/ 모두 / Pelet Darah Haid / Teka teki baru

공유

Teka teki baru

작가: Wullan Sucii
last update 게시일: 2020-11-02 08:42:35

Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama. 

 Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama. 

 Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka. 

 "Rama kamu benar benar menyayangiku kan?"

 "iya ajeng sayang." 

 "aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur." 

 "tanya aja."

 "kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?" 

 "ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe yang aku pacarin cuma kamu yang bikin aku gatel." 

 "ahhh masa sih?" 

 "serius sayang, aku minta maaf ya kalau aku sudah terlalu jauh seperti ini."

 "iya, yang penting kamu jangan pernah tinggalin aku ya." 

 Ajeng beranjak mengumpulkan baju bajunya yang berantakan dibawah ranjang, dia hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi langkahnya dicegah rama. Dia nemeluknya dari belakang. Dan dosa terindah itu terulang lagi. 

 ....

"Udah sore gini ko ajeng belum pulang ya. Emangnya kamu ngga tau dia mau kemana lan?" ira mondar mandir tak tenang menunggu ajeng yang belum juga pulang. 

 "ngga tau mah.. dia lagi pacaran kali.? wulan menjawab dengan wajah kesal dia tau kalau ajeng pasti pergi sama rama. 

 "assalamualaikum" ajeng membuka pintu lalu ira menghmapirinya. 

 "waalaikumslam" kamu dari mana aja jeng, bibi khawatir sama kamu. Badan kamu kenapa lemes gini?" 

 "Tadi aku kesasar bi aku muter muter untungnya ketemu sama temen terus kita main dulu ditaman deket situ." 

 "ohh gitu ya kenapa ngga nelfon bibi aja?" 

 "hp ajeng mati bi, ya udah ajeng ke kamar dulu ya bi, ajeng cape." 

 Ira merasa ada yang aneh tidak biasanya ajeng pulang terlamat seperti ini.

 .....

Semua anak duduk mengikuti pelajaran dengan tertib. 

 Dua orang anak perempuan dan satu orang anak lelaki memasuki kelas. Mereka adalah anak kelas sebelah yang aktif dalam Organisasi Intra Sekolah.

 "assalamualikum warohmatullohi wabarokatuh" 

 "walaikumsalam warphmatullohiwabarokatuh."

 "innaalillahi wainnilaihirojiun, telah meninggal teman kita susan atmadja."

"maka dari itu kita perwakilan dari para guru meminta doa dan sumbangan seikhlasnya untuk keluarga susan."

 Kedua anak OSIS itu mendekati satu persatu bangku dikelas dengan membawa kaleng bekas berisikan uang receh recehan. 

Semua anak kaget, termasuk ajeng dia sudah bisa menebak kalau ini semua ulah jin yang dia sebut sebagai penolong. 

"ya ampun susan kenapa ya,kemarin dia masih baik baik saja.?"

ajeng tak menaggapi pertanyaan susi dia hanya mengangkat bahunya. 

 "anak anak coba perhatikan sini, bapak akan pilih 6 orang anak yang akan ikut berkabung, nanti kalian berangkat bareng anak OSIS ya. meli, wulan, ajeng, susi, adam dan riki" 

...

Rombongan anak anak berseragam putih abu abu tiba dirumah duka. 

 3 orang guru dan 2 orang anak masuk kedalam rumah bertemu dengan ke dua orang tua susan. Sisanya menunggu diluar. Ajeng duduk bersama susi. 

 "bu, kalau boleh tau susan sakit apa ya bu, kayanya aku kemarin ketemu dia masih sehat sehat aja?"

 "ngga tau neng, kabarnya dia sehat sehat aja. tapi kematiannya ngga wajar neng. susan ditemukan sudah tak bernyawa dikamarnya, saat ditemukan tubuhnya sudah bersimbah darah, anehnya ngga ada luka sedikitpun dibandannya." jelas seorang ibu ibu pada susi tentu saja ajeng yang duduk disamping susi bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. 

 Diam diam ajeng tersenyum licik. 

....

 "Bu, badan aku ngga enak banget nih, aku tidur duluan ya." Fania pergi dari ruang keluarga menuju ke kamarnya,

 "Orang maghrib ko mau tidur." tegas wahyu ayahnya fania. tapi tidak dihiraukan fania. 

 "biarin aja pa, fania kan lagi datang bulan." jelas ibunya fania 

 Fania terbangun pukul 12 kurang dia berdiri mendekatai meja kecil diambilnya sebuah pembalut lalu pergi ke kamar mandi. 

 Wussss seklebat bayangan berwarna merah melintas dibelakang fania. 

"ibu? ibu lagi ngapain?"

 Fania berjalan menuju ke dapur dilihatnya sang ibu sedang bediri membuat minuman. Dia berdiri membelakangi fania. 

"ibu?" ibunya hanya diam dia menoleh ke arah fania wajahnya terlihat dingin sorot matanya tajam. Dia berlalu begitu saja. 

 "apa mungkin ibu sedang marahan sama ayah ya." 

 Tanpa fikir panjang fania memasuki kamar mandi dan segera menyudahi aktifitas yang bagi sebagian perempuan sangat merepotkan. 

 Fania berjalan kedapur rupanya dia membuang pembalut yang masih terlihat merah ke dalam tong sampah plastik.

 Angin dingin berhembus memasuki kamar milik fania. jendela yang tadinya tertutup sekarang sudah terbuka oleh angin. Suara hewan hewan malam bersautan satu sama lain. Lolongan suara anjing dan burung gagak terus terdengar sebagian orang tau kalau hewan hewan itu membawa pesan mengerikan pesan kematian.

 Fania merasakan tubuhnya kedinginan dilihatnya jam masih menunjukan pukul 3 pagi. Dia segera beranjak dan menutup jendela. 

"bukannya ini jendela sudah aku kancing ya." fania menutup jendela dan berbalik menuju ke ranjang. 

 Baru saja dia membalikan wajahnya dia kaget setengah mati, dihadapannya berdiri seorang perempuan berbaju merah wajahnya hancur sangat mengerikan dia bisa melihat wanita itu tersenyum melihatkan gigi taringnya. Fania ketakutan dia berteriak memanggil ibunya tapi tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, kini tubuhnya terpaku ditembok dia mencoba lari tapi tidak bisa. 

Nafas fania terputus putus saat tangan berkuku panjang itu mencekik lehernya. perlahan tubuhnya terangkat bersamaan dengan memanjangnya tangan makhluk itu. Fania merasakan perutnya sangat sakit sebisa mungkin dia mencoba melirik kebawah ternyata makhluk mengerikan itu sedang mengoyak bagian intimnya celananya robek. Dia merasakan kemaluannya dihisap sangat keras. 

"Aaaaaargh ibuuu." tubuh fania terjatuh ke lantai dan saat itu juga dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. 

 "pak bangun pak. tadi ibu denger suara fania teriak mannggil ibu." sumi terus mengguncang tubuh suaminya tapi suaminya itu semakin mendengkur. Terpaksa dia harus menemui anaknya sendirian. 

 Sumi merasakan hawa yang sangat dingin, tidak biasanya rumahnya berasa senyap mengerikan. Dibukanya kamar fania. 

 "faniaaaaa..." Tubuh sumi jatuh tak sadarkan diri dilantai. 

"bune? kenapa teriak teriak" Wahyu langsung bangkit dari tidurnya lalu berlari mencari sumber suara teriakan istrinya itu.  

 Wahyu berjongkok membangunkan istrinya dia menengok ke dalam kamar fania, Dilihatnya putri satu satunya itu tergeletak dilantai dengan bersimbah darah dimana mana. 

 "fania.. tolooooong tolong?" 

 Semua warga berdatangan ke rumah wahyu.

Setelah proses pemakaman selesai wahyu dan sumi duduk diruang tamu mereka ditemani sahabat baik fania yaitu meli, ada juga ustadz adam pamannya meli. 

 "yang sabar ya mba, mas."

 "entahlah adam, mba tidak ikhlas, kepergian fania begitu cepat, mba merasa ada yang mengganjal."

"kenapa mba bicara seperti itu." adam mendekatkan dirinya pada sumi.

 "Sebelum mba pingsan, mba sempat melihat ada bayang merah berterbangan dikamar fania, lalu mba melirik ke arah fania dia sudah ada dilantai dengan darah dimana mana." Sumi berbicara lalu tak lama kemudian dia menangis. 

 "siapa yang tega melakukan ini pada fania, dia anak yang baik." 

 Sumi terus meangis wahyu dan ustadz adam hanya diam terhanyut dengan fikirannya masing masing.

 "maaf om tante sebenarnya kejadian ini juga dialami dua orang temen meli, kronologisnya hampir sama dengan kematian fania." 

 "maksud kamu apa meli?" tanya wahyu dengan penasaran.

Sejenak meli menatap pamannya meminta persetujuan untuk bercerita. Sedangkan ustadz adam hanya menganggukan kepala pertanda bahwa dia setuju pada meli.

 "dua hari yang lalu ada dua temen meli yang meninggal, keadaannya sama seperti fania. meninggal dalam keadaan bersimbah darah." meli berhenti sejenak. 

 "kejadian yang pertama menimpa dewi. Paman tau kan malam minggu itu aku dan fania pergi ke acara ulang tahun wulan. Tepat dikamar mandi dewi meninggal dengan darah yang sebagian membasahi tubuh bagian bawahnya." 

 "ada dugaan dewi dibunuh tapi polisi tidak mendapati adanya tindakan kekerasan. ada juga yang menyangka kalau dewi sedang hamil dan mencoba menggugurkan kandungannya, tapi setelah dilakukan pemeriksaan dokter, tidak ada tanda tanda janin diperutnya."

Hening.... 

 "sampai sekarang penyebab kematiannya masih belum jelas. Disusul dua haru setelah itu susan temen kami juga meninggal keadaannya tak beda jauh dengan dewi dan fania."

"Jadi maksud kamu..." Wahyu menatap meli dan berganti pada ustadz adam, mereka berdua saling bertatapan. 

Ke empat orang itu masih bingung dengan teka teki kematian 3 orang anak perempuan yang kronologisnya hampir sama itu.

Ruangan sangat sepi hanya terdengar suara tangisan sumi. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelet Darah Haid   Gantung diri

    "Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu

  • Pelet Darah Haid   Kerasukan makhluk penghisap darah

    Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."

  • Pelet Darah Haid   Teka teki baru

    Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe

  • Pelet Darah Haid   Korban Pertama

    Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng

  • Pelet Darah Haid   Ajal Telah Mengintai

    Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu

  • Pelet Darah Haid   Pelecehan

    Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status