Share

Perkara Lapar

Author: Elara murako
last update publish date: 2020-11-13 20:18:23

Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.

Beberapa kali ponsel Andre berbunyi. Tak satu pun telpon dan chat yang ia balas. Pikirannya masih terganggu dengan apa yang akan ia lakukan dengan Sheila sekarang. Bagaimana pun keadaan mereka sekarang sudah seperti dipaksa menjalin kisah cinta. Meski begitu, mereka merelakan diri sendiri terkusut ke dalamnya.

Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara demo dari organ yang meminta diisi berkala untuk membuat energi. Andre hampir terpancing tawanya saat mendengar. "Kamu lapar?" tegur Andre karena ia yakin suara itu bukan berasal dari galian kabel proyek.

Wajah Sheila memerah. Ia memalingkan wajah ke sisi kiri. Tangannya meremas tas selempang kecil andalannya jika pergi ke kondangan. "Iya, dari pagi belum makan," jawab Sheila dengan suara pelan, syukur tidak lebih pelan dari suara semut di dinding yang menatap curiga seolah penuh tanya sedang apa di sini.

"Kita makan dulu, deh. Ini sudah kelewat siang. Nanti kamu pingsan, disangka karena aku kasih kamu obat yang macam-macam," ajak Andre.

Sheila mengangkat sebelah alisnya. "Obat perangsang?" tebaknya membuat Andre tertegun.

Ketika yang bertanya menatap Andre dengan polosnya, malah Andre yang dibuat malu bukan main. "Kamu tahu yang gituan dari mana?" tanya Andre penasaran.

Sheila menggaruk rambutnya meski tak gatal. "Dari novelnya Ka Umay di WP, tapi gak bikin pingsan, sih. Jadi bukan obat perangsang, ya?"

Andre terbatuk. Tak tahu kenapa tenggorokannya terasa gatal mendengar itu. Apa segitu ingin cepatnya Sheila nikah sampai membaca cerita yang bahas obat begituan. "Apapun itu, lah! Kamu butuh makan, bukan bahas obat. Sekarang mau makan apa?" tawar Andre.

Sheila berpikir. "Gorengan tempe sama lontong." Saat mengucapkannya wajah Sheila berbinar. Itu memang makanan favoritnya sejak kecil. Makan gorengan tempe yang kriuk dengan lontong yang lembut. Perpaduan cantik nan elegan. Lembut bercampur garing yang gurih dan terasa dingin jika lontongnya didiamkan beberapa lama.

"Yang lain," tolak Andre begitu tegas. Ia dan Sheila baru akan mulai penjajakan, sangat tidak estetik jika berakhir di tukang gorengan. Apalagi kalau ingat pertemuan pertama mereka dikarenakan insiden mangga. Sungguh tidak manis ketika bercerita kelak pada anak-anak bahwa orang tuanya jatuh cinta karena rebutan mangga dan kencan pertama makan gorengan dengan lontong.

"Cireng sama bakwan," jawab Sheila dengan polosnya. Andre terbelalak. Ingin rasanya ia menabrakkan mobilnya ke lampu lalu lintas. Sayang, ia tak punya modal lagi untuk membayar DP cicilan.

Andre mengejapkan mata beberapa detik lalu menepikan mobil. "Itu sama saja, Neng. Sama kayak kamu mau milih miara siluman apa jin," dumel Andre. Pria itu sudah rapi dengan pakaian formalnya. Sayang kalau tidak makan di restoran.

Mendengar jawaban Andre malah membuat Sheila ikut kesal. Ia menggerak-gerakkan bibirnya sambil mengumpat di dalam hati. "Lagian Sheila bokek, keuangan hanya cukup sebatas ke tukang gorengan," keluh Sheila. Ia tak mau terlalu percaya diri, takutnya harus membayar makanannya sendiri.

Andre menggeleng. Ia sukses memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah rumah makan. "Jangan kayak orang susah, di dompetku lembaran ratus ribuan masih numpuk." Andre melepas safety beltnya.

Sheila menggaruk kepalanya. "Uang dari mana? Yakin bukan hasil kumpul arisan yang dikorup, kan?"

