" ... hanya tuhan yang tahu kenapa yang selamat hanya diriku?
Aku menyaksikan sendiri ketika diantar melihat kuburan teman-temanku yang berada tidak jauh dari reruntuhan kapal.
Ketika aku sudah kuat duduk, aku mulai menghitung kerusakan pesawat
Badan pesawat hancur dan tercecer sepanjang 5 km.
Busai terakhir adalah seperempat badan pesawat dan kabin pilot masih tertinggal padanya.
Sejak itu aku mulai membiasakan diri dan bergaul dengan para penolongku.
Rongsokan pesawat ini sekarang menjadi rumahku."
Kirani terus baca halaman-halaman diary dengan keingintahuan semakin besar.
"Berbulan-bulan tinggal bersama mereka, sekarang aku sudah bisa bicara dengan bahasa mereka.
Aku sampai pada kesimpulan bahwa planet Saturnus ini keadaannya sama dengan di bumi.
Hapus sudah keyakinanku bahwa kehidupan hanya ada di bumi!
Bahkan hampir setiap malam aku menghabiskan waktu bersama Magadorran mengeliling api unggun sambil menyantap bakaran hasil buruan mereka tadi siang.
Mereka memperlakukan aku sebagai seorang Dewa yang turun dari langit.
Setelah ada waktu, aku mulai mengoreksi konsep konstruksi pesawat luar angkasa columbus.
Kuncinya ada pada magnetisme setiap planet. Magnetisme ini membuat planet berotasi dan memproduksi atmosfir.
Pesawat untuk penerbangan luar angkasa harus cocok dengan kondisi magnetisme planetnya.
hal ini pulalah yang telah merubah total cara pandang sebuