MasukBi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.
Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua."
"gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul.
"ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya.
"Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?"
"aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng enak loh tante."
Ira mengernyitkan dahinya sejak kapan rama minum kopi buatan ajeng.
"ehhh rama udah datang, ya udah deh ngga papa. nanti kita sediain juga air mineral yang kemasan ya."
"Lagi pada ngapain sih acara mau dimulai ko malah pada ngumpul didapur?"
Wulan menarik tangan rama dan menggandengnya ke ruang tengah.
"ayo buruan mama."
Acara intipun dimulai.
Ajeng duduk disofa dia mengawasi siapa saja yang meminum kopi buatannya.
Hampir 1 jam menunggu wulan masih belum minum kopinya. Dan sialnya malah rama yang meminum. Ajeng mulai bingung kopi yang diminum rama akan berpengaruh pada sikapnya terhadap ajeng atau menjadi tanda bahwa rama akan menjadi korban.
"Ajeng?" Sapa seseorang yang tidak asing baginya.
"Bang roni. kesini juga ya? susi mana?" tanya ajeng celingukan mencari teman baiknya itu.
"Katanya dia tadi mau ke toilet, makanya aku samperin kamu."
"ohh gitu ya, gimana kabarnya bang?" tanpa dijawab pun ajeng sudah tau keadaannya baik baik saja.
"baik, kamu sendiri gimana? udah ngga lemesan kan? ntar malah pingsan lagi?"
"hehehe ngga ko bang, udah baikan sekarang."
"iya syukurlah." rama menyudahi obrolannya keduanya saling diam. Roni hendak mengambil kopi yang ada dimeja makan tapi diurungkan keinginannya itu. Dia teringat pesan adiknya itu.
"Roni?" suara seseorang memecahkan keheningan antara ajeng dan roni.
"Sarah ko baru keliatan, dari mana aja?"
"baru pulang dari kuliah nih, banyak tugas." Sarah menjatuhkan tubuhnya ia duduk disebelah roni.
Mereka pun mengobrol panjang lebar. Tapi entah apa yang dirasakan ajeng dia merasa tidak suka kalau roni deket dengan perempuan yang sudah dianggap kaka baginya.
Tiba tiba rama datang menghampiri ajeng mereka duduk dan ngobrol bersama.
"Hei cupu masih berani ya kamu deketin rama dasar anak kampung."
Hampir saja tangan wulan mendarat dipipi ajeng tiba tiba saja tangannya dicegat kakanya sarah.
"wulan kamu apa apaan sih, acaranya sendiri ko mau bikin ribut." sarah melotot ke arah wulan
....
"Aaaaaaaarghhhh"
Semua orang kaget mendengar suara teriakan itu. Ajeng langsung berlari ke kamar mandi dia yakin suara itu berasal dari sana. Lalu disusul oleh semua orang.
Didalam toilet terkapar tubuh seorang anak perempuan. Tubuhnya tergeletak di lantai celana jeansnya dibasahi cairan merah seperti darah. Disebelah toilet tergeletak sebuah pembalut wanita yang sudah dipenuhi darah.
Ajeng berfikir mungkin itu ulah dari jin penolongnya. Ajeng tersenyum kecut dia teringat dewi anak muda yang sudah tak bernyawa itu pernah menghinanya.
"dasar anak kampungan. ehh gayanya mau ngerebut rama dari wulan, gue aja yang udah 2 tahun suka sama dia ngga dapet apa apa, apa lagi dia hahaha."
Semua orang panik masing masing saling berbisik. ada yang mengira kalau dewi tengah hamil dan hendak menggugurkan kandungannya itu.
Paman Suryo menghubungi polisi dan kedua orang tua dewi. Suasana rumah menjadi sangat ramai. Untuk sementara waktu kita sekeluarga menginap dihotel rumah akan diselidiki pihak kepolisian.
.....
Susi menuju ke kamar mandi, mengikuti temannya dewi. Dia melihat ada sosok nenek tua mengikutinya dan dia menebar aura kejahatan aura negativ.
"mau ke kamar mandi juga sus, aku duluan ya."
"iya duluan aja."
Beberapa menit menunggu susi masih biasa saja dia tidak mendapati hal yang mencurigakan.
5 menit kemudian susi mendengar suara gemuruh didalam kamar mandi disusul teriakan dewi.
Susi melihat ada awan hitam mengepul keluar dari fentilasi kamar mandi. Awan itu berputar mengelilingi susi, setelah itu dia terjatuh tak sadarkan diri.
.....
"Ajeng ini minumnya."
"rama, mama kamu kemana ko sepi banget?" ajeng menyeruput es teh yang disuguhkan rama.
"mama sama papa lagi pergi ke rumah nenek paling nanti malam juga pulanng."
"habiskan minumnya jeng."
Rama tersenyum kecil dia senang ajeng sudah menghabiskan minumnya. Diam diam rama sudah menambahkan sejumput bubuk ke dalam minuman itu. Tentunya itu bukan racun melainkan obat perangsang.
Rama membelai rambut ajeng sesekali tangannya merayap ke lehernya. Rama bisa melihat ajeng menutup mata dan menikmati sentuhannya. Setelah puas membelai rambutnya rama berpindah memeluk pinggang ajeng.
"ajeng aku sayang kamu." rama membisikan kalimat itu sehingga membuat ajeng bergidik geli.
"ahhh aku juga menyayangimu." ajeng tersentak saat rama memeluknya sangat erat.
"rama aku ke kamar mandi dulu ya." ajeng berlari kebelakang.
Rama mendecak kesal tapi dia tau sepertinya obat itu sudah beraksi. Dengan cepat dia menyusul ajeng ke kamar mandi. rama menunggu didepan kamar mandi cukup lama.
"Ajeng kamu lagi ngapain?"
Taka ada jawaban setelah beberapa menit menunggu ajeng keluar dengan wajah sayu. Rama langsung mendorong tubuhnya sampai terpentok ke tembok. Dengan liarnya rama mencumbu bibir ajeng beralih keleher. Ajeng sama sekali tidak berontak dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan rama.
Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.
"Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu
Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."
Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe
Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng
Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu
Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb