Share

BAB 3

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:38:10

Sebuah motor masuk ke pekarangan rumah Ataya. Ega dan Raha berjalan ke depan pintu rumah. Ega mengetuk pintu itu dan terdengar suara dari dalam seraya membukakan pintu.

“Eh, udah nyampe.” Arki keluar dari balik pintu.

“Yuk masuk.”

Mereka berdua masuk mengikuti Arki.

“Bentar ya gue ke belakang dulu.”

“Iya, Ki,” jawan Ega sembari duduk sofa diikuti oleh Raha.

Dua hari yang lalu Ega dan Raha pergi ke tempat nongkrong yang biasa Ega datangi dengan teman-temannya. Setelah diperkenalkan oleh Ega, tak lama Raha langsung bisa berbaur dengan cepat bersama teman-teman yang lain. Arki juga ada disana dan berakhirlah mereka berdua diundang ke rumahnya hari ini—jalan-jalan tentu saja.

Arki mengetuk kamar Ataya. “Dek.”

“Iya?” tanya Ataya sambil membuka pintu.

“Tolong buatin minuman buat temen Aa, boleh gak?”

“Boleh, diantar kemana nanti?”

“Ke ruang tamu. Makasih ya, Dek,” ucap Arki tulus.

“Santai.”

Ataya pergi menuju dapur untuk menyiapkan minuman sedangkan Arki kembali ke ruang tamu dimana kedua temannya sekarang sedang berbincang.

“Lagi ngomongin apa?” tanya Arki nimbrung.

“Ini, Raha rencananya pengen muncak ke

Gunung Ciremai,” kata Ega

“Rencananya kapan, Ha?”

“Kayaknya hari-hari terakhir pulang.”

Ataya datang membawa nampan berisi minuman dan camilan lalu menaruhnya di atas meja.

“Kalau gak sibuk nanti gue ikut deh,” kata Arki.

Raha menganggukkan kepalanya. “Oke. Sekarang kita mau jalan kemana?”

“Ke Paralayang aja, mau gak? Sekalian liat sunset,” jawab Arki.

Ataya menoleh ke arah kakaknya. “Paralayang?”

“Hm.”

“Aku ikut boleh gak, A?” tanya Ataya meminta izin.

Arki melirik ke arah Ega dan Raha meminta persetujuan yang diangguki oleh Ega.

“Boleh. Siap-siap sana, Dek.”

Ataya mengangguk lalu pergi ke dapur untuk menyimpan nampan setelah itu pergi ke kamarnya siap-siap.

“Itu adik lo yang kemarin diceritain?” tanya Raha.

“Iya.”

Tak lama kemudian Ataya datang, ia mengenakan celana skinny jeans, kaus oversize serta sepatu converse-nya. Rambutnya ia ikat dan hanya tersisa helaian rambut yang keluar dari ikatannya.

“Yuk, berangkat,” ajak Ega seraya berdiri diikuti Arki dan Raha.

Mereka berempat menaiki motor dengan Ataya yang dibonceng oleh Arki dan Ega yang dibonceng Raha. Butuh waktu kurang lebih dua puluh menit dari rumah yang terletak di daerah kota. Paralayang berada di Desa Sidamukti, Munjul, dari Bundaran Munjul atau lebih tepatnya Jalan K.H. Abdul Halim bisa langsung ambil jalan ke arah selatan bundaran.

“Tumben kamu pengen ikut, Dek?” tanya Arki.

“Iya, lagi cari inspirasi buat nanti semester depan ikut sayembara.”

“Wah, udah persiapan aja nih.”

“Iya lah.” Ataya tertawa begitu juga dengan Arki yang mendengar jawabannya.

Raha dan Ega sampai lebih dulu di susul oleh Arki dan Ataya. Mereka membeli tiket masuk seharga tujuh ribu serta tiket masuk ke Paraland Resort sebesar lima belas ribu rupiah.

Ketika sampai di atas, semilir angin menyambut mereka, memberikan kesan yang damai. Langkah mereka terhenti di puncak Gunung Panten bertepatan dengan matahari yang mulai menggelincir ke arah barat, menyuguhkan hamparan sawah yang hijau dengan lanskap yang indah dipadu dengan sunset yang berwarna merah kekuning-kuningan. Sejenak mereka terdiam, menikmati pemandangan yang berada di depan mata. Tak ingin melewatkan pemandangan ini, Ataya dan Raha mengeluarkan handphone-nya lalu memotretnya.

Ataya memejamkan mata, pikirannya berkecamuk berharap angin yang menerpanya dapat sedikit menghilangkan kekhawatirannya.

“Dek, Aa kesana dulu ya, ada temen.” ucap Arki seraya menunjuk seseorang yang juga melambai ke arah Arki.

Ataya mengangguk mengiyakan.

“Bro, gue kesana bentar ya.”

Setelah mendapat persetujuan dari Ega dan Raha, Arki pergi menuju temannya.

“Duduk yuk,” ajak Ega.

Raha dan Ataya menuruti ajakan Ega.

“Lagi libur kuliah, Dek?” tanya Ega kepada Ataya setelah mereka duduk nyaman dengan Ataya yang duduk di tengah.

Ataya menoleh. “Iya, A. Aa gimana kuliahnya?”

“Gak gimana-gimana sih, cuma sekarang lagi stress ngerjain skripsi--eh bentar, gue ke belakang dulu ya, kebelet banget ini.” Ega berdiri lalu berlari ke WC umum.

Setelah kepergian Ega, keheningan mulai menyelimuti mereka, karena Raha tidak menyukai suasana hening seperti ini, maka ia pun memulai pembicaraan.

“Lo suka astronomi ya?”

“Iya, lo tau darimana?” Ataya menjawab tanpa menatap Raha, ia masih asyik memandangi sunset hari ini.

“Dari Aa lo. Kemarin dia cerita tentang lo,” jawab Raha yang juga menatap sunset.

Ataya melirik. “Bukan cerita yang jelek-jelek, kan?”

“Nggak, kenapa memang?”

“Ya nggak apa-apa juga sih. Aa mau cerita kaya gimana juga terserah, toh mereka gak kenal gue,” jawab Ataya santai.

“Hm.”

“Mereka ko lama banget?” dumel Ataya.

Raha melihat jam yang ada ditangannya. “Udah mau maghrib nih, ke mushola yuk. Kita tunggu aja mereka disana.”

Ataya mengangguk.

Mereka berdua berjalan ke arah mushola lalu mengambil wudhu di tempat masing-masing. Tak lama kemudian adzan berkumandang, mereka pun sholat dengan khidmat.

“Kalian darimana aja?” tanya Raha ketika ia bertemu dengan Ega dan Arki yag hendak memasuki mushola.

“Ngobrol bentar tadi. Kalian tunggu sini dulu ya, kita mau sholat,” jawab Ega.

“Oke,” jawab Ataya.

Raha berjalan ke arah warung dan membeli dua botol minuman.

“Nih. Baragkali lo haus,” kata Raha sambil menyodorkan minuman yang satunya ke arah Ataya.

Thanks ya.” Ataya mengambil minuman itu dan segera meminumnya.

“Haus ya?”

Ataya masih meminum minumannya jadi ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Raha.

 Raha menengadahkan kepalanya melihat langit. “Cantik.”

“Huh?”

Raha menoleh. “Eh, maksudnya langitnya cantik.”

"Oh, iya langitnya cantik,” jawab Ataya.

“Coba aja gue secantik itu.” Ataya menggumam.

“Apa?”

Ataya gelagapan takut kalau Raha mendengar gumamannya tadi. “Oh, nggak.”

Raha tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya.

Beberapa menit kemudian Ega dan Arki menghampiri mereka berdua.

“Yuk, sekarang mau kemana? Langsung balik atau makan dulu?” tanya Arki.

“Langsung balik aja, gimana?” tanya Raha lalu menatap Ataya.

“Ngikut aja,” jawab Ataya.

“Ya udah yuk.” Ega berjalan disusul oleh mereka bertiga.

Suasana parkiran sudah sedikit sepi. Mereka ber-empat mulai menaiki motornya lalu segera melaju meninggalkan parkiran. Selama di perjalanan mereka asyik mengobrol, tetapi tiba-tiba motor Arki oleng. Ia pun memilih berhenti di pinggir jalan untuk mengecek apa yang terjadi dengan motornya. Raha dan Ega pun ikut berhenti.

“Yah, bannya bocor,” keluh Arki sembari meremas rambutnya.

“Mau cari tambal ban dulu?” tanya Ataya ikut melihat bannya.

“Iya kayaknya, tapi nanti kamu pulang kemaleman, Dek.”

Ataya ikut berpikir.

“Kalau gitu biar gue aja yang nemenin Arki buat nyari tambal ban, lo pulang sama Raha aja, Dek,” usul Ega.

“Nah, iya, gak apa-apa kan, Ha?” tanya Arki.

“Boleh.”

“Gimana, Dek?” Arki menatap Ataya.

Ataya menghela napas pelan. “Iya.”

“Oke, lo hati-hati ya, Ha.”

“Siap.”

Ataya pun dibonceng oleh Raha dan meninggalkan Arki dan Ega. Lagi-lagi hening, mereka fokus dengan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Ataya memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang menggunakan kendaraannya sedangkan Raha, ia fokus menyetir motornya.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di depan rumah. Ataya turun dari motor dan berniat membuka helmnya tetapi pengaitnya susah dibuka. Raha yang melihat itu menyuruh Ataya untuk mendekat ke arahnya.

“Sini.”

Ataya menurut.

Bunyi klik terdengar ketika pengait helm itu lepas.

“Nah, udah.”

Ataya mundur beberapa langkah. “Makasih ya.”

My pleasure,” jawab Raha sembari tersenyum. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status