-ganteng malah jadi pencuri mangga!" teriak Sheila. Ia mengambil sapu lidi di tangan kemudian berlari menghampiri si pria.

Orang tampan itu lekas berbalik. Ia berusaha memanjat pagar tanpa ingin kehilangan mangga hasil jerih payahnya. Sheila beringas, ia pukuli maling berwajah mirip Shawn Mendez itu dengan lidi. Terdengar suara mengaduh pria tersebut, tapi yang bersangkutan tidak ingin mengembalikan mangga pada si empunya rumah. Ia masih memperjuangkan apa yang telah ia raih.

"Dasar maling! Malingnya pinjam muka orang lagi! Emang kalau pijam muka ganteng otomatis sukses jadi maling?" Sheila masih memukulinya tanpa ampun. Ia kesal karena hatinya yang sudah melambung terjun ke tanah tanpa alas hanya karena sakit hati melihat orang tampan berperilaku jelek. "Lebih baik jelek, tapi tahu diri!" bentak Sheila lagi.

Akhirnya setelah perjuangan empat lima memanjat pagar tembok dua meter, si maling tampan berhasil melompat ke luar. Sheila murka tak bisa mengambil haknya yang ada di tangan pria itu. Lekas ia lari ke gerbang rumah dan mengejar ke arah si maling kabur. Ia tak peduli meski kemungkinannya kecil untuk mengimbangi kecepatan maling itu.

"Maling!" teriak Sheila membahana hingga orang-orang yang nangkring di jalan sempit langsung keluar menghampirinya.

"Ada apa Neng Sheila?" tanya pria pemilik warung kelontong. Pria itu sudah siap memegang golok. Tak lama pria lain langsung datang, ikut dalam suasana. Ada yang membawa sapu, hingga mencabut bambu pagar kebun orang lain.

"Maling, Pak! Ya Allah, dia berusaha melet saya pakai ajian wajah ganteng!" jawab Sheila. Ia yakin membiarkan maling itu kabur karena sudah terkena guna-guna.

"Kemana malingnya pergi?" tukang ojek yang kebetulan lewat ikut berpastisipasi. Lumayan buat bahan tinju hari ini setelah sudah lama latihan meninju. Sheila menunjuk arah pesawahan. Kontan ia dan warga berlari ke arah di mana maling itu sempat hilang.

Sementara si tampan yang hobi ambil mangga tanpa izin masih mencari tempat persembunyian. Ia tidak mau mati konyol dipukul atau dibakar warga hanya karena tiga buah mangga. "Tahu begini lebih baik aku maling istri orang, lah!" batinnya. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat karena terlalu cepat berlari. Dadanya naik turun dan napasnya kembang kempis.

Ia masuk saluran irigasi dan berjalan mengikuti arus air. Dalam keadaan ini, tubuhnya tak terlihat karena tingginya tembok saluran. Ada mungkin dua meter, lebih tinggi dari tubuhnya yang 184 senti meter. Sungguh ia malu dengan dirinya sendiri. Merasa seperti model, ia malah harus berpetualang di selokan.

"Padahal niatnya cuman buat ngerujak romantis sama Si Lala. Malah abis kena pukulan anak tetangga. Mana pakai sapu lidi. Badanku sampai lebam semua," omelnya.

Hingga akhir saluran irigasi, ia kembali naik melewati pintu saluran dan turun ke peternakan bebek. Konyolnya masih ada barang bukti ia pertahankan di tangan, tiga buah mangga.

"Apaan ini becek-becek," pikirnya. Sandal jepit merk burung walet hijaunya sempat terlepas dan kakinya menginjak lumpur palsu berwarna hitam kelam. Lumpur palsu karena baik warna dan bau sama sekali bukan lumpur. "Ih, kotoran bebek!" pekik pria itu.

Karena kaget, ia kontan mencari papan atau kayu untuk mengelap kakinya. Sial, malah tak sengaja bertemu dengan si cantik galak dalam legenda, angsa.

"Ngok!" ucap si angsa dengan mata menyipit sudah siap menghantam si tampan dengan paruhnya. Pria itu tahu keganasan angsa putih yang konon bisa membuat manusia trauma tak ingin bertemu lagi. Begitu melegenda patukannya. Sebelumnya ia pernah jadi korban. Bahkan celana jeans tak kuat menahan kekuatan paruh angsa. Kali ini tak mau lagi ia rasakan.

Lekas pria itu berlari dikejar angsa yang mengeluarkan bunyi keras. Kisah ini semakin menyedihkan karena angsa itu membawa juga teman-temannya.

"Kenapa hidupku mendadak jadi begini," keluh pria itu. Ia sampai mengeluarkan air mata karena sedih dengan kisahnya hari ini. Padahal di kantor, ia begitu dihormati sebagai manager.

Bingung lari ke mana, pria itu kembali ke perkampungan. Ia lupa dengan si mangga juga kakak pemiliknya.

"Kamu!" Sheila hampir terjungkal saat di belokan bertemu langsung dengan si maling tampan.

"Teh (Kakak) , selamatin saya! Masih mau hidup saya!" pekik pria itu. Ia berlindung di belakang tubuh Sheila. Namun, wanita yang dijadikan tameng sama seramnya melihat segerombolan mafia angsa datang menyerang.

"Ayah!" teriak Sheila sambil berbalik dan berlari. Si tampan tak mau kalah, tak tahu refleks atau apa, ia pegang tangan Sheila sembari berlari bersama merajut harapan hidup.

Mereka berteriak bersama, lurus dan belok di jalan yang sama. Lebih dari itu, beberapa kali mata keduanya saling bertatapan.

Pak Pepen yang sedang berjoget pagi mendengar lagu "Kopi Dangdut" tanpa sengaja mereka tabrak hingga jatuh ke depan menghantam kasur Bu Saidah yang sedang dijemur akibat anaknya ngompol.

Kedua sejoli itu masih berlari berpegangan tangan. Hingga mereka tiba di kamar mandi umum dan masuk WC yang sama. Si pria menutup pintu dan mendekap mulut Sheila. Keduanya berhadapan dengan mata yang saling berpandangan. Debaran jantung terasa hingga getarannya menjalar dari otak hingga ke ujung kaki.

Tak ada yang tahu jalan jodoh seseorang. Bisa saja itu dimulai dengan mangga, dihidupkan kawanan angsa dan bersemi di WC umum.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status