Share

Lala dan Sheila

Author: Elara murako
last update publish date: 2020-11-13 19:36:44

Sheila berjalan keluar dari rumah sambil memegang perutnya yang merasa lapar. Mungkin di rumah tak akan ada orang yang peduli dengan suara keroncongan, tapi di luar sana masih ada yang peduli.

Kakinya mengambil langkah ke rumah ibu Suratmi, tukang lotek di kampung itu. "Bu, Sheila boleh kredit lotek dulu?" tanya Sheila sambil duduk di bangku depan warung Bu Suratmi, ibu Lala.

Bu Suratmi melihat wajah pucat Sheila. "Gak makan berapa hari kamu, Shei?" tanya Bu Suratmi khawatir. Dia yang bukan ibunya saja bisa begitu peka, Sheila rasanya sedih.

Gadis itu tak menjawab. Ia takut Bu Suratmi datang ke rumah dan demo pada ibunya lagi. Bukan apa-apa, justru akhirnya Sheila yang kena marah.

"Makan sana di dalam! Ada Lala juga lagi sarapan. Libur dia." Atas izin Bu Suratmi, Sheila masuk ke dalam rumah dan melihat Lala sedang duduk di meja makan.

Lala yang menyadari ada orang masuk ke rumahnya kontan melirik ke arah pintu. "Shei, sini makan dulu!" tawar Lala. Ia sudah tahu Sheila pasti tak diberi makan oleh keluarganya lagi.

Dengan wajah malu, Sheila duduk di kursi dekat Lala. "Gak kerja, Kak?" tanya Sheila.

Lala menggeleng. "Kerja mulu. Libur lah! Kamu juga kerja capek-capek tetep saja kelaparan."

Bingung, Sheila antara ingin tertawa dengan menangis saat mendengar komentar Lala. "Diapain lagi sama mamahmu?"

Terdengar suara Bu Suratmi sedang mengulek bumbu lotek. Sayuran yang disiram bumbu kacang bercampur gula, garam, kencur dan cabe itu masih banyak peminatnya di kampung ini.

"Katanya gajiku masih kurang. Bingung aku mau kerja di mana lagi. Ijazah saja belum punya," curhat Sheila.

Lala melempar sendok hingga berbenturan dengan termos dan mengeluarkan suara keras. Bu Suratmi yang mendengarnya kontan beristighfar kaget.

"Lala! Maneh teh kunaon (kamu kenapa)?" Bu Suratmi berteriak dari teras depan.

"Emosi jiwa, Mah. Ke Si Dina." Saking kesalnya, Lala sampai menyebut nama ibu Sheila.

"Biar dilaporin ke polisi saja itu ibu tiri! Anak masih sekolah malah disuruh kerja. Dasar gak punya otak!"

"Dia ibu kandung Sheila, Kak."

"Ibu kandung apaan teganya persis ibu tiri. Gak deh, ibu tiri saja masih lebih baik. Kayak ibu kosan sebelah tuh!"

Sheila terkekeh. Lala mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Ia simpan ayam goreng juga sambal dan lalapan kemudian memberikannya pada Sheila. "Makan! Biar cepet gede terus dorong mereka semua ke sumur!"

"Kalau bisa segampang itu. Sheila juga sudah gak tahan. Pengen kabur tapi gak tahu mau tinggal di mana. Gak ada saudara yang mau nampung. Satu-satunya cara harus sabar ngadepin mamah."

Setelah itu tak terdengar obrolan lagi diantara mereka. Tiba-tiba Sheila ingat sesuatu. Masalah mangga dan juga laki-laki yang memberinya nasi kuning tadi pagi.

"Kak Lala, maaf ya?" ucap Sheila.

Lala menatap Sheila. Jidatnya mengerut. "Ngapain minta maaf? Karena makanan? Di sini cuman ada aku sama Mamah. Kalau makanan gak habis paling sayang dibuang. Mendingan buat ngasih makan anak yatim kayak kamu."

"Kak Lala juga anak yatim," ralat Sheila.

Lala tertawa. "Emang kalau bapaknya kabur masih kehitung anak yatim?" Meski begitu Sheila tetap mengangguk.

"Bukan ituloh, Kak. Aku mau minta maaf soal Oom Andre. Katanya dia pacar Kak Lala?"

"Ouh, Andre? Iya dia cerita kemarin. Sudah aku marahi dia. Katanya kamu diomeli lagi Dina gara-gara mangga yang dipaling Andre?"

Sheila menggaruk rambutnya meski tak gatal. Ia kira akan kena marah Lala. "Yang salah Andre, ngapain kamu minta maaf. Dia janji katanya mau baik ke kamu sebagai rasa bersalah. Mudah-mudahan gak diomongan doank."

Barisan gigi putih Sheila ditunjukkannya pada Lala. "Aku juga salah sama Oom Andre. Sudah main lapor sama Pak RT. Padahal cuman karena mangga."

Lala menggeleng. "Biar saja gak apa."

Mereka kembali makan. Tiba-tiba Lala merasa mual. Ia lari ke kamar mandi dan muntah. Sheila yang melihat kejadian itu kontan membantu Lala dengan mengambilkan air putih dan tissue.

"Kak Lala gak apa-apa?" tanya Sheila bingung. Lala menggeleng. Dengan dipapah Sheila, Lala kembali ke meja makan.

"Kayaknya kebanyakan kerja malam. Jadi gini, masuk angin." Lala mengusap-usap perutnya yang terasa begah.

Kerja jadi SPG memang gak sepenuhnya enak. Masuk pukul sepuluh pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Selama itu harus berdiri di ruangan berAC. Pantas kalau Lala sampai mual begitu.

***

"Teteh Mangga!" panggil Andre saat melihat Sheila keluar dari toko tempat ia bekerja malam itu. Andre menurunkan kaca mobil Pajeronya.

Sheila melihat Andre di dalam mobil hitam itu. Ia sempat berbalik takutnya bukan ia yang Andre panggil. Andre melambai memanggil Sheila agar mendekatinya.

"Ke mana malam-malam?" tanya Andre. Ia melihat jam di tangannya. Sudah pukul sepuluh malam.

"Kerja. Bukan jual diri, kok," jawab Sheila ketus.

Andre hampir tersentak. "Bukan maksudku begitu. Cuman nanya biasa saja. Jawab biasa juga, donk! Kayak preman saja."

"Oom Andre sendiri ngapain malam-malam di luar?" tanya Sheila.

Lagi-lagi Andre dibuat ill feel gadis itu. "Panggil Andre saja. Dipanggil begitu gimana kalo yang denger nyangka aku ini Oom lagi nyari cewek bookingan."

"Habis lebih tua. Dari wajah saja kelihatan," celetuk Sheila.

Rasanya seperti tertancap ribuan belati. "Terserah saja, ah! Kalo bukan takut diomelin Lala, kagak ngalah aku!"

Sheila terkekeh. "Kak Lala ke mana? Oom Andre gak jemput Kak Lala?"

"Dia mah lebih suka dijemput tukang ojek. Padahal sudah jelas aku lebih ganteng ke mana-mana."

Sheila mengangguk saja. "Oom Andre emang ganteng. Sayang perilakunya amit-amit."

Mata Andre berubah seperti elang. "Kamu perempuan paling blak-blakan yang pernah aku temui. Apa kamu tak tahu aku ini siapa?"

"Gak usah kayak sinetron Oom, lebay! Ini sudah malam, mau pulang Sheila!"

Andre membuka pintu mobilnya. "Sekalian dianter. Cewek blak-blakan kayak kamu paling disenengi genderewo."

Ucapan Andre sukses bikin Sheila merinding sendiri. Gadis itu naik ke mobil Andre dan duduk di kursi belakang. "Woy, ini bukan taksi onlen!" protes Andre.

"Banyak ngomong Oom ini, buruan Sheila mau pulang!"

Akhirnya Andre mulai menyalakan mesin mobilnya. Jarak dari rumah ke toko sekitar sepuluh menit. Cukup lama hingga Andre bisa mewawancarai Sheila lebih dalam.

"Kamu kenal Lala dari kapan?" tanya Andre.

"Dari pertama pindah dua tahun lalu mungkin. Sudah disiksa mamah dan Kak Lala yang bantu. Makanya soal mangga kemarin aku masih ngerasa gak enak. Maaf ya, Oom."

Setiap kali mendengar kata Oom, Andre merasa panas di telinganya. Ia baru berusia 23 tahun padahal. "Lebih lama kamu, donk. Aku sama Lala baru pacaran tiga bulan. Itu juga kenal pas beli shampoo di mall tempat ia kerja."

"Oom Andre kegatelan karena Kak Lala cantik, ya?"

"Eits, jangan salah. Dia yang ngechat duluan. Aku cuman menangkap apa yang sudah mengejarku."

Kalau bukan pacar Lala, sudah Sheila tendang wajah Andre. Sheila tak berbicara lagi. Ia melihat ke luar jendela. "Oom Andre harus jagain Kak Lala. Kalau sampai disakiti, Sheila sumpahin keriput dini!"

"Sumpah kamu tuh gak seru. Daripada gitu mendingan sumpahin istrinya dua, deh. Enak di aku."

"Dasar laki-laki!"

Jalan sudah sepi. Toko-toko di sisi jalan juga sudah tutup. Ada orang gila sedang berjalan mencari tempat untuk tidur.

Akhirnya mobil itu menepi di parkiran umum milik kosan tempat Andre menyewa kamar. Rumah mamah Sheila ada di gang samping kosan yang berbatasan dengan tembok belakang kosan.

Sheila turun dari mobil itu dan menutup pintunya. "Makasih banyak, Oom," ucap Sheila lalu berlari menuju pintun gang.

"Dasar perempuan aneh!" Andre mematikan mesin mobilnya. Tak lupa kunci mobil ia lepas sebelum turun. Badannya terasa pegal dan sakit setelah seharian membuat laporan yang diminta direktur keuangan perusahaan.

"Apaan itu?" Andre melihat sesuatu di jok belakang mobil. Sebuah keresek hitam. Karena penasaran ingat itu bukan miliknya, Andre membuka pintu belakang dan melihat isi keresek. Andre tertegun lalu tertawa. "Kalau Lala liat ini, bisa dikira aku cewek jadi-jadian."

Dalam keresek itu ada pembalut masih rapi dalam kemasannya. Karena punya dua kakak perempuan laknat yang sering meminta membelikan barang seperti ini saat SD dulu, Andre tahu benar apa gunanya.

"Jadikan harus dikembalikan," keluh Andre. Setelah yakin mobilnya terkunci rapat, ia berjalan menuju pintu masuk gang. Ia melihat  Sheila berdiri di teras rumahnya bersama seorang wanita yang Andre tahu adalah ibu Sheila.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Saranghae

    "Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Nyatakan Cinta

    "Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Perkara Lapar

    Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Jodoh 50 ribuku

    Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Korban Iklan

    "Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Komplikasi

    "Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status