Share

Anak Malang

Penulis: Elara murako
last update Tanggal publikasi: 2020-11-13 19:34:30

"Jadi niat Nak Andre ini apa?" tanya Pak RT ketika akhirnya Sheila menyeret si maling tampan ke rumah RT. Ternyata setelah ditanyai ia mengaku bernama Andre dan dibuktikan dengan KTP.

"Saya gak maling, Pak. Saya beli, kok. Hanya uangnya saya taruh diam-diam dan ambil juga diam-diam," alasan Andre. Jelas bapak-bapak juga Sheila yang menginterogasinya kebingungan. "Saya taruh uang seratus ribu di bawah pintu. Cek saja kalau gak percaya."

Sheila menepuk jidat. "Kalau gak niat maling, kenapa gak langsung saja ngomong sama yang punya?"

"Daripada yang punya nolak, jadi saya beli paksa saja." Andre terlihat tenang melakukan pembelaan diri.

Bapak-bapak juga bingung memberi hukuman. Lagipula yang ia ambil hanya tiga buah mangga muda. "Ikhlaskan saja Mbak Sheila. Cuman mangga. Mungkin buat istrinya," saran Pak RT.

"Pacar saya, Pak," ralat Andre.

"Pacarnya hamil?" Pak RT menggeleng-geleng tak percaya.

Andre menggerak-gerakkan tangannya. "Pacar saya cuma mau ngerujak. Habis dia ngambek, kalau gak bawa mangga muda gak usah ngapel. Bingung saya belinya di mana. Kebetulan dekat kosan ada mangganya."

Jadi si maling eh Andre ini ngekos di samping rumah Sheila. Hanya karena baru, Sheila tak mengenalinya.

"Memang pacar Nak Andre ini siapa?" Pak RT terlihat penasaran. Siapa pula wanita aneh yang ingin diapeli asal diberi mangga muda.

Andre meneguk ludahnya. "Lala, Pak. Anaknya tukang lotek pengkolan sana."

Mendengar nama Lala, Sheila merasa horor sendiri. Ia mengenal Lala selama ini dan menghormatinya karena memiliki hutang budi. Lala yang memberikan pekerjaan paruh waktu pada Sheila selama ini.

"Om Andre pacar Teh Lala?" tanya Sheila sekali lagi.

Mata Andre terbelalak mendengar cara Sheila memanggilnya. Ia melihat cerminan wajah pada meja kaca di depannya. Memang kelihatan tua, ya? "Saya belum Oom-oom dan saya memang pacar Lala. Saya ngekos di sini juga Lala yang ajak."

Orang-orang di rumah Pak RT kontan ber-oh. Lala memang terkenal cantik. Tak heran jika pacarnya juga ganteng. Tubuh gadis itu langsing dan tinggi. Kulitnya hitam manis dan rambutnya lurus panjang berwarna hitam. Ia tak pernah gagal tes jadi SPG. Hingga kini Lala kerja jadi SPG kosmetik di mall paling mewah di Bandung.

"Sheila!" panggil suatu suara. Kontan Sheila berpaling ke arah pintunya. Mamahnya sudah ada di sana sambil berkacak pinggang. "Pulang kamu! Bikin malu saja!" omel Mamahnya.

Lekas Sheila bangkit dan menghampiri Mamah kandungnya itu dengan wajah ketakutan. "Perkara mangga saja kamu sampai bikin ribut masyarakat satu RT! Dasar kamu ini gak tahu diri!" Sheila pasrah saja saat kerah bajunya ditarik Mamahnya.

"Bu, sabar. Neng Sheila cuma berniat melindungi barang ibu. Tak usah dimarahi," nasehat Bu RT.

Mamah Sheila - Bu Dina tak menerima nasehat itu. Ia terlanjur merasa mukanya dicoreng putrinya sendiri. Dina menarik kerah Sheila dan menyeretnya ke luar rumah RT sambil terus mengomel. Sementara Sheila diam saja. Ia begitu pasrah dimarahi ibunya.

Andre yang melihat kejadian itu bergidik. Baru ia lihat seorang ibu segitu galaknya.

"Kasian anak itu. Padahal anak kandung, tapi diperlakukan kayak anak tiri." Pak RT masih terpaku pada pintu di mana Sheila dan Mamahnya sudah tak terlihat lagi di sana.

Bu RT sama prihatinnya. "Iya, kemarin malah sampe lebam badannya dipukul sapu. Gak tahu kenapa, Bu Mimin sampai bantu nyembunyiin."

Mendengar itu, Andre merasa batinnya terusik. Ia tak tega dengan perempuan itu. Pantas saja ia mempertahankan mangga hingga sejauh itu. Mungkin ia takut dimarahi ibunya. Dan karena Andre, akhirnya ia tetap kena marah juga.

"Memang sering begitu ya, Pak?" tanya Andre.

Pak RT mengangguk. "Anak itu baru tinggal sama ibunya. Awalnya tinggal dengan Ayahnya di kota. Kebetulan Ayahnya meninggal dua tahun lalu. Jadi dititip sama ibunya ini. Kelihatannya ibunya keberatan jadi sering kena marah dia," jelas Pak RT.

Pandangan mata Andre menurun. "Kasihan anak itu," pikirnya.

***

"Ini!" Andre menyimpan sebuah keresek di pagar depan rumahnya. Sheila menggaruk kening. "Ambil!" titah Andre sambil melambai-lambai.

Sheila mendekati pagar depan yang tingginya hanya satu setengah meter, berbeda dengan tinggi pagar dekat pohon mangga. "Oom pacarnya Kak Lala?" Sheila mencoba mengingat wajah pria itu.

Jelas Andre merasa telinganya seperti disengat lebah. "Panggil Andre saja! Emang wajahku ini kelihatan kayak Oom-oom?"

Karena merasa tak enak, Sheila hanya nyengir kuda. "Apa ini?" tanyanya kebingungan melihat keresek yang terisi sesuatu.

"Nasi kuning. Makan sana. Kelihatannya belum sarapan," jawab Andre. Setelah itu ia pergi meninggalkan Sheila yang diam mematung di depan pagar.

"Ternyata ada juga yang peduli," batin Sheila. Ia bawa keresek hitam itu masuk melalui pintu belakang. Niatnya ingin sarapan dengan nasi kuning, tapi baru ia buka, keresek itu langsung direbut oleh kakak laki-lakinya.

"Apaan ini?" tanya Dandi ketus. Ia melihat isi keresek lalu menatap Sheila tajam. "Mah, Si Sheila ngamburin uang beli makan di luar, nih!" adu Dandi.

Sheila kaget bukan main. "Bukan, Kak. Itu dari ...." kalimatnya terpotong. Bu Dina datang ke dapur. Wajahnya memerah dengan urat yang terlihat tegang.

"Kurang ajar kamu! Kemarin ngakunya gak punya duit? Terus ini apa?" bentak Dina pada putri tengahnya.

Sheila menunduk. Seperti biasa ia selalu mati kutu jika sudah menerima bentakan dari ibunya. "Mana duit?" Dina memaksa merogoh saku celana Sheila. Ia kecewa karena tak menemukan selembar pun.

"Kan Sheila udah kasih ke Mamah semua," timpal Sheila dengan suara pelan.

Jawabannya tak dipercaya oleh Dina. "Kerja sampai malam masa cuman dapat segitu? Gak guna kamu itu memang!" Dengan telunjuk, Dina menoyor jidat Sheila. Ia mengambil keresek dari tangan Dandi. "Nih! Sudah tahu gak punya duit masih coba mewah-mewah beli ginian?"

"Dikasih sama Oom, pacarnya Kak Lala, Mah!" jelas Sheila.

Dina mendengus. "Memang lonte kamu ini! Pacar orang digodain!" hina Dandi membuat batin Sheila terluka. Sayatannya begitu dalam hingga Sheila tak kuasa menahan perihnya.

"Buat aku saja, Mah!" Dandi membawa keresek nasi itu ke depan. Sementara Sheila masih menunduk di sana. "Kamu libur, kan? Daripada diam saja mendingan cari kerja. Pemalas!" Dina sepertinya masih merasa tak puas memarahi Sheila.

Air mata Sheila mengalir begitu Dina pergi. Hanya ada dia sendirian di dapur yang sempit. Jangankan meminta kasih sayang bahkan perlakuan layaknya manusia saja tidak Sheila dapatkan.

"Ayah, Sheila mau pulang. Sheila mau ke Ayah dan Bunda saja," keluh Sheila sambil duduk memeluk lutut di lantai.

Semakin lama ia semakin tak kuat mendapat penderitaan ini. Bayangkan, pulang sekolah di saat anak lain nongkrong dengan teman atau beristirahat di kamar, Sheila harus pergi bekerja paruh waktu di toko. Bahkan selama dua tahun ini dia bekerja, Sheila tak pernah menikmati gajinya sendiri. Seluruh gajih diambil Dina dengan alasan uang makan dan sewa kamar.

"Syukur kamu ditampung di sini! Saudara Ayah kamu itu sudah buang kamu ke jalan!" Begitu kata Dina setiap kali Sheila menanyakan keadilan.

"Bunda lebih sayang Sheila. Padahal Bunda bukan ibu kandung Sheila," batin Sheila lagi. Ia mengusap boneka kecil yang sering ia bawa di saku. Boneka itu pemberian ibu tirinya yang selama ini merawat Sheila hingga kelas satu SMA. Sayang, sebulan sebelum ayahnya meninggal, bundanya meninggal lebih dulu

"Sheila! Bawain minum!" teriak Dandi dari ruang tamu. Sheila bangkit. Ia mengusap air matanya dan membawakan Dandi gelas serta teko air minum.

"Lama sekali! Kasihan Kakak kamu kehausan!" omel Dina. Tak pernah ada kata terima kasih dari mulutnya setiap kali Sheila melakukan apa yang ia perintahkan.

"Dasar ulat, jalannya ya lelet!" ledek Dandi sambil memeletkan lidah.

Terdengar tawa renyah di belakang Sheila yang berasal dari mulut Karina, adik Sheila. "Dia bukan ulat, belatung! Makanya hidupnya ngerugiin orang!" ledek Karina yang berbeda empat tahun dari Sheila. Anak yang baru duduk di kelas dua SMP itu sudah belajar berkata begitu pedih pada kakaknya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Saranghae

    "Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Nyatakan Cinta

    "Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Perkara Lapar

    Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Jodoh 50 ribuku

    Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Korban Iklan

    "Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.

  • Jodoh 50 Ribu (Indonesia)   Komplikasi

    "Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status