LOGIN"Shei!" Andre mengetuk pintu kamarnya ketika pagi menjelang. Sheila yang sudah mandi dan berganti pakaian langsung membuka pintu. Ia melihat wajah sumringah Andre begitu pintu kosan itu dibuka.
"Sudah sholat subuh?" tanya Andre. Sheila mengangguk.
"Ini jam tujuh masa masih nanyain sholat subuh." Sheila menengok keresek di tangan Andre.
"Nih, makan!" Andre memberikan keresek di tangannya. Sheila tentu menerima dengan senang hati. Isi perutnya sudah keluar di kloset tadi pagi, sekarang sudah kosong lagi.
"Apa ini Oom?"
"Kupat tahu Singaparna. Karena aku gak suka pecel, jadi beli ini saja." Andre masuk ke kosan. Ia mengambil dua piring dan dua sendok kemudian duduk di karpet. "Ayok makan bareng, temenku lagi rajin, abis sholat langsung ke kantor. Katanya siapa tahu dapat hidayah berupa uang bonus."
"Dikasih bonus?"
Andre menggeleng. "Karena itu ulama bilang jangan berharap pada manusia, tapi pada Allah. Apalagi berharap sama bos."
Sheila duduk di depan Andre. Ia keluarkan dua bungkusan kupat tahu dan ia pindahkan ke piring. "Oom, baik banget sama Sheila."
Dengan santai, Andre menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri. "Terpaksa. Kalau bukan karena dosa dan Lala, aku juga gak mau."
Sheila mendengus. Pria tampan di depannya jika saja lebih pendiam dan ketus sedikit serta tidak kepo, akan sempurna seperti di drama Korea. Sayang lebaynya sebelas dua belas sama cireng, segala macam dijadiin isi.
Sheila mendadak teringat tentang kejadian tadi malam. Bayangan Lala sedang mencium pria yang mengantarnya dengan sedan putih mengusik pikiran Sheila. Ia menatap Andre, kasihan pria ini.
"Tadi malam Oom sudah tidur?" tanya Sheila membuka topik diantara mereka.
Andre mengambil kerupuk dan ia masukan ke dalam mulut hingga terdengar suara kriuk. "Jam berapa?"
"Sekitar jam sebelasan."
Dengan tegas Andre mengangguk. "Abis datang ke kosan Si Sunny, aku langsung mandi dan tidur. Capek!"
Sheila hanya ber-oh. Ia lanjutkan kegiatan makannya meski selera makan hilang karena merasa tak enak pada Andre. Kasihan pria itu diselingkuhi.
"Shei, menurut kamu, aku sama Lala itu cocok gak?" tanya Andre. Sheila nyengir kuda. Ia bingung mau menjawab apa setelah kejadian semalam. "Rencananya aku mau lamar dia dalam waktu dekat. Malas aku pacaran lama-lama. Nanti kalau khilaf bahaya."
"Kapan?" tanya Sheila penasaran.
Andre nampak berpikir. "Bagaimana kalau bulan depan? Aku kumpul-kumpul uang dulu. Kamu mau bantu cariin cincin buat ngelamarnya, ya?
"Lha, kok Sheila?" Meski tak gatal, Sheila menggaruk pelipisnya.
"Kamu paling dekat sama Lala. Pasti tahu seleranya gimana." Segelas teh hangat habis Andre teguk. "Tapi jangan bilang-bilang dia dulu. Ini rahasia kita berdua. Lagipula aku juga belum bilang sama ortu. Takutnya mereka gak semudah itu memberi izin pasti."
Sheila mengangguk. Ia benar tak bisa berkata apapun lagi. Gadis itu memainkan sendoknya di atas piring. Sementara Andre yang tak merasa curiga melihat kanan dan kiri kamarnya takut Sheila membuat berantakan semua. Mata Andre tertarik akan sesuatu. Ada keresek di sisi lemari belum dimasukan ke dalam tempat sampah.
"Ini apa?" tanya Andre sambil membuka ikatan keresek dan membukanya. Jelas ada dua kertas nasi sudah diremas menjadi bola di dalam.
"Ayam goreng," jawab Sheila lalu menyuap satu sendok kupat tahu ke mulutnya.
"Punya siapa?"
"Akulah, masa ada orang lain semalam di sini."
"Kok ada dua bungkus?"
"Itu, satu lagi aku beli dan yang satu dikasih Mang Saef karena nyangkanya aku beli ayam buat mamah," jelas Sheila.
Andre manyun. Tak ia sangka perut gadis di depannya sama saja seperti bak air. "Kamu makan semuanya dan gak inget sama yang punya kamar?" protes Andre.
Sheila nyengir kuda. "Aku inget, kok!"
"Tapi?" Mata Andre sorotnya tajam ke arah Sheila.
"Aku liat kamar sebelah lampunya mati. Jadi aku pikir Oom Andre sudah tidur. Maaf ya, nanti Sheila ganti deh pake kupat tahu." Sengaja Sheila mengeluarkan wajah manisnya agar Andre tidak marah.
Sementara Andre merasa ada yang janggal dari ucapan Sheila. "Kok kupat tahu? Kan yang dimakan ayam goreng?"
"Oom Andre cuman ngasih sarapan kupat tahu, bukan ayam goreng," timpal Sheila.
***
Pagi sekali Sheila sudah dandan rapi dengan kebaya. Ia disusul ibunya kemarin dan diminta pulang. Alasan saja karena jika Sheila pergi, tak ada yang memberinya uang tambahan bulanan.
"Kenapa kamu?" tegur Dandi ketika melihat Sheila keluar dari kamar yang berada di dekat dapur.
"Ke nikahan teman, Kak." Sheila masih merapi-rapi rok batiknya. Pakaian ini ia dapat dengan sistem pinjam dari Lala. Sheila tak punya pakaian bagus untuk sekedar ke pesta. Semua uangnya habis dibawa Dina sementara Sheila hanya dapat sedikit sekedar untuk jajan di kaki lima.
"Bukannya teman kamu masih SMA? Kok nikah?" Kekepoan Dandi seperti biasanya keluar.
"Mana Sheila tahu, Kak. Sheila cuman diundang datang bukan diundang buat ghibah."
Setelah pembicaraan singkat itu, Sheila pergi menuju acara. Ia sekolah di SMA yang lumayan elit di kota Bandung. Biaya SPPnya mahal. Namun, karena Ayahnya dekat dengan pemilik sekolah, Sheila dibebaskan SPP setelah Ayahnya meninggal.
Sementara rumah teman yang hari ini menikah berada di komplek yang sama dengan sekolah. Sheila berjalan tidak pakai ojek. Dia tak berdandan menggunakan make up, jadi tak masalah jika berkeringat. Tinggal semprot saja badan dengan cologne kalau takut bau asam.
Janur kuning yang dinanti-nanti Sheila akhirnya terlihat. Nenti, teman satu kelas Sheila itu akhirnya menikah dengan pacarnya yang juga sekolah di SMA yang sama hanya beda kelas.
Sheila masuk ke dalam rumah. Ia juga bingung kenapa pernikahan itu dirayakan hanya di rumah. Padahal keluarga Nenti cukup kaya untuk merayakan di gedung.
Tiba di depan penyambut tamu, Sheila tuliskan namanya juga menitipkan kado. Terdengar suara musik dangdut dari halaman rumah. Mendengar suara kendangnya, jantung Sheila berdebar tak karuan. Entah kenapa, ia tak tahan mendengar suara musik dengan hentakkan keras seperti itu.
"Sheila," sapa Ibu Nenti ketika Sheila naik ke panggung pelaminan. Gadis itu menyalami ayah dan ibu Nenti sebelum menyapa pengantin.
"Kamu sehat, Shei?" tanya Ayah Nenti begitu sadar Sheila datang. Karena dekat dengan Nenti, Sheila sudah mereka anggap seperti anak sendiri.
"Baik, Pak. Kalian apa kabar. Sudah lama Sheila gak ke rumah," timpal Sheila. Ia melengkungkan bibir.
"Baik juga, Shei. Gimana kabar ibumu?" tanya Ibu Nenti.
"Baik, Bu. Masih sibuk kerja di pabrik kerupuk Mamah. Kalau ayah tiri Sheila masih kerja bangunan di luar kota."
Selesai pamitan dengan orang tua Nenti, Sheila menyalami Nenti yang cantik mengenakan kebaya berwarna pink. Ia nampak gemukan. "Selamat, Ti. Sudah main ninggalin saja kamu," protes Sheila.
Nenti terkekeh. Ia peluk Sheila erat-erat. "Kamu gak mau nyusul?" ajak Nenti.
Sheila bergidik. Masih panjang perjalanannya untuk sukses. Kenapa juga harus cepat menikah. "Baru juga delapan belas tahun. Kemarin baru dapat KTP. Sudah disuruh nikah saja!"
Giliran Melki, pengantin pria yang Sheila salami. "Jagain Nenti, loh! Awas kalau disakitin, santet onlen!"
"Galak amat ini ibu lurah!" ledek Melki sambil mencubit lengan Sheila.
Selesai sudah acara salam-salaman. Sekarang giliran Sheila mencari makanan enak. Lekas ia ambil piring di meja hidangan dan mengisinya dengan dua centong nasi. Suwir ayam, kakap asam manis, sapi bistik hingga rujak cuka ia jabani. Piring Sheila sampai memuncak seperti Gunung Papandayan.
"Sheila!" panggil seseorang ketika Sheila hendak mencari tempat makan. Sheila mencari sumber suara dan menemukan seorang wanita di sana. Ia kenal, itu Novita.
"Vi!" Sheila balas menyapa. Ia duduk di dekat Novita yang hari itu datang dengan Ermi. "Berdua saja kalian?" tanya Sheila.
"Sama siapa lagi. Kita jomlo, Neng! Kamu sendiri sama siapa?" Novita balas bertanya.
"Jomlo ini lebih ngenes, datang sendirian," timpal Sheila. Ia menarik kursi lain yang kosong tempat ia menyimpan piring dan akua gelas.
"Shei, kamu dekat sama Nenti, kan?" tanya Ermi. Sheila mengangguk. "Kamu tahu Ermi nikah karena gitu duluan?"
Sheila menggaruk keningnya. "Gitu gimana?"
Ermi mengusap perutnya. Sheila yang polosnya kagok langsung menutup mulut. "Beneran?"
Novita mengangguk. "Pantas saja pestanya gak terlalu meriah. Terus keluarga Nenti sama Melki kelihatan gak senang gitu." Sheila bisa melihat kedua orangtua Melki dan Nenti bahkan saling duduk membelakangi. Mereka pasti menyimpan harapan begitu tinggi pada keduanya.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.