LOGINNenti memeluk ibu juga ayahnya. Tangis pecah ketika koper-koper berisi pakaian Nenti dimasukan ke dalam mobil keluarga Melki. Orangtua mana yang terima ditinggal anak dalam waktu sesingkat ini.
Sheila melihat dari teras bersama Novita dan Ermi. Ibu Nenti sampai berkali-kali memeluk dan mencium anaknya. "Naha beut kieu atuh? (Kenapa malah gini?)" Jelas sekali keluh tersirat di wajah wanita yang usianya sudah mulai sore itu.
"Kalau nanti aku nikah, apa Mamah akan sedih juga kehilanganku?" tanya Sheila dalam hati, meski ia sendiri tahu apa jawabannya.
Nenti sempat melihat ke arah Sheila. Ia melambai sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Kedua orang tua Nenti masih di sana hingga mesin mobil menyala dan meninggalkan bagian depan rumah.
"Sedih banget, ya? Orang tua besarin kita susah-susah dari kecil akhirnya malah dibawa pergi sana anak orang," komentar Ermi.
"Emang harus ya ikut sama suami? Gak bisa gitu milih sama orang tua?" Novita menimpali.
"Kalau suaminya gak mampu memberi rumah, ya ... paling bisa. Hanya kalau suami mampu kenapa gak tinggal sama dia. Dengan begitu jadi mandiri. Kata orangtuaku, lebih baik ngontrak daripada masih bergantung ketika menikah," nasehat Ermi tak seperti biasanya.
Orangtua Nenti berjalan ke arah pintu masuk. Sheila langsung berpamitan karena sudah terlalu sore. Ia berjalan bersama Ermi dan Novita menuju gerbang komplek untuk naik angkot. Padahal rumah ke dua wanita itu ada di dalam komplek ini.
"Jadi pengen nikah deh aku, lumayan bebas dari omelan emak tiap hari. Gak usah susah-susah ujian masuk kuliah. Tinggal nerima duit suami." Novita membayangkan kehidupan rumah tangga yang sempurna.
"Kalo suami kamu bener, kalau gak? Berapa banyak istri di sono yang gak dibiayain, disiksa terus diselingkuhin. Gak semua yang namanya nikah enak."
Sheila satu-satunya yang tidak ikut berkomentar. Ia cukup senang mendengar kedua temannya berdebat.
"Kira-kira Nenti gimana nikahnya nanti, ya? Nikah karena hamil duluan sama saja kayak dipaksa, kan?" Lagi-lagi obrolan mereka bersambung pada hal ini meski tahu Sheila tak suka membahas keburukan sahabatnya.
"Semoga saja baik. Kita gak tahu, kan."
Dibelokan, Novita dan Ermi membeli cilor. Sedang Sheila hanya melihat meski ia ingin juga. Tak ada sepeser pun uang yang tersisa untuk jajan. Hanya ada untuk membayar angkot saja. Masa ia harus jalan hanya karena satu plastik cilor.
"Sheil, beli gak?" tanya Ermi. Sheila hanya menggeleng. Ia menggosok-gosokan sepatu ke jalan aspal.
"Duit kamu pasti dibawa mamah kamu lagi, ya?" tebak Novita. Kelakuan Dina yang seperti preman pasar itu sering ia perlihatkan di depan teman Sheila yang lainnya juga. Tentu mereka tahu alasan kenapa Sheila tak pernah jajan di sekolah.
"Sini aku beliin." Novita memberi Sheila satu plastik cilor dengan bumbu saus cair. Wajah Sheila nampak senang. Ia menerima itu dengan senyuman tersirat di bibir merah mudanya.
Ketiga gadis itu melanjutkan perjalanan. "Kamu jangan mau menderita begini terus, Shei. Apa gak ada niatan kabur dari rumah?"
Sheila yang sedang mengunyah cilornya kontan menggeleng. "Kerjaan aku gajinya juga gak seberapa. Gak cukup buat bayar kosan. Oom Andre bilang sebulan saja bayar kosan delapan ratus ribu."
"Oom Andre?" tanya kedua temannya penasaran dengan nama yang disebut Sheila.
"Iya, itu yang ngekos di depan rumah aku. Orangnya baik dan lebih tua dariku," jawab Sheila.
Ermi nampak berpikir. Ia mencoba mencari jalan agar Sheila biasa secepatnya keluar dari rumah itu. Hingga tersirat sebuah ide. "Kamu nikah saja, Shei!" celetuk Ermi.
Novita dan Sheila mengangkat sebelah alis mereka. "Kalau kamu nikah, kamu ikut sama suami. Beban hidup juga akan dia tanggung."
"Mama ada calonnya, Mi." Tangan Sheila menggaruk kepala.
"Emang Oom Andre itu gak mau nikahin kamu?" Novita menggoda Sheila sambil mencolek lengan gadis itu.
"Gak, dia pacarnya Kak Lala. Mana mungkin aku godain dia," timpal Sheila. Ia mengingat sifat-sifat Andre yang aneh lalu bergidik. "Gak ah, ogah! Geli!"
"Terus gimana? Kalau kamu gak ada calon, gimana mau nikah dan pergi dari rumah itu?" tanya Ermi.
Sheila menunduk. "Apa nikah satu-satunya jalan buat lari dari ibunya," batin Sheila.
***
Pikiran Sheila terganggu. Ia mulai gundah gulana. Gadis itu berjalan dengan langkah yang diseret. Apa iya menikah jalan yang paling tepat untuk keluar dari masalah ini?
Namun, menikah mungkin membuat keinginannya kuliah tak bisa jadi kenyataan. Ah, tidak menikah juga ibunya tidak akan membiarkan ia kuliah. Sheila pasti akan disuruh mencari pekerjaan dengan gaji lebih besar demi membiayai hidup keluarga ibunya.
Karena hatinya bimbang, Sheila memutuskan untuk membicarakannya dengan Lala. Ia tahu Lala akan dengan bijak menuntaskan masalah Sheila.
"Bu, Kak Lala ada, kan?" tanya Sheila pada Bu Suratmi. Saat itu pelanggan cukup banyak hingga Bu Suratmi sibuk mengulek bumbu lotek.
"Ada, Shei. Coba cari di kamar. Dari tadi gak keluar," jawab Bu Suratmi. Sheila mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.
"Kak Lala!" panggil Sheila sambil membuka sepatu jangkungnya. Ia masuk ke dalam dan berjalan ke kamar Lala yang ada di kanan rumah. Sheila membuka gordennya pelan-pelan takut Lala sedang tidur karena wanita itu tidak menjawab panggilan Sheila.
Ketika gorden tebuka, Sheila kaget melihat Lala terbaring di lantai. Lekas gadis itu menghampiri Lala dengan wajah penuh tanya. "Kak Lala!" panggil Sheila sambil sedikit mengguncang tubuh Lala, tapi tak ada jawaban. Mata Lala tertutup rapat dan tak sedikitpun tubuhnya bergerak.
Sheila mulai panik. Ia angkat kepala Lala ke pangkuannya. "Kak Lala, bangun donk!" panggil Sheila.
Lumayan lama ia mencoba membangunkam Lala dan tak berhasil, Sheila akhirnya memanggil Bu Suratmi dengan suara yang lantang.
"Kenapa, Shei?" panggil Bu Suratmi dengan wajah penuh tanya saat membuka gorden kamar Lala.
"Bu, Kak Lala pingsan," jawab Sheila. Tangannya gemetaran sambil memegang pipi Lala dan sesekali menepuknya.
"Ampun, Lala kenapa? Nak, bangun!" panggil Bu Suratmi khawatir. Ia mengguncangkan tubuh Lala dan perempuan itu masih terdiam.
"Bu, kita bawa ke rumah sakit saja, ya? Sheila biar panggil pak RT," saran Sheila. Bu Suratmi mengangguk saja. Asalkan putrinya baik-baik saja, ia akan berbuat apapun. Apalagi Lala keluarga ia satu-satunya.
Lekas Sheila membawa bantal untuk membaringkan kepala Lala. Kemudian gadis itu lari ke rumah Pak RT. Di luar ibu-ibu yang sedang membeli lotek bingung melihat Sheila lari kencang hingga salah memakai sandal jepit, satu biru dan satu lagi hijau.
Syukur rumah Pak RT tak jauh sampai ke hongkong. Sheila membuka pintu pagar rumah itu dan mengetuk pintunya. Lumayan lama hingga terdengar suara gagang pintu dibuka.
"Sheila?" tanya Bu RT melihat gadis itu di sana.
"Bu, Pak RT ada?" tanya Sheila. Ia tak bisa menyembunyikan wajah paniknya.
"Kenapa? Kamu disiksa mamah kamu lagi?"
Sheila menggeleng. "Bukan, bu. Itu loh, Kak Lala anak Bu Suratmi pingsan. Mau dibawa ke rumah sakit, tapi gak ada yang antar," jelas Sheila. Kakinya bergerak naik turun saking takutnya mengingat keadaan Lala.
"Pak RT masih kerja, Shei. Kita minta bantuan bapak-bapak ojek saja. Pasti mau bantu," saran Bu RT.
Keduanya lekas ke pangkalan ojeg. Di sana Bu RT meminta beberapa dari mereka mengangkat Lala. "Kamu antar bapak-bapak ojeg ke Bu Suratmi. Biar Ibu siapkan mobil."
Syukur Bu RT punya mobil sehingga mereka tak perlu menelpon ambulan. Sheila mengantar bapak-bapak itu ke rumah Bu Suratmi.
"Itu, pak!" tunjuk Sheila pada Lala yang masih menutup matanya.
"Tolong, Pak. Ini anak saya kenapa bisa begini?" Tangis Bu Suratmi kembali pecah.
"Iya bu, biar kami bawa Lala ke mobil ibu RT biar nanti bisa ke rumah sakit."
Lala langsung di angkat dua tukang ojek ke depan gang. Bu RT sudah menunggu di sana dengan mobilnya. Sheila ikut naik, tak peduli ibunya memanggil dari kejauhan. Ia lebih takut Lala kenapa-kenapa daripada dipukul ibunya lagi.
"Kak Lala, jangan sakit terlalu lama. Sheila kangen. Kak Lala harus sembuh, ya?" pinta Sheila. Ia menangis sampai pipinya basah.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.