LOGIN"Om Andre!" Terdengar suara Sheila yang cukup lantang memanggil, lekas Andrea berbalik untuk melihat ke sumber suara. Namun, begitu lehernya meliuk, ia mendapat tamparan keras di pipi hingga membuat kulitanya memerah.
"Apa-apa sih, Shei? Kamu waras? Baru datang tiba-tiba nampar?" protes Andre.
Napas Sheila naik turun tak karuan. Ia kesal, hingga urat-uratnya menegang dan pupil matanya terbuka lebar.
"Jadi laki-laki jangan banci deh Om! Bisanya berbuat tapi enggak bisa tanggung jawab! Lebih baik gak usah hidup saja di dunia, kalau cuman bisa nyampah!" Sheila mengeluarkan semua muntahan dalam jiwanya. Seumur-umur, baru kali ini dia melabrak pria semacam Andre.
Jidat Andre mengerut. Ia bingung karena sama sekali tak ada satu pun kesalahan yang dia perbuat, seingatnya. Tiba-tiba ada seorang perempuan mengatainya banci.
"Kamu jangan marah-marah dulu, jelasin inti masalahnya apa?" tanya Andre menahan emosinya. Kalau sama-sama emosi, masalah bukan selesai malah tambah rumit.
"Jangan pura-pura gak tahu, Om! Kesel deh, pengen lempar bakiak!" Sheila malah makin menjadi.
"Dasar perempuan, diajak ngobrol baik-baik malah ngegas. Apa semua wanita di dunia lahir dari motor matic?" protes Andre.
"Apa karena Om Andre mikir begitu makanya sembarangan nunggangin wanita?"
Andre menggaruk kepalanya. "Nunggangin gimana?" tanya Andre bingung.
"Sering begitu pake pura-pura polos. Oom Andre bukan bubur, ya!"
Andre memegang pergelangan tangan Sheila. Gadis itu meronta minta dilepaskan. "Jangan sentuh aku! Aku jijik sama, Oom!" teriak Sheila.
"Jangan main sinetron dulu! Jelasin yang benar. Inti masalahnya apa?" tekan Andre sambil melotot.
Melihat mata Andre terbuka lebar dan menghujam tajam, Sheila langsung menunduk kalah. "Oom Andre yang hamilin Kak Lala, kan?" akhirnya keluar juga masalah seeungguhnya.
"Kamu nuduh apa gimana?"
"Terus ini maksudnya muji?" Sheila mendelik.
"Ngehamilin gimana? Emang Lala ...." Andre terdiam. Ia mencoba mencerna maksud dari gadis pendek di depannya. "Lala hamil?" tanya Andre.
"Iya. Kak Lala pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Katanya Kak Lala hamil sudah dua bulan. Tanggung jawab, Oom."
"Bentar, kok bisa?"
"Mana aku tahu, aku masih perawan. Oom Andre yang bikin pasti lebih tahu!"
Andre menepuk jidat. Ia juga bingung. Bahkan kakinya sampai mundur dua langkah saking kagetnya. Perempuan yang jadi kekasihnya beberapa bulan ini, bagaimana bisa hamil tanpa ia apa-apakan.
"Bukan aku yang bikin. Aduh, gimana ini? Aku sama Lala emang pacaran, tapi gak sambil bikin anak. Gimana ya, aku ini gak pernah begitu-begitu." Andre menempelkan ujung kedua telunjuknya.
Sheila geram mendengar pengakuan itu. Tangannya melayang lagi. Kali ini Andre berhasil menghentikan tangan itu sampai di pipinya. "Stop! Kamu berhak marah, tapi di sini aku juga bingung. Sumpah! Bukan aku."
Mata Andre berkaca-kaca. Ia sedih, bukan karena dituduh yang bukan-bukan. Namun, hatinya sakit. Bagaimana bisa, ia sudah berniat baik pada Lala. Andre ingin menikahinya. Malah wanita itu hamil oleh orang lain.
"Aku dikhianati di sini. Ngerti gak kamu? Aku sangat jaga dia. Aku hormati dia, aku sayang dia. Gimana bisa Lala begini sama aku," lirih Andre. Ia berpegangan pada pintu mobilnya.
Sheila melihat guratan kekecewaan di wajah Andre. "Beneran bukan, Oom?" tanya Sheila. Andre terduduk di lantai parkiran. Ia sampai memegang jidat. Sementara Sheila berpikir siapa yang mungkin jadi pelaku hingga ia ingat peristiwa saat membeli ayam goreng.
"Apa mungkin pria itu? Gak mungkin mereka cuman temenan kalau sampai ciuman," batin Sheila.
"Sakit banget hatiku ini. Aku beneran suka sama Lala, lho. Dia itu cantik, baik juga. Aku gak peduli mau dia jadi SPG juga," keluh Andre.
Sheila menatapnya iba. Tangan gadis itu mengelus punggung Andre untuk menenangkannya. Pasti pria ini syok banget. Sheila juga merasa bersalah karena sudah menyembunyikan apa yang sudah ia lihat pada Andre. Padahal Mang Saef sendiri bilang pria itu sering mengantar Lala pulang larut malam.
"Lala di mana? Biar aku ngomong sama dia. Pria itu harus tanggung jawab. Kasian dia," tanya Andre.
***
Tak ada yang menyangka adegan sinetron itu akan terjadi hari ini. Sheila nengantar Andre ke rumah sakit. Pria itu berkali-kali mengatur napas agar tak sesak. Meski begitu batinnya tetap terluka. Sambil menyetir, ia merogoh saku.
"Harusnya hari ini aku kasihkan cincin ini untuk dia," batinnya.
Sementara itu Sheila menatap jauh ke jendela. Tak tahu bagaimana respon Andre nanti ketika berhadapan dengan wanita yang sudah ia berikan isi hatinya.
Mobil itu menepi di parkiran sebuah rumah sakit. Sheila membuka pintu mobil lalu turun. Sementara Andre masih berpikir.
"Oom nunggu apa?" tanya Sheila.
Andre melirik ke arah Sheila. "Aku takut," jawabnya sambil mengusap tengkuk.
Alis Sheila terangkat sebelah. Lapangan parkir itu ramai dengan mobil yang datang dan pergi silih berganti. "Kalau gak salah, kenapa takut? Kalau begitu Oom Andre makin bikin Sheila curiga!" protes Sheila.
Andre mendengus. "Suudzon saja kamu nih! Coba luruskan dulu itu otak, udah meleng kebanyakan ke kiri. Kata orang di sono ada setan!"
Sheila menutup pintu mobil dengan kasar. Jelas Andre kesal, ia ikut turun dan menutup mobilnya. "Marah sih marah, gak usah banting pintu mobil orang. Cicilannya belum lunas ini!"
"Lunasin!" timpal Sheila ketus.
"Nanti kalau kamu laku aku jual," sindir Andre.
Kali ini Sheila malas menimpali. Ia memilih masuk ke dalam gedung rumah sakit. Di lobi, Sheila mengisi daftar tamu lalu diikuti Andre.
"Di rumah sakit umum?" tanya Andre. Matanya melirik kanan kiri.
"Emang di mana?" tanya Sheila bingung.
"Kupikir di rumah sakit bersalin?"
Tangan Sheila menepuk jidat. Ingin sekali ia menampar pria tua koslet ini. "Kak Lala itu hamil muda bukannya mau lahiran. Lagian yang bawa mana kepikiran tadi kalau dia hamil."
Keduanya melangkah memasuki lift hingga tiba di kamar kelas tiga. Bu Suratmi masih di sana, ia duduk di samping ranjang Lala dan menyuapi putrinya makan.
Lala sempat melirik ke arah pintu dan kaget pacarnya sedang berjalan mendekatinya. "Kamu ngapain ke sini?" tanya Lala dengan mata yang terbelalak.
Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi kiri Andre. Komplit, ke dua pipinya sudah kena tamparan hari ini.
"Jadi kamu! Kamu laki-laki yang hamilin anakku! Si alan kamu!" umpat Bu Suratmi. Ia menjambak rambut Andre dan memukuli punggungnya. Andre mengaduh karena sakit.
Sheila tak mau tinggal diam. Ia mencoba menghentikan apa yang dilakukan Bu Suratmi, malah ia juga kena pukul.
"Kamu tahu tidak, aku susah payah lahirin dia! Malah kamu nodai begitu saja." Bu Suratmi masih mengomel di sela tangannya yang terus melayangkan pukulan.
"Bukan dia, Mah," tegas Lala sambil berteriak. Bu Suratmi terdiam. Ia menatap Andre. Tak salah lagi memang pria itu yang sering apel ke rumah. Namun, bagaimana bisa bukan dia.
Andre mengelus tubuhnya. "Justru saya ke sini ingin menengok, malah dipukuli begini, Bu."
"Gimana sih, La. Kenapa bisa bukan dia? Sengaja kamu lindungin biar Mamah gak marah? Atau dia ngancam kamu?" cerocos Bu Suratmi.
Lala menggeleng. "Dia memang pacarku, tapi bukan dia ayah anak ini. Dia gak tahu apa yang aku lakukan di luar." Lala menunduk malu.
Sheila mengusap dada. Ternyata ia benar-benar salah duga tadi. "Apa memang itu yang kamu lakukan di belakang? Kenapa sampai begini? Kamu tahu aku percaya kamu, La," ucap Andre tulus.
Lala tak menjawab. Ia masih diam. "Apa pria itu mau tanggung jawab? Kalau tidak, biar aku yang memaksanya," tawar Andre.
Lala menggeleng. "Dia punya istri. Dia janji mau ninggalin istrinya, tapi malah gak bisa dihubungi," keluh Lala.
Sheila mangap. Sementara Andre membelalakan mata, sama kagetnya dengan Bu Suratmi yang berubah pucat. "Aku gak tahu nasib anakku, Dre. Aku pikir bisa hidup enak dengan jadi istrinya. Dia direktur perusahaan besar. Nyatanya, dia malah kabur."
"Pantas saja mobilnya kelihatan mahal," pikir Sheila.
Andre mengerjapkan mata. "Dre, tolong aku. Kamu bisa bantu aku, kan? Anakku butuh status. Kamu orang yang baik. Aku mohon, nikahi aku, Dre," pinta Lala.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.