LOGIN"Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.
Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang.
"Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi.
"Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masuk disambut jabatan tangan suryo.
"Silahkan duduk, oh iya kayaknya ini temennya ajeng ya?"
"Iya bi, temennya wulan juga."
Ustadz Adam menjelaskan maksud kedatangannya. Ira dan suryo manggut manggut mendengar penjelasan ustadz adam. Mulai dari kaget, tegang dan diakhiri dengan raut wajah yang bingung dan juga takut terpancar diwajah kedua pasangan itu.
"Jadi teror itu pertama dimulai dirumah ini?" tanya ira dengan wajah dipenuhi keringat dingin.
"Iya mba, sekarang kita sedang mencari tau dari mana sumbernya. Dan kita harus hentikan korban korban yang berjatuhan." jelas ustadz adam kemudian
Hening....
Hampir dua jam kumpulan orang orang itu berbicara memecahkan teka teki yang tidak mudah. Sampai akhirnya masuklah ajeng ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, loh ada tamu, ada susi juga?"
"Walaaikumsalam." semua orang menatap wajah seorang anak remaja yang baru saja datang.
Ajeng merasa risih dilihat banyak orang yang belum dia kenal. Terlebih tatapan dari ustadz nur, matanya menyorot tajam ke arah ajeng.
Merasa dirinya tidak nyaman dia berpamitan ke dalam.
"Paman, bibi ajeng langsung ke dalam ya?"
Ajeng nyelonong begitu saja tanpa menyapa atau berpamitan pada orang orang itu.
Dia penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Dia putuskan untuk menanyakan pada susi besok disekolah.
....
Di mobil
"Susi siapa anak muda yang tadi itu?" tanya ustdz nur
"Dia ajeng anak angkatnya bapak suryo, dia juga satu sekolah sama aku dan meli." jawab susi dia menebak bahwa ustadz nur bisa merasakan hawa negatif menyelimuti ajeng.
"Akhhh bagaimana caranya meyadarkan dia?" Ustadz nur berkata sambil memegang keningnya. Terlihat diaraut wajahnya dia seperti memikirkan sesuatu yang rumit.
Wahyu yang duduk disampingnya mendengar keluhan ustadz nur.
"Maksud ustadz apa?"
"Menurut penglihatanku ada aura jahat menyelimuti gadis itu. secara tak kasat mata tubuhnya dilumuri darah."
"Jadi anak itu yang bersekutu dengan jin pembunuh?" ucapa wahyu .
"Belum tentu, belum ada bukti yang kuat saat ini wahyu. Susi ceritakan apa saja kejadian saat pesta itu." ustadz nur menatap susi.
"awalnya biasa saja ustadz, sampai pada acara terakhir saat semua anak bersantai santai menikmati kopi dan makanan makanan ringan tiba tiba tak lama ada jeritan seorang anak dikamar mandi. namanya dewi, sebelum dia ke kamar mandi aku liat dia berjalan dengan diikuti sosok perempuan berbaju merah yang sangat mengerikan." jelas dewi pada ustadz nur, wahyu juga menyimak ceritanya.
"Kemudian banyak orang berdatangan lalu mendobrak pintu kamar mandi dan... setelah saya lihat tubuh dewi sudah bersimbah darah yang sangat banyak. setelah itu aku tak tau lagi karena waktu itu aku pingsan."
"ada berapa banyak orang yang datang ke pesta itu?" tanya ustadz nur.
"sekitar 50 orang, karena yang diundang cuma temen temen sekelas aja."
"baiklah satu yang jadi kecurigaanku, kenapa harus minumnya kopi bukankah biasanya pesta identik dengan makanan atau minuman yang berwarna warni?"
Hening....
"Susi satu tugas untuk kamu, cari tau siapa saja anak yang mempunyai tanda merah dikening dan jangan sampai ajeng tau rencana kita. Dan kamu adam tetap temani meli di pondok sampai kasus ini benar benar selesai.
"Baik ustdaz." ucap adam dan susi bersamaan.
......
Tok tok tok
"Wulan?" Ira membuka pintu dan menghmpiri anak keduanya.
"Iya ma."
"wulan kamu sudah tau kan? apa yang sedang teman temanmu alami. Dimanapun kamu berada kamu harus waspada ya! dan ingat selalu sama yang maha melindungi."
"iya ma, mama ngga usah khawatir ustad nur bilang tidak ada tanda merah dikeningku."
"iya tapi kamu harus tetap jaga diri hati hati ya?"
"iya ma."
"ya udah tidur gih, udah malem."
Ira mengecup kening putrinya lalu berbalik keluar kamar. Setelah bertemu dengan ustad nur hatinya berasa tak tenang. Apa lagi dia mempunyai dua orang gadis yang mungkin termasuk korban dalam teror ini.
Ira beranjak ke kamar ajeng. Fikirannya terlalu kalut sampai dia lupa mengetuk pintu kamar ajeng.
Dilihatnya ajeng sedang mondar mandir di samping ranjangnya dengan wajah yang cemas.
"Ajeng kamu kenapa?" Ira mengahmpiri dan duduk di tepi ranjang milik ajeng.
"Ehhh engga papa bi."
"Ajeng kamu ingat tamu yang tadi siang kan?"
"Iya bi, yang perempuan itu temen satu kelasnya ajeng."
"Iya. mereka membicarakan teror yang sedang menimpa teman teman kamu.Teror yang korban pertamanya terjadi dirumah kita." Ira berbicara dengan pandangan yang nanar.
Ajeng hanya diam, dia sedikit takut jika semua ini terbongkar.
"Ya sudah jangan difikirkan, kamu tidur ya udah malem, pesen bibi dimanapun kamu berada kamu harus waspada dan hati hati ya."
"Iya bi."
Ajeng tersenyum "Kalian tidak mungkin bisa menghentikan teror ini."
.....
Susi berlari tergesa gesa dia tau dia akan terlambat kesekolah. Abangnya Roni tiba tiba jatuh sakit. Terpaksa dia berjalan kaki ke sekolah.
Susi berjalan di lorong sekolah semua anak sudah masuk ke dalam kelasnya masing.
"assalamualaikum, maaf pa saya terlambat." susi masuk ke kelasnya disambut tatapan puluhan pasang mata.
"Baiklah langsung duduk."
Susi berjalan melewati meja meja kelas, tempat duduknya berada dipojok paling belakang. Dia merasakan ada hawa yang tidak biasa. Dia teringat pesan ustadz nur untuk mencari tau berapa jumlah anak yang punya tanda merah dikening.
Susi hampir tak percaya ternyata hampir semua anak yang ada dikelas ini mempunyai tanda merah dikening. Hanya beberapa anak saja yang tidak mempunyai tanda itu. Yaitu dirinya wulan, ajeng dan dua orang anak perempuan lainnya.
Susi meletakan tasnya lalu dia duduk dan mengikuti pelajaran seperti anak anak lainnya. Saat pelajaran berlangsung susi melihat ada seekor burung gagak hinggap dijendela kelas miliknya. Sayangnya tidak ada yang tau hal itu kecuali dirinya sendiri.
Dia tau ini adalah pertanda buruk.
"Pa saya ijin mau ke toilet sebentar." Ucap seorang anak lelaki yang segera keluar kelas.
Perasaan susi mulai cemas entah kenapa kelas itu berasa sangat panas. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang kelas. dilihatnya ada dua bangku yang kosong. satu milik meli dia tidak masuk karena sekarang dia ada di pondok milik ustad nur untuk dijaga dari hal hal buruk yang mungkin akan menimpanya.
Satu lagi bangku kosong milik rama. Susi tidak menyadari kalau rama keluar sudah cukup lama. Semakin lama perasaannya semakin tidak karuan. Susi terus menatap bangku kosong milik rama.
"Jeng rama ngga masuk ya?" tanya susi pada ajeng.
"masuk kok tadi dia ke kamar mandi."
Hening...
"Ohh iya susi, emangnya bener ya kamu suka sama aldo? aku kasih saran mau ngga?"
"hehe ko kamu tau, iya sih aku emang suka tapi dia kan udah punya pacar." wajah susi memerah. Tiba tiba ajeng mendekatkan wajahnya pada telinga susi.
"Mendingan kamu pake aja pelet darah haid kamu. hasilnya tokcer banget, aku sendiri udah pake itu ke rama." Setelah membisikan hal itu susi melihat wajah ajeng sangat sumringah. Berbeda dengannya yang melotot kaget dengan ucapan Ajeng.
Sebenarnya susi sama sekali tidak tertarik dengan saran ajeng. Tapi dia coba pura pura tertarik siapa tau ini bisa jadi jalan susi untuk mengorek informasi tentang teror itu.
"Nanti istirahat aku kasih tau caranya."
....
Jam pelajaran sudah hampir selesai tapi rama belum juga kembali ke kelasnya. Tadinya ajeng berniat untuk menyusulnya. Tapi niat itu dia urungkan karena penasaran dengan tawaran ajeng.
Saat jam istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar sebagian ada yang ke kantin, perpustakaan dan ada juga beberapa orang yang masih ada dikelas.
"Gimana jeng?" Susi penasaran dengan tawaran ajeng tapi dia tidak tertarik untuk melakukannya.
"kalau kamu mau, kamu pelet aja tuh si aldo. Caranya gampang ko, kamu tinggal campurin aja darah haid kamu ke dalam kopi hitam terus kasih kopi itu ke aldo. dijamin dalam sehari dia bakal tunduk sama kamu."
"tapi apa engga ada efek sampingnya jeng."
"engga lah. kamu bisa liat kan rama yang tiba tiba mau gitu aja sama aku."
Susi hanya manggut manggut.
Saat mereka sedang berbincang bincang tiba tiba masuk tiga orang anak ke dalam kelas dan menghampiri susi dan ajeng.
"heii ajeng, kamu ngga tau ya. itu pacar kamu gantung diri dikamar mandi."
"apa?"
Ajeng dan susi terbengong lalu keduanya sama sama berlari menuju ke kamar mandi. Sedangkan ketiga anak itu duduk dan membicarakan rama dan kematian tiga orang temannya yang berturut turut.
"Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu
Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."
Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe
Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng
Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu
Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb