LOGINSumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.
Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.
Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah.
"Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur.
"Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."
"Apa mungkin itu semua ada campur tangan sama makhluk yang tak kasat mata budhe?" tanya meli antusias.
"Bisa jadi mel, orang jaman dulu percaya kalau wanita yang lagi datang bulan itu baunya wangi dan darahnya sangat disukai makhluk lain."
"Kebetulan ketiga anak itu meninggal saat datang bulan kan" sumi mencari kebenaran pada meli.
"iya bi."
Rumah ki danang sudah terlihat, rumah yang terbuat dari kayu, di samping pintu menggantung sebuah lampu ceplik.
"Permisi ada perlu apa." tanya seorang lelaki bertubuh kekar kepada kami.
"Saya mau bertemu ki danang." ucap sumi dengan tegas.
"Saya panggilkan sebentar."
Lelaki bertubuh kekar itu memasuki rumah bisa dilihat dari luar, dia memasuki sebuah kamar yang pintunya hanya tertutup oleh kain jarik berwarna putih.
"Silahkan masuk, ki danang menunggu."
Sumi dan meli memasuki kamar itu, kamarnya berasa pengap tapi sembab. Bau kemenyan menjadi parfum andalan sang dukun menyeruak dimana mana.
"Hahaha ternyata kamu sumi."
"Iya ini ki, gimana kabar ki danang?"
"Seperti ini lah sum, di usiaku yang sudah tua ini aku masih sendiri, entah bagaimana nasibku nanti."
"Yang sabar ya ki."
Ki danang berbicara panjang lebar dengan sumi, rupanya mereka sudah lama saling mengenal. Sampai akhirnya. perbincangan mereka menyinggung masalah kematian anaknya fania.
"Begitu lah ki saya merasa ada yang janggal." Sumi menghentikan sejenak penjelasannya, lalu dia menoleh pada meli.
"ini meli ki, dia temen anakku dia pernah berkata kalau 2 orang temannya juga meninggal dengan keadaan yang sama seperti anakku." Ki danang hanya manggut manggut mendengar penjelasan sumi.
Ki danang mentap tajam wajah meli. Lalu menoleh pada sumi.
"Apa kamu punya foto terakhir anakmu sebelum dia meninggal."
"Ahhh tidak ada ki." Sumi mengeluh lemas.
"maaf aku ada ki, ini foto diambil sebelum temen saya yang bernama dewi meninggal."
Meli memberikan ponselnya, dilayar ponselnya sudah ada foto dirinya dan beberapa orang temannya saat perayaan ulang tahun wulan.
Ki danang menatap lama foto itu setelah itu dia menyalakan dupa mulutnya komat kamit membaca sebuah mantra, matanya terpejam.
Gubraaakk
Ki danang terpental ke belakang, nafasnya tersengal sengal, keringat bercucuran membasahi wajahnya. Sumi dan meli hanya terpaku melihat kejadian itu, ada rasa takut melihat orang pintar itu terpental begitu saja.
"Ki ada apa ki?" Akhirnya sumi memberanikan diri untuk bertanya.
"Benar, anakmu meninggal karena ulah makhluk lain, kekuatannya sangat besar saya tidak sanggup menghadapinya sendirian."
Hening...
Ki danang pergi ke sebuah lemari ditangannya membawa sebuah kotak berwarna hitam.
"Kamu anak muda, pakai ini, jangan sampai terlepas. saya lihat ada tanda merah dikeningmu. bisa jadi kamu korban selanjutnya." Ki danang memberikan sebuah kalung yang terbuat dari tambang berwarna hitam yang ditengahnya ada sebuah batu berwarna merah.
"Tapi tidak selamanya kalung itu berfungsi suatu saat jika kamu diserang makhluk itu, dia tidak akan bisa menyentuhmu. Dan itu hanya berlaku 3 kali saja, jika kamu sudah 3 kali disentuh makhluk itu batu itu akan retak. Dan saat batu itu sudah mulai retak kamu harus waspada." Dia berikan kalung itu pada meli, meli langsung memakainya.
"Dan kamu sumi carilah orang pintar lainnya."
Sumi dan meli duduk dengan keadaan lemas. Setelah memberi beberapa lembar uang, Sumi dan meli berpamitan.
Dalam perjalanan sumi dan meli hanya terdiam terutama meli. Perkataan sang dukun sukses membuatnya ketakutan.
....
Sesampainya dirumah sumi dan meli disambut oleh wahyu, ustadz adam dan seseorang yang masih asing bagi sumi. Ternyata dia adalah Ustadz Nur guru dari ustadz adam, wahyu sengaja memintanya datang untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya yang dirasa tidak wajar.
"Ibu dari mana aja? bapa khawatir loh." Wahyu mengahmpiri istrinya yang terlihat lemas.
"Ibu dari rumah ki danang pak."
"Apa yang dia katakan?."
"Seperti dugaan ibu pak ada campur tangan makhluk lain atas kematian fania."
"maksudnya apa toh bu, kita bicara di dalam saja bu, mari pa ustadz."
Mereka semua masuk ke dalam rumah semua duduk diruang tamu.
Ustadz Adam sangat cemas dengan keadaan keponakannya. Meli terlihat lemas dan pucat.
Sumi menceritakan semua yang dikatakan ki danang sampai akhirnya dia menatap iba pada meli.
"Adam ki danang bilang kalau meli bisa jadi korban selanjutnya." Sumi menundukan kepalanya.
Bruuuk... seketika tubuh meli limbung dia tidak sadarkan diri. Adam mebawanya ke dalam kamar milik fania, sedangkan sumi duduk disamping meli. Dia terisak tidak bisa membayangkan anak dari kakanya itu bakal mengalami hal yang sama dengan putrinya.
Diluar wahyu, ustadz adam dan ustad Nur masih berbincang.
"Wahyu, benar kata istrimu anakmu meninggal karena ulah jin yang sangat kejam. aku juga lihat ada sosok makhluk yang sedang mendekati meli."
"makhluk itu perempuan, sepertinya ada seseorang yang sengaja mengundangnya, dia diperintahkan seseorang untuk menghabisi nyawa orang yang sudah ditandai. Adam kamu bisa lihatkan ada garis merah dikening meli, itu bukan satu kebetulan. Tanda itu sangat susah dihilangkan."
Hening...
"Mahluk itu akan datang saat korbannya dalam keadaan haid, sudah jelas ketiga anak itu meninggal karena ulah makhluk penghisap darah haid."
Wahyu dan ustadz adam hanya diam mendengarkan penjelasan ustdaz nur. Mereka tau dia bukan orang biasa dia sudah biasa dimintai tolong untuk menghadapi kasus kasus yang bersangkutan dengan makhluk alam lain.
"Adam kamu tau siapa dan dimana korban pertama meninggal?"
"Menurut cerita meli korban pertama yang meninggal itu dewi tepat dirumah temannya yang saat itu sedang mengadakan acara ulang tahun."
"Kita harus kesana?"
"iya ustadz, saya akan telfon temennya meli yang bisa mengantarkan kita kesana, sebaiknya meli disini saja."
Ustadz adam masuk kedalam dan mengambil ponsel milik meli. Dipanggilnya seseorang bernama susi. Susi adalah teman satu sekolah meli yang rumahnya berdekatan.
15 menit kemudian susi sampai dirumah fania.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam" jawab ketiga orang lelaki yang duduk diruang tamu.
"Susi sini duduk dulu." Ustadz Adam menceritakan tujuan dia memanggilnya. Ustadz Adam tau susi anak indigo jadi dia tidak ragu sedikitpun menceritakan apa yang sedang menimpa teman temannya.
Susi juga menceritakan semua kejanggalan yang dia lihat pada teman temannya termasuk ajeng.
