Home / All / Pelet Darah Haid / Ajal Telah Mengintai

Share

Ajal Telah Mengintai

Author: Wullan Sucii
last update publish date: 2020-10-30 10:10:32

Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan. 

 Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam. 

 Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya. 

Ajeng berdiri didepan cermin yang cukup besar dia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya 

 "sekarang masih jam 6 kurang, aku masih punya waktu untuk menemuinya. hahaha."

 Matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam, hari sudah mulai gelap. Ajeng masih tetap berlalari diiringi cahaya remang remang berwarna merah. pertanda waktu maghrib akan datang, waktu yang dimitoskan akan banyak makhluk makhluk dari alam lain berkeliaran. 

Setelah 15 menit berlari ajeng sampai disebuah pemakaman yang aneh sepertinya ini adalah makam orang orang jaman dulu. Dilihatnya sebuah nisan bertuliskan huruf huruf asing, lebih mirip seperti tulisan jepang/cina. Ajeng merasa ini adalah tempat yang pas untuk menemui sang penolongnya. 

Dibukanya satu persatu baju yang melekat ditubuhnya. Dia lalu merentangkan kedua tangannya lalu perlahan dia menutup matanya, darah haid yang segar dibiarkan mengalir membasahi paha nya. Dalam hatinya dia berkata. 

 "wahai sang penolong datanglah, balaskan dendamku, bunuh orang orang yang telah menyakitiku." Meskipun tanpa perantara orang pintar/dukun ajeng sangat yakin kalau dirinya bisa memanggil dan bertemu dengan makhluk yang bisa menolongnya. 

 Tiba tiba angin dingin berhembus membelai tubuhnya yang telanjang. Dia bisa mendengar langkah terseok seok mendekatinya. Dia masih menutup matanya. 

 Ajeng merasakan ada sesuatu yang merayapi punggung kakinya rasanya basah dan berlendir. Dia masih menutup mata membiarkan benda itu menggerayangi tubuhnya. Ajeng tersentak kaget saat benda itu mendekati daerah intimnya. Ajeng merasa lelehan darah haidnya dijilat dan disedot paksa. 

 Ajeng membuka mata dia bisa melihat sosok perempuan yang sama dengan sosok yang dilihatnya dalam mimpi. 

 "Hai anak manusia ada apa kau memanggilku." tanpa ajeng menjawab sosok itu sudah tau maksud kedatangnnya. 

 "aku butuh bantuanmu tolong bantu aku membalas orang orang yang sudah menyakitiku." 

 "apa kau yakin ingin bersekutu denganku?" sosok itu menatap tajam ke arah ajeng

 "aku sangat yakin."

 "hahahah tandai mereka dengan darah kotormu. hahaha" 

 Tiba tiba perempuan itu menghilang 

...

Adzan maghrib berkumandang. disebuah ruangan ada dua orang anak remaja sedang berbincang bincang.

 "Bang nanti jam 9 aku mau datang ke acara ulang tahun temen." susi meminta izin ke pada kakak satu satunya itu

 "Siapa? jam 9 itu terlalu malam."

 "Acaranya wulan."

 "wulan saudaranya ajeng ya?"

 "Iya."

 "ya udah pergi aja ngga papa tapi abang ikut, abang pengin ketemu ajeng." ucap roni dengan nada semangat setelah mendengar nama ajeng

 "waahh jangan jangan abang suka sama ajeng ya." ucap susi meledek abangnya itu. 

 "ngga papa ko bang ajeng anak yang baik." sesaat kemudian susi teringat wajah ajeng yang diselimuti awan hitam kejadian itu membuatnya ragu untuk datang ke rumahnya. Ia hendak mengurungkan niatnya untuk datang ke acara itu tapi sudah kepalang abangnya yang begitu semangat ingin ketemu dengan ajeng. 

 "ya udah abang mau pilih pilih baju dulu ah."

 Susi dan Roni berangkat pukul 8 lebih mereka berangkat menggunakan mobil berwarna putih. ditengah perjalanan mata susi diserang kantuk yang sangat dahsyat. 

 Roni melirik adiknya yang masih tertidur di jok belakang. 

 "Susi udah sampe bangun cepetan." 

Perlahan susi membuka matanya wajahnya pucat dia baru saja mengalami mimpi yang sangat aneh. 

 Dalam mimpinya itu susi melihat semua teman temanya terikat tali. Kemudian dia melihat sebuah dandang besar yang berisi air  mendidih, Satu perasatu temannya itu diseret seseorang berbaju serba hitam dan dilempar ke dalam dandang itu. Dalam sekejap saja air yang mendidih itu berubah menjadi warna merah darah. 

 Disebelah dandang itu ada seorang wanita berambut panjang dan memakai baju berwarna merah. Wanita itu berwajah sangat mengerikan dia sedang berdiri di punggung seorang anak perempuan. Rasanya wajah anak itu tidak asing dimata susi tapi dia juga tidak mengenalinya secara jelas. 

 "woyy ko malah ngelamun gitu, kebiasaan deh, bikin abangnya takut.

 "bang pokonya nanti didalem jangan bertingkah yang aneh aneh ya, satu lagi harus di inget ngga usah makan atau minum apapun yang ada disitu."

 "beres... orang abang kesini cuma mau ketemu sama neng ajeng hihihi." mendengar perkataan adiknya itu roni tau kalau ada yang tidak beres tapi dia bersikap biasa saja, selama dia menuruti semua perintah adiknya pasti semua akan baik baik saja. Dia sudah terbiasa dengan adiknya yang mempunyai kelebihan itu.

 .....

"kalian buruan ke kamar ajeng. kamarnya itu yang ada dibawah tangga, awas jangan sampai ketahuan." perintah wulan pada dua orang temannya itu.

 "siapp." ucap meli dan fania bersamaan. 

 Meli dan fania berjalan menuju kamar ajeng dengan membawa dua buah kantong plastik berwarna hitam. 

 Dibukanya lemari kecil berisi baju, lalu meli dengan cepat menumpahkan seluruh isi kantong palstik yang dia bawa. 

 "beres, ayo buruan kita keluar." 

 .... 

 Ajeng yang baru saja selesai mandi kaget mendapati lemarinya yang sudah berantakan dia juga melihat ada lumpur berwarna coklat berserakan mengotori baju bajunya. 

 "hahaha mau mati aja masih bertingkah. Dasar anak anak nakal, tunggu pembalasanku ajal sudah mengintaimu." 

 Ajeng sudah menyadari hal ini akan terjadi maka dari itu dia menyimpan sebuah gaun yang akan dipakai nanti. Ajeng memilih gaun selutut berwarna merah lalu dia berjalan kedapur dengan membawa kantong plastik berisikan darah haid miliknya. 

 "bi inah tolong ambilkan sirup sirup yang ada dikulkas bi, biar aku aja yang buat minumnya." 

 "baik non." 

 Tak lama kemudian bi inah kembali menemui ajeng. 

 "non sirupnya ditaruh dimana ya? ko dicari cari ngga ada ya?" Ajeng sudah tau apa yang akan dikatakan bi inah, sudah pasti sirup itu ngga ada. bukankah tadi sore ajeng telah membuangnya. 

 "coba dicari lagi bi atau tanya sama bibi ira aja."

 Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya. 

 Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelet Darah Haid   Gantung diri

    "Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu

  • Pelet Darah Haid   Kerasukan makhluk penghisap darah

    Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."

  • Pelet Darah Haid   Teka teki baru

    Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe

  • Pelet Darah Haid   Korban Pertama

    Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng

  • Pelet Darah Haid   Ajal Telah Mengintai

    Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu

  • Pelet Darah Haid   Pelecehan

    Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status