"Heh, emang aku ini emak-emak kampungmu? Mana ada bikin arisan, apalagi sampai dikorup. Kalau mau lebih baik korup uang kurban," protes Andre. Pria itu turun dari mobilnya. Tak mau ketinggalan, Sheila ikut turun.

Restoran sunda itu terkenal karena sambal dadak dan karedoknya. Ruangannya sendiri sudah modern tetapi diberi sekat-sekat bilik sehingga terlihat sempurna interior modern dan tradisional berpadu. Ada sajian live musik pop dan jazz. 

"Pilih teman nasi dulu, baru nanti pilih nasinya. Ada nasi merah, putih sama nasi bakar," promo Andre. Sheila mengangguk saja. Ia ambil piring dari anyaman bambu dan mulai bergerilya dengan lauk. Air liur Sheila seakan terpancing melihat banyak ikan, ayam hingga daging dan tumisan sayur.

"Nasinya mau apa, Pak?" tanya penjaga stan kasir. Di sana sudah siap seseorang mengambil lauk untuk dipanaskan dan seseorang lagi menghitung harga lauk dan nasi yang dipesan.

"Nasi merah saja, Teh," jawab Andre. Ia melirik Sheila yang sedang memberikan lauk pilihannya. Andre kaget bukan main karena piring itu hanya ada tahu, tempe dan perkedel jagung.

"Kamu gak ambil daging?" tanya Andre.

Sheila menggeleng. "Kasihan, nanti Oom Andre bayarnya mahal. Kalau gak kebayar, Sheila ikut malu," jawabnya polos, tapi menyebalkan. Inilah polos bernuansa laknat.

"Terserah," timpal Andre sudah bosan berdebat. "Nasi?"

"Nasi putih saja, Teh," lanjut Sheila. Setelah itu Andre melenggang pergi. Sheila mengikutinya dari belakang. Ia bingung sendiri. Pelanggan lain langsung membayar di kasir, tapi Andre tidak.

"Oom, jangan kabur begitu, bayar dulu!" Sheila menarik lengan Andre.

Bahu Andre terangkat naik. "Ngapain? Orang restorannya punyaku sendiri," jawabnya. Mendengar itu Sheila mematung. "Ini restoran warisan kakek, minta aku kelola karena papah harus urus tanah sawah," jelas Andre.

Kepala Sheila mengangguk. Tanpa aba-aba ia langsung berlari meninggalkan Andre kembali ke meja prasmanan. "Shei!" panggil Andre bingung melihat kelakuan gadis itu.

Sheila mengambil piring anyaman bambu lagi dan mengisinya dengan pepes ikan, ayam bakar, ayam goreng, gepuk juga ati ampela. Tak lupa sate usus turut serta juga. Kemudian ia berikan pada petugas kasir. "Teh, ini kata Oom Andre tadi gratisin," celetuk Sheila. Petugas kasir itu hanya bisa nyengir kuda.

Ia menyusul Andre duduk di saung yang sudah disiapkan pelayan. Sheila melihat ke sekitar. Ia terpana dengan suasana di sana. Di belakang saung ada lapangan hijau dengan rerumputan juga kolam ikan. Tak lupa ada wahana bermain anak berupa perosotan dan ayunan. Mata Sheila terbelalak.

"Oom, Sheila foto di sini boleh?" tanya Sheila.

Andre mengangguk. Ia pikir kasihan gadis itu, takut seumur hidup tak pernah makan di tempat mahal. Sheila mengambil ponsel lalu menyalakan kamera depan. Beberapa kali tembakan, ia selalu mendapat hasil yang sempurna.

"Kalau mamah kamu tahu apa tidak marah?" tanya Andre.

Sheila mengangkat sebelah alisnya. "Kamu makan di tempat ini tanpa mengajak mereka. Katanya kamu gak boleh jajan di luar tanpa izin mamahmu. Lala yang cerita," jelas Andre.

"Aku gak berteman dengan mamah di media sosial. Tetangga juga gak tahu, jadi aman," timpalnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Saranghae

    "Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Nyatakan Cinta

    "Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Perkara Lapar

    Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Jodoh 50 ribuku

    Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Korban Iklan

    "Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Komplikasi

    "Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status