"Baiklah paman, aku akan antar paman ke rumah wulan."
"Mari kita pergi sekarang mas, ustadz." Ustadz Adam dan ke empat orang itu pergi bersamaan. Saat hendak memasuki mobil tiba tiba mereka dikagetkan suara teriakan dari dalam rumah.
"aaaaaarghhh." ternyata itu suara meli.
Semua orang berlari ke dalam rumah menuju kamar tempat meli istirahat. Meli duduk diranjang dengan kedua tangan menjambak rambutnya sesekali kepalan tangannya memukul mukul kepalanya sendiri.
"Meli kamu kenapa?"
Wussss... tubuh ustadz adam melayang dia terjatuh menabrak lemari kayu. Wahyu berlari menghampiri ustadz adam dan membantunya berdiri.
Ustadz Adam hendak mendekati meli keponakannya, dia khawatir akan terjadi hal buruk pada dia. Tapi niat nya itu dicegah ustadz nur yang sedari tadi diam menatap meli.
"Jangan dekati dia adam, sekarang kalian ambil wudhu dan bantu saya berdzikir."
Semua orang menurut Wahyu dan sumi beranjak mengambil wudhu setelah itu bergantian dengan adam dan susi.
Meli terus membelai rambutnya seolah olah dia sedang menyisirnya. Tatapan matanya juga kosong, terdengar juga suara nyanyian yang sangat lembut namun terkesan menakutkan.
Setelah semua orang berkumpul ustadz nur meminta mereka duduk berdzkir dilantai sedangkan dia beranjak mendekati meli.
Ustadz nur menutup matanya mulutnya membaca syahadat lalu dia menatap meli.
"assalamualaikum? siapa kamu, pergi dan jangan ganggu kita lagi."
"Hihihi siapa aku tidak perlu kamu tau, haiii orang soleh jangan halangi tugasku jika kau ingin selamat!" Suara meli terdengar menggelegar.
"Dia adalah saudaraku aku berhak mencampuri apapun yang sedang dialaminya."
"Sekarang aku tanya siapa yang mengirimmu."
"Itu bukan urusanmu. Aku ditugaskan untuk membunuh anak ini dan beberapa orang lainnya. Jika kau ingin mencari tau siapa yang mengirimku kau cari tau saja sendiri. hihihihi tentunya dia adalah manusia sama seperti kau, manusia yang bodoh, manusia yang sudah mengucap janji denganku dan kalian yang aku bunuh akan kekal menjadi temanku dineraka hahahah."
"Sekarang pergi dan jangan ganngu anak ini lagi, dia tidak bersalah pergilah."
"kalian tidak akan pernah bisa melawanku hahahhaha."
Barang barang yang ada dikamar fania beterbangan tak karuan, seisi rumah itu bergoyang seperti di landa gempa. Angin dingin berhembus tak berarah. Gelak suara tawa makhluk itu semakin keras.
Kalian tetap berdzikir jangan sampai lengah.
"Allahu Akbar." Ustadz Nur menempelkan tangannya dikening meli saat itu juga dia terjatuh.
Tubuh meli tergeletak dikasur beriringan dengan menghilangnya suara tawa itu. Barang barang sudah jatuh berserakan, angin dingin pun sudah berganti dengan suasana yang tenang tapi tetap menegangkan bagi ke empat orang yang ada disitu kecuali ustadz nur, Dia sudah biasa mengahdapi situasi seperti ini.
Dengan kejadian yang menimpa meli mereka memutuskan untuk menitipkannya di pesantren milik ustadz nur.
Meli dijemput oleh beberapa murid ustadz nur sumi ikut bersamanya untuk sementara dia akan ikut menginap disana.
Sedangkan ustadz nur, ustadz adam, wahyu dan susi berangkat menuju ke rumah wulan mereka berangkat menggunakan mobil milik wahyu.
"Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu
Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."
Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe
Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng
Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu
Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb