LOGINWulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.
Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia.
"Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama.
"sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.
Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya.
....
"kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya.
"beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.
Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamburan hendak pulang ke rumahnya masing masing. Terlihat seorang anak perempuan berlari tergesa gesa mengejar seseorang.
"sayang aku pengin banget pulang bareng sama kamu. tapi tadi aku liat ada mobil mama kamu di depan sekolah. kamu udah ditunggu ya."
"aku mau pulang bareng ajeng."
"ya udah tapi sayangnya ngga bisa ajeng mau ikut aku ke mall beli baju buat nanti malam. kamu pasti datang kan sayang."
"tumben kamu baik sama dia. nanti malam aku mau temui ajeng diacara kamu, bukan untuk nemenin kamu."
Wulan sangat geram dengan perkataan rama dia sangat heran kenapa tiba tiba dia berbalik membecinya. Padahal dulu dia sangat patuh dengannya.
.....
"Lepasin aku, kalian apaan sih." ajeng mencoba melepaskan cengkraman kedua anak yang biasa menjailinya itu.
"Diem kamu." Melli menggertak ajeng lalu menyeret ajeng ke belakang sekolah.
Mereka masuk ke sebuah gudang kosong. Didorongnya tubuh ajeng sampai tersungkur ke lantai.
"apa mau kalian." ajeng merasa takut kalau kedua anak itu berbuat nekat. Bagaimanpun juga mereka ada 2 orang dia tidak akan mampu melawannya.
Wulan memasuki gudang itu sambil membawa 3 buah spidol berwarna hitam, merah dan biru. Ajeng bertambah ketakutan. Apa yang akan mereka lakukan.
Ajeng merasa tangannya dicengkram kuat kuat disebelahnya ada meli dan fania yang tersenyum melihat ajeng kesakitan. Semakin ajeng memberontak maka semakin kuat cengkraman ditangannya itu.
Wulan mendekat mengayunkan tangannya, diarahkannya spidol itu kewajah ajeng. Dia mencoret asal spidol itu sampai wajah ajeng penuh dengan tiga warna spidol itu.
Tak selesai sampai disitu wulan mengambil paksa kacamata yang melekat di wajahnya lalu dilempar ke sembarang tempat.
Meli tidak tinggal diam sebelah tangannya mengacak acak rambut ajeng.
Wulan mengambil botol mineral yang ada ditasnya dan disiramkan ke wajah ajeng.
Tak ada perlawanan dari ajeng dia hanya bisa menangis mau melawan pun percuma mereka bertiga sedangkan dia sendirian.
"hei cupu, oke mungkin sekarang kamu sudah berhasil merebut rama dariku. tapi aku ngga akan menyerah gitu aja."
Ajeng menatap heran pada wulan, dia tidak habis fikir sifatnya sangat berbeda 100% dengan kedua orang tuanya.
"inget ya malam nanti rama bakal kembali ke pelukanku dan kamu jangan harap bisa mendekatinya lagi!"
Wulan melempar botol yang dia pegang lalu mendekati ajeng.
"mungkin sekarang kamu udah ngga cupu tapi lihat badanmu kerempeng ngga berisi, payudaramu ngga ada, hahaha." ajeng meremas payudara ajeng. Sontak saja ajeng kaget.
Dia menangis sejadi jadinya baru kali ini dia mengalami yang namanya pelecehan. Dia merasa dirinya begitu bodoh.
"hahaha dasar si anak payudara tepos, ayo kita pergi." wulan pergi diikuti kedua temannya. Sebelum pergi wulan sempat meludah ke arah wajahnya.
Ajeng masih diposisi semula, hatinya sangat pedih, dia hanya bisa menangis membayangkan kejadian yang baru saja menimpanya. Tangisnya terhenti saat ia mendengar langkah kaki seseorang. Dipeluknya kedua lututnya erat erat, tubuhnya menggigil dia takut kalau wulan datang dan mengulangi perbuatan jahatnya lagi.
"ada siapa didalam?"
Ajeng bernafas lega yang dia dengar adalah suara lelaki, bukan wulan.
Lelaki itu memasuki gudang matanya menagkap keberadaan ajeng. Sontak dia lari menghampirinya.
"kamu temennya susi kan? sedang apa disini." lelaki itu adalah bang roni satpam muda di sekolah ini. kebetulan juga dia adalah kakanya susi.
Roni mengambilkan kacamata dan memberikan pada ajeng. lalu dia membantunya berdiri dan memapahnya ke depan dibawanya dia ke pos satpam tempatnya bertugas.
3 Lembar tisu putih diserahkan pada ajeng.
"pergilah ke kamar mandi bersihkan wajahmu."
Seperti seseorang yang sedang dihipnotis ajeng menuruti perintah roni.
Setelah membersihkan wajahnya ajeng kembali menghampiri Roni.
"Kau baik baik saja? Biar kuantar pulang ya?"
"iya boleh." Ajeng tidak bisa menolak karena memang dia tidak baik baik saja seluruh tubuhnya berasa lemas.
....
"Kau bisa datang padaku, aku bisa mengabulkan semua permintaanmu, termasuk mengambil nyawa orang yang telah menyakitimu." Ajeng bisa melihat wanita yang sekarang berada didepannya.
Wanita berambut panjang dengan baju berwarna merah itu menyeringai menatap ajeng.
"datanglah padaku datanglah... hahahaha." suara tawanya membuat kepala ajeng berasa pening gendang telinganya tidak bisa menerima kerasnya suara itu.
"aaaaarrgh pergi..."
Perlahan ajeng membuka matanya kepalanya merasakan belaian yang sangat lembut.
"Ajeng kamu ngga papa." Mata Ira menatap sendu wajah keponakannya itu.
"ngga papa bi." ajeng mengedarkan plandangannya keseluruh ruangan, dicarinya sosok lelaki yang tadi siang menemuinya, tapi dia tidak menjumpainya.
"apa kamu mencari roni, satpam yang mengantarmu pulang? dia sudah pulang baru saja. dan dia sudah menceritakan semuanya." Ajeng hanya diam tidak menanggapi omongan bibinya itu. Dirinya masih sangat terpukul.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? siapa anak yang berani melukaimu nak." ucapnya lagi tapi ajeng masih terpaku matanya kosong tak lama kemudian air mata membasahi pipinya.
"bibi aku ingin sendiri dulu."
"baiklah kamu istirahat ya." Ira keluar tepat didepan pintu ira menatap sedih wajah ajeng. Ajeng anak yang penurut dan rajin dia sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Bayang bayang pelecehan itu masih menari dihadapannya Kemudian dia teringat lagi mimpi yang baru saja dialaminya.
Tiba tiba ajeng tertawa lirih.
"lihat saja sang penolong sudah datang, hihihi."
"Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu
Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."
Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe
Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng
Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu
Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb