Share

Ayam Goreng

Penulis: Elara murako
last update Tanggal publikasi: 2020-11-13 19:38:53

Dina sudah menunggu di depan pintu ketika Sheila tiba di depan rumah. Wanita itu melipat tangan di depan dada. Sheila tahu itu pertanda buruk karena tanggal ini waktunya ia gajian. Dina pasti akan meminta seluruh uang Sheila.

"Kenapa baru balik?" tanya Dina ketus seperti biasanya. Tubuh Sheila bergetar. Ia langsung membuka tas dan memberikan amplop coklat berisi uang pada ibunya.

Wajah Dina terlihat senang. Dengan kasar ia langsung merebut amplop itu dari tangan Sheila. Tak mau menunggu lama, Dina langsung menyobek amplop coklat itu dan menghitung uang dalam amplop. "Kok kurang?" tegur Dina.

Sheila menunduk. "Sheila tabungin buat bayar kuliah nanti. Kata Ayah Sheila harus kuliah."

Dina merebut tas Sheila. Dengan susah payah Sheila mempertahankan tasnya. Ada ATM di dalam dompet, isinya uang tabungan kuliah. "Mah, itu uang hasil kerja Sheila. Apa gak boleh Sheila ambil sebagian? Lagipula kalau Sheila kuliah, mamah juga yang bangga."

Pipi Sheila perih ketika tangan Dina menampar dengan keras pipinya. "Anak kurang a jar! Beraninya kamu melawan!" Gadis itu mengusap pipinya yang kesakitan akibat tamparan ibunya. Lebih dari itu, hati Sheila jauh lebih sakit. "Sudah aku tampung di rumah ini masih berani melawan!"

Kadang kesabaran orang itu ada batasnya. "Mah, apa bedanya Sheila sama Kak Dandi dan Karina? Sheila juga anak kandung mamah. Mamah yang lahirin Sheila. Kenapa cuman Sheila yang dapat perlakuan begini?"

Bukannya mendapat jawaban, Dina malah masuk ke dalam rumah membawa satu baskom air dan menyiramnya ke tubuh Sheila. Bagian lebih parah, Dina sampai melempar baskom ke tubuh Sheila hingga gadis itu berteriak kesakitan.

"Makin gede makin gila saja kamu! Gak tahu diuntung! Kalau mau hitung-hitungan, sini bayar biaya sewa rahim dan nahan sakit ngelahirin kamu!" Dina menggunakan gagang sapu injuk untuk memukul Sheila. Gadis itu meratap meminta ampun, tapi Dina terus saja memukulinya.

"Bu, sudah! Kasihan dia!" Andrea yang sedari tadi melihat perilaku itu baru berani menghentikannya. Awalnya Andre merasa tak enak sudah ikut campur. Namun, kelaman ia merasa itu sudah keterlaluan.

"Siapa kamu? Berani ikut campur masalah keluarga saya?" Dina menunjuk-nunjuk gagang sapu di depan wajah Andre. Jujur Andre sendiri ketakutan melihat gagang itu ada di depan wajahnya.

"Ini jadi masalah masyarakat kalau Ibu sudah pakai kekerasan. Saya bisa laporin ke polisi, lho!" ancam Andre.

"Jangan sok-sok bawa-bawa polisi. Kerjaan polisi banyak, buat apa ngurusin anak gak berguna itu?"

"Gak berguna, tapi Ibu bawa juga uangnya, kan?" Pertanyaan Andre membuat Dina terdiam sejenak. Andre langsung menarik Sheila dan menyampirkan jasnya ke bahu gadis malang itu. Sheila menggigil kedinginan. Sempat Andre melihat luka memar di lengan Sheila.

"Sana saja bawa anak itu! Bikin sial saja ada di sini juga!" Dina berbalik dan langsung masuk ke dalam rumah. Beberapa warga yang masih di luar malam itu hanya melihat dari kejauhan. Mereka tak satu pun yang menghentikan Dina memukuli Sheila. Bukannya tak berani, hanya kasihan karena nantinya Sheila dipukuli semakin parah.

"Sheila berbalik. Ia berjalan ke luar pagar rumah. "Mau ke mana kamu?" tanya Andre.

Sheila menggeleng. "Gak tahu. Gak ada satu pun saudara yang mau nampung aku. Mungkin di jalan," jawab Sheila.

Andre kasihan pada gadis itu. Ia menarik tangan Sheila. "Tidur saja di kosanku."

Sheila menatap Andre bingung. "Nanti warga marah," tolak Sheila.

"Jangan salah paham, Buk! Kamu tidur di kamar kosanku, aku bisa tidur di kamar teman. Lagian juga gak bikin nafsu. Terlalu lurus," celetuk Andre.

"Oom bilang apa tadi?" tegur Sheila.

"Lurus kayak papan perosotan." Andrea mengucapkannya begitu lantang seperti mengucap ikrar. Sheila mencubit perut Andre dengan kuat hingga Andre meringis kesakitan. "Udah ditolong masih saja galak!"

"Habis Oom Andre gak sopan. Seenak jidat ngomentari badan aku. Ini karena belum berkembang!"

Keduanya berjalan keluar gang. Andre membawa Sheila ke rumah pemilik kos untuk meminta izin. Syukur ibu kos dengan baik hati mengizinkan. Terlebih ia tahu bagaimana sikap Dina pada Sheila.

***

Kamar Andre begitu rapi. Sheila sampai malu pada diri sendiri. Lebih dari itu, Andre punya banyak sekali skin care berbagai merk terkenal dan mahal. Di kamarnya juga banyak barang mewah, laptop hingga beberapa ponsel apel.

"Oom Andre itu kerja apa, sih?" Anak kosan, tapi barangnya mahal-mahal.

Selesai mandi, Andre langsung pindah ke kamar temannya di sebelah. Ia menitipkan kunci kamar kosan pada Sheila. Kini hanya tinggal Sheila sendiri yang terus bertanya-tanya. Ia berbaring di tempat tidur Andre yang empuk. "Kalau dipikir-pikir, cuman Oom Andre yang punya mobil di kosan ini. Apa jangan-jangan dia gembong narkoba? Ah, apapun juga, ia sudah baik pada Sheila."

Lucunya di kamar Andre ada boneka beruang. "Masa dia mainan kayak gini?" pikir Sheila geli. Langit-langit kamar kosan itu juga terlihat bersih. Suasana terasa nyaman dan sepi.

"Kalau sudah dapat pekerjaan tetap nanti, Sheila mau ngekos saja kayak gini. Pasti enak, uangnya bisa Sheila tabung buat kuliah. Dikasih sama mamah malah habis semua dipakai senang-senang Kak Dandi sama Karina."

Sempat gadis itu memiringkan tubuhnya. Ia melihat foto Andre dan Lala yang nampak serasi. "Mereka sama-sama tampan dan cantik. Mudah-mudahan saja sampai ke pelaminan," doa Sheila.

Perut Sheila berbunyi minta diisi. Karena beres-beres toko, ia lupa belum makan. "Apa nyari makan dulu, ya? Kebetulan masih ada tukang ayam goreng yang buka."

Sheila bangkit. Ia yang memakai kaos merah dan celana panjang milik Andre harus melipat celana hingga lutut karena terlalu panjang.

Gadis itu berjalan ke luar kamar dan menguncinya takut ada orang yang masuk. "Sepertinya Oom Andre sudah tidur." Kamar di sampingnya terlihat tenang tanda penghuni kosan sudah tertidur.

Kaki Sheila berjalan ke luar gerbang kosan. Ada tukang ayam goreng yang mangkal dengan tenda dan biasanya baru tutup sekitar pukul dua malam. Untungnya Sheila masih menyimpan uang yang terselip di buku catatannya. Uang dua puluh ribu mudah-mudahan cukup untuk membeli ayam dan nasi juga sambal dan lalapan. Sheila kenal dengan pemilik warung tenda itu karena tinggal di kampung yang sama, hanya berbeda RT.

"Mang Saef, mau ayam gorengnya satu. Tapi Sheila Cuma punya dua puluh ribu, cukup?" tanya Sheila takut harganya lebih mahal dari uang di tangan.

Mang Saef tertawa. "Ayam goreng sama nasi? Masih kembalian lima ribu, Neng," jawab Mang Saef. Senang Sheila mendengarnya. Soal minum, Andre menunjukkan di kulkasnya banyak botol air mineral.

"Aku mau, Mang."

Sambil menunggu Mang Saef menggoreng ayam pesanannya, Sheila duduk kursi pelanggan. Meski jalan sudah sepi, masih saja ada kendaraan yang berhenti dan memesan ayam goreng.

Angin terasa begitu dingin menyentuh kulit. Sheila berdoa mudah-mudah tak ada anggota keluarganya yang datang ke tenda itu dan menemukannya di sana.

Sempat Sheila melirik ke arah jalan. Ada sedan putih yang berhenti di pinggir jalan tak jauh dari Sheila. Pintu sedan itu terbuka dan ia melihat seorang pria dan wanita turun dari sana. Sheila mengenali wanita itu, Lala. Namun, pemandangan setelah itu benar-benar mengganggu. Sheila melihat Lala berciuman dengan pria yang keluar dengannya dari sedan putih itu.

"Itu bukan Oom Andre," pikir Sheila.

"Bilangin sama Bu Suratmi, Neng. Si Lala sering pulang malam sama laki-laki itu. Apa gak khawatir? Mana gak ada bapaknya dia," nasehat Mang Saef.

Sheila hanya mengangguk. Laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Lala melambai dari luar kemudian ia berbalik. Sheila buru-buru menunduk untuk menyembunyikan diri. Ia takut sikap Lala akan berubah padanya jika sampai Lala tahu.

"Ini, Neng." Mang Saef memberikan keresek berisi pesanan Sheila. Lekas Sheila membayar. Namun, ketika Sheila memeriksa keresek itu, ia melihat ada dua bungkusan. "Lha, Sheila cuman pesen satu, Mang."

"Pasti itu disuruh beli sama Bu Dina, kan? Biar satunya buat Neng saja," jelas Mang Saef. Sheila menatap sedih ayam goreng di tangannya. Sayang bukan ibu kandungnya yang sebaik ini. "Makasih Mang Saef," ucap Sheila. Mang Saef mengangguk. Lekas Sheila kembali ke kosan Andre. 

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Saranghae

    "Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Nyatakan Cinta

    "Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Perkara Lapar

    Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Jodoh 50 ribuku

    Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Korban Iklan

    "Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Komplikasi

    "Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status