Home / Lahat / Pelet Darah Haid / Pindah ke kota

Share

Pelet Darah Haid
Pelet Darah Haid
Author: Wullan Sucii

Pindah ke kota

Author: Wullan Sucii
last update Petsa ng paglalathala: 2020-10-24 16:01:48

Haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan. 


Dia adalah ajeng gadis yang masih menempuh pendidikan tingkat SMA. Dulunya dia tinggal disebuah desa yang sangat terpencil. Namun setelah kepergian  ibunya 1 bulan yang lalu dia ikut pamannya ke kota. 


Dikota dia akan tinggal bersama paman, bibi dan kedua anaknya yaitu wulan dan mba sarah. 


Ajeng dan pamannya baru sampai dari desa pukul 9 malam. Mereka turun dari mobil dan memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Mata ajeng masih celingukan kesana kemari terpesona dengan kemewahan rumah ini. 


Mereka langsung masuk kerumah menuju ke ruang keluarga. ajeng melihat ada seorang wanita dan 2 orang anak remaja, salah satunya masih seumuran dengannya.


"Assalamualaikum, papa pulang."

"Walaikumsalam." jawab wanita itu kedua remaja hanya menoleh lalu kembali asik dengan gawai nya masing masing.


"papa pasti cape banget ya?" ucap wanita itu sambil menyalami dan mencium punggung tangan paman. Dari situ aku tau kalau wanita itu adalah bibi ira. 


"inj ajeng ya? kamu sudah besar ya, dulu bibi liat kamu pas masih bayi loh, oh iya bibi ikut berduka cita ya atas meninggalnya mama kamu."


 "iya bi." ajeng lalu menyalami bibinya. 


 "Mah, papa cape banget. papa mau langsung tidur ya. Kamu urus ajeng ya." ira mengiyakan lalu Suryo pergi kelantai atas.


"Ajeng ayo ikut bibi ke kamar, kamu pasti cape ya?" 


Ajeng pergi mengikuti bibinya menuju ke sebuah ruangan. 


"ini kamarmu disini, istirahatlah kalau butuh apa apa minta aja sama bi inah ya. kamarnya ada didekat dapur. ingat jangan sungkan sungkan."


Ajeng masuk ke kamarnya, Ira menutup pintu dan meninggalkan ajeng. Langsung saja ajeng merebahkan tubuhnya dikasur. 


....


Keesokan harinya ajeng bangun pukul 8 pagi, begitu melihat jam dia terlonjak kaget, disambarnya kacamata yang ada dimeja lalu keluar dan berlari menuju ke kamar mandi. Dia adalah tamu dia merasa tak enak kalau bangun sangat siang seperti ini. 


Didapur dia melihat bibinya sedang mencuci piring, sepertinya satu keluarga ini baru selesai sarapan pagi. 


"ajeng mandi terus sarapan ya."


"iya bi." ajeng berlalu meninggalkan bibnya ia hendak ke kamar mandi membersihkan diri. 


Setelah mengganti pakaiannya ajeng menemui bibinya yang masih didapur. 


"Ajeng ayo sarapan,ini dimakan nasi gorengnya."


"Terimakasih bi. Paman sudah berangkat kerja ya bi?" 


"iya sudah. Tadi pamanmu bilang kalau kamu ngga cape nanti siang kamu ikut bibi ke sekolahnya wulan ya, nanti kamu akan sekolah disana juga. 


"aku udah engga cape bi, tapi bi kalau aku sekolah apa engga merepotkan paman?"


"enggalah jeng, udah ngga usah sungkan anggap aja bibi ini seperti ibumu, dulu ibumu juga baik sama bibi."


Ajeng merasa senang bisa kembali lagi bersekolah namun dia tidak tau bahwa dari sinilah penderitaannya dimulai.


......


Hampir 2 bulan ajeng sekolah dikota tapi selama itu pula tidak ada satupun anak yang mau berteman dengannya.  Hanya Susi temen sebangku yang mau berteman dengannya itu pun hanya sekedar duduk bersama, Susi tidak selalu ada bersama nya. 


Tapi ajeng sadar siapa yang mau berteman dengan anak cupu seperti dia. Anak kampung berkulit hitam, rambut ikal yang selalu dikepang, dan mata yang tak pernah lepas dari kacamata. 


Bayangan bersekolah yang menyenangkan berkawan dengan banyak orang kini sudah sirna yang ada hanya bully-an dari anak anak nakal. Terutama wulan, sejak kedatangan ajeng dirumahnya dia merasa iri padanya. Dia tidak suka ayah dan ibunya perhatian dengan ajeng. 


Siang itu dikantin sekolah sangat ramai, Ajeng sedang menunggu semangkok bakso yang dia pesan, dia duduk bersama susi. 


Dari kejauhan dilihatnya wulan yang sedang makan semeja bersama anak laki laki. Ajeng tau dia adalah rama kekasih wulan. Ajeng memang suka memperhatikannya diam diam, mungkin dia menyukainya. 


 Ajeng merasa pundaknya ditepuk dari belakang, dia menoleh ke belakang dan ternyata sudah ada meli dan fania teman geng nya wulan. 


"Hei cupu ngapain kamu liatin rama terus, gue aduin ke wulan mampus lu." Ajeng tidak menyadari saat ia memperhatikan rama ternyata mereka berdua menyadari itu. 


"Ditanya ko malah bengong, jangan jangan lu suka ya sama rama." ucap meli sambil menjambak rambut ajeng


Ajeng masih terdiam tidak tau harus menjawab apa. Sudah berulang kali dia diperlakukan kasar oleh mereka, itu semua karena suruhan dari wulan. Sebenarnya dia ingin melawan tapi percuma semua akan sia sia. Ajeng sudah tidak punya siapa siapa kecuali paman suryo ayahnya wulan. Dia tidak ada kuasa sedikitpun untuk membalas kejahatan wulan. 


Byurrrr... 

Ajeng gelagapan, nafasnya tersengal sengal karena guyuran air yang cukup banyak. Dilihatnya wulan yang berdiri disampingnya sambil memegang gelas besar. 


 "kanapa? kaget ya? meli bilang kamu sering ya perhatiin pacarku. aku ngga suka ya. Kamu itu anak kampung penampilan kamu aja cupu banget rama ngga bakal mau melirik kamu." wulan sangat marah sesekali dia mengacungkan jari telunjuknya ke wajah ajeng. 


"Kamu beruntung bisa tinggal bebas dirumahku tapi jangan senang dulu aku bakal bikin kamu menderita setiap hari disekolah."


Wulan meletakan keras keras gelas yang dia pegang, Dia mengambil botol saus dan menumpahkan hampir separuh isinya ke dalam bakso milik ajeng yang baru datang. 


Semua pandangan tertuju pada ajeng, dia sangat sedih, malu dan juga marah tapi dia tidak bisa apa apa.


Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan ajeng, susi yang sedari tadi duduk disamping hanya bisa mengelus pundak ajeng memberi dukungan untuk tetap sabar. 


Akan kubalas perbuatan kalian semua. Ucapnya dalam hati. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pelet Darah Haid   Gantung diri

    "Bibi aku mau kerumah temen dulu ya bi" ajeng berpamitan lalu mencium tangan bibinya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.Ira terlihat bahagia karena ajeng sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, selama ini dia hanya diam saja dirumah, hal itu membuat dirinya takut kalau ajeng tidak betah tinggal bersamanya.Setelah mengantarnya keluar Ira masuk keruang tamu dan duduk lagi bersama suaminya Suryo.Tok tok tok"Assalamualaikum.""Ahh baru saja duduk sudah harus bangkit lagi." decak ira dengan kesal tapi dengan cepat suryo menyentil hidungnya yang mancung, dengan begitu wajah kesalnya menghilang."Walaikumsalam." Ira membuka pintu dan yang pertama kali dilihatnya adalah susi."Silahkan masuk bapa bapa." Ira membuka pintu lebih lebar lalu mereka semua masu

  • Pelet Darah Haid   Kerasukan makhluk penghisap darah

    Sumi masih terisak, dia tidak rela anak satu satunya meninggal dengan keadaan tidak wajar. Dalam hatinya dia berniat untuk pergi ke dukun. Tak lupa dia juga mengajak meli siapa tau dia punya informasi yang bisa membantu sang dukun.Ki danang menjadi salah satu tujuan untuk mengorek informasi tentang kematian anaknya fania. Ki danang memang tinggal sekampung dengan sumi tapi jarak rumahnya dengan warga yang lain sangat jauh.Ki danang menetap dirumah sederhana jaraknya tak jauh dari tempat pemakaman tua. Pemakaman orang orang jaman dahulu yang pernah menjadi tempat bertemunya ajeng dan temannya jin penghisap darah."Apa budhe yakin mau ke orang pintar." Sumi dan meli berjalan dijalan setapak yang dipenuhi lumpur."Bude sangat yakin mel. Budhe merasa ada yang janggal dengan kematian fania. Apalagi kamu bilang 2 temanmu juga mengalami hal yang sama seperti fania."

  • Pelet Darah Haid   Teka teki baru

    Sebenarnya ajeng merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Darahnya berdesir hangat dia tidak mampu menolak setiap tindakan yang dilakukan rama.Ajeng membuka matanya dia melihat jam sudah menunjukan pukul 4 sore dia harus pulang takut bibinya mencarinya. tapi dia enggan untuk beranjak dari ranjang milik rama.Tanpa malu malu ajeng memeluk rama yang masih tertidur, perlahan matanya terbuka."Rama kamu benar benar menyayangiku kan?""iya ajeng sayang.""aku mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur.""tanya aja.""kamu udah pernah lakuin ini ya sama wulan?""ahhh belum jeng. ini pertama kalinya aku lakuin sama kamu. Entah kenapa aku ngga bisa nahan diri kalau lagi bareng sama kamu. Kamu itu beda sama anak anak lain. Dari sekian banyaknya cewe

  • Pelet Darah Haid   Korban Pertama

    Bi inah pergi dari dapur dengan cepat ajeng menuangkan sedikit demi sedikit darah haid miliknya ke dalam cangkir lalu ditambahkan gula dan kopi hitam. Diam diam ajeng membuat 50 cangkir kopi hitam bercampur darah miliknya.Senyumnya menyeringai penuh kemenangan "hahaha ajal telah mengintai kalian semua.""gimana jeng, sirup yang tadi sore kemana?" tanya bi ira yang tiba tiba muncul."ehh engga tau bi, kayanya tadi sore masih ada dikantong plastik deh." ajeng menyudahi aktifitas mengaduk kopinya."Terus kamu bikin apa itu? masa kopi jeng minumnya?""aku juga ngga tau bi, didapur adanya gula sama kopi ya udah aku bikin aja." ucap ajeng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu."ngga papa ko tante, acaranya pasti sampe larut malem, minum kopi cocok buat mata melek, lagian kopi buatan ajeng

  • Pelet Darah Haid   Ajal Telah Mengintai

    Kebetulan haid yang ditunggu telah datang, tamunya itu memang biasa datang ditanggal muda. Sekarang hatinya sudah sangat yakin ingin melakukan ritual itu, ritual pelet darah haid. Karena hanya Dengan cara ini dia bisa membalaskan sakit hati yang selama ini dia rasakan.Ajeng adalah anak baik yang selalu tersakiti. Sedikit perbuatan dan perkataan yang menggoreskan luka dihatinya bisa merubahnya menjadi manusia yang sangat kejam.Tidak ada lagi keraguan atau rasa takut dihatinya yang ada hanya rasa dendam yang berapi api. Sekarang juga akan dia balas orang orang yang sudah menyakitinya. Sebelumnya dia sudah pernah menggunakan darah haidnya untuk memelet seorang lelaki yang dia sukainya. Dan rencanya itu sukses besar membuatnya semakin yakin untuk melakukan ritual yang kedua ini yaitu ritul pelet darah haid untuk membunuh orang orang yang telah menyakitinya.Ajeng berdiri didepan cermin yang cu

  • Pelet Darah Haid   Pelecehan

    Wulan memasuki mobil disusul oleh ajeng. wulan duduk didepan disamping Suryo yang mengemudikan mobil berwarna hitam itu. Dengan cepat mobil itu melaju membelah jalanan.Setibanya dikelas wulan langsung membagikan kartu kecil berwarna biru kepada teman temannya dibantu meli dan fenia."Semuanya harus datang ya temen temen, pokonya acaranya meriah banget deh." ucep meli didampingi fania sedangkan wulan berjalan mendekati rama."sayang nanti kamu temenin aku terus ya. Aku udah siapin baju cauple buat kita.Rama hanya mendehem tidak memperdulikan wulan yang bergelantung manja dipundaknya....."kalian udah tau kan apa yang musti dilakukan nanti siang." bisik wulan kepada dua orang temannya."beres bos." jawab meli dan fania serentak lalu ketiganya tertawa bersamaan.Pukul 1 lebih 15 menit anak anak berhamb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status