Pelet Darah Haid

Pelet Darah Haid

last updateHuling Na-update : 2020-11-15
By:  Wullan SuciiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
9Mga Kabanata
28views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Synopsis

Ajeng Anak manusia yang bersekutu dengan jin demi membalas sakit hati yang dia rasakan. Sampai korban nyawa berjatuhan. perjanjian yang sudah dibuat tidak bisa dihentikan begitu saja.

view more

Kabanata 1

Pindah ke kota

Haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan. 


Dia adalah ajeng gadis yang masih menempuh pendidikan tingkat SMA. Dulunya dia tinggal disebuah desa yang sangat terpencil. Namun setelah kepergian  ibunya 1 bulan yang lalu dia ikut pamannya ke kota. 


Dikota dia akan tinggal bersama paman, bibi dan kedua anaknya yaitu wulan dan mba sarah. 


Ajeng dan pamannya baru sampai dari desa pukul 9 malam. Mereka turun dari mobil dan memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Mata ajeng masih celingukan kesana kemari terpesona dengan kemewahan rumah ini. 


Mereka langsung masuk kerumah menuju ke ruang keluarga. ajeng melihat ada seorang wanita dan 2 orang anak remaja, salah satunya masih seumuran dengannya.


"Assalamualaikum, papa pulang."

"Walaikumsalam." jawab wanita itu kedua remaja hanya menoleh lalu kembali asik dengan gawai nya masing masing.


"papa pasti cape banget ya?" ucap wanita itu sambil menyalami dan mencium punggung tangan paman. Dari situ aku tau kalau wanita itu adalah bibi ira. 


"inj ajeng ya? kamu sudah besar ya, dulu bibi liat kamu pas masih bayi loh, oh iya bibi ikut berduka cita ya atas meninggalnya mama kamu."


 "iya bi." ajeng lalu menyalami bibinya. 


 "Mah, papa cape banget. papa mau langsung tidur ya. Kamu urus ajeng ya." ira mengiyakan lalu Suryo pergi kelantai atas.


"Ajeng ayo ikut bibi ke kamar, kamu pasti cape ya?" 


Ajeng pergi mengikuti bibinya menuju ke sebuah ruangan. 


"ini kamarmu disini, istirahatlah kalau butuh apa apa minta aja sama bi inah ya. kamarnya ada didekat dapur. ingat jangan sungkan sungkan."


Ajeng masuk ke kamarnya, Ira menutup pintu dan meninggalkan ajeng. Langsung saja ajeng merebahkan tubuhnya dikasur. 


....


Keesokan harinya ajeng bangun pukul 8 pagi, begitu melihat jam dia terlonjak kaget, disambarnya kacamata yang ada dimeja lalu keluar dan berlari menuju ke kamar mandi. Dia adalah tamu dia merasa tak enak kalau bangun sangat siang seperti ini. 


Didapur dia melihat bibinya sedang mencuci piring, sepertinya satu keluarga ini baru selesai sarapan pagi. 


"ajeng mandi terus sarapan ya."


"iya bi." ajeng berlalu meninggalkan bibnya ia hendak ke kamar mandi membersihkan diri. 


Setelah mengganti pakaiannya ajeng menemui bibinya yang masih didapur. 


"Ajeng ayo sarapan,ini dimakan nasi gorengnya."


"Terimakasih bi. Paman sudah berangkat kerja ya bi?" 


"iya sudah. Tadi pamanmu bilang kalau kamu ngga cape nanti siang kamu ikut bibi ke sekolahnya wulan ya, nanti kamu akan sekolah disana juga. 


"aku udah engga cape bi, tapi bi kalau aku sekolah apa engga merepotkan paman?"


"enggalah jeng, udah ngga usah sungkan anggap aja bibi ini seperti ibumu, dulu ibumu juga baik sama bibi."


Ajeng merasa senang bisa kembali lagi bersekolah namun dia tidak tau bahwa dari sinilah penderitaannya dimulai.


......


Hampir 2 bulan ajeng sekolah dikota tapi selama itu pula tidak ada satupun anak yang mau berteman dengannya.  Hanya Susi temen sebangku yang mau berteman dengannya itu pun hanya sekedar duduk bersama, Susi tidak selalu ada bersama nya. 


Tapi ajeng sadar siapa yang mau berteman dengan anak cupu seperti dia. Anak kampung berkulit hitam, rambut ikal yang selalu dikepang, dan mata yang tak pernah lepas dari kacamata. 


Bayangan bersekolah yang menyenangkan berkawan dengan banyak orang kini sudah sirna yang ada hanya bully-an dari anak anak nakal. Terutama wulan, sejak kedatangan ajeng dirumahnya dia merasa iri padanya. Dia tidak suka ayah dan ibunya perhatian dengan ajeng. 


Siang itu dikantin sekolah sangat ramai, Ajeng sedang menunggu semangkok bakso yang dia pesan, dia duduk bersama susi. 


Dari kejauhan dilihatnya wulan yang sedang makan semeja bersama anak laki laki. Ajeng tau dia adalah rama kekasih wulan. Ajeng memang suka memperhatikannya diam diam, mungkin dia menyukainya. 


 Ajeng merasa pundaknya ditepuk dari belakang, dia menoleh ke belakang dan ternyata sudah ada meli dan fania teman geng nya wulan. 


"Hei cupu ngapain kamu liatin rama terus, gue aduin ke wulan mampus lu." Ajeng tidak menyadari saat ia memperhatikan rama ternyata mereka berdua menyadari itu. 


"Ditanya ko malah bengong, jangan jangan lu suka ya sama rama." ucap meli sambil menjambak rambut ajeng


Ajeng masih terdiam tidak tau harus menjawab apa. Sudah berulang kali dia diperlakukan kasar oleh mereka, itu semua karena suruhan dari wulan. Sebenarnya dia ingin melawan tapi percuma semua akan sia sia. Ajeng sudah tidak punya siapa siapa kecuali paman suryo ayahnya wulan. Dia tidak ada kuasa sedikitpun untuk membalas kejahatan wulan. 


Byurrrr... 

Ajeng gelagapan, nafasnya tersengal sengal karena guyuran air yang cukup banyak. Dilihatnya wulan yang berdiri disampingnya sambil memegang gelas besar. 


 "kanapa? kaget ya? meli bilang kamu sering ya perhatiin pacarku. aku ngga suka ya. Kamu itu anak kampung penampilan kamu aja cupu banget rama ngga bakal mau melirik kamu." wulan sangat marah sesekali dia mengacungkan jari telunjuknya ke wajah ajeng. 


"Kamu beruntung bisa tinggal bebas dirumahku tapi jangan senang dulu aku bakal bikin kamu menderita setiap hari disekolah."


Wulan meletakan keras keras gelas yang dia pegang, Dia mengambil botol saus dan menumpahkan hampir separuh isinya ke dalam bakso milik ajeng yang baru datang. 


Semua pandangan tertuju pada ajeng, dia sangat sedih, malu dan juga marah tapi dia tidak bisa apa apa.


Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan ajeng, susi yang sedari tadi duduk disamping hanya bisa mengelus pundak ajeng memberi dukungan untuk tetap sabar. 


Akan kubalas perbuatan kalian semua. Ucapnya dalam hati. 

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
9 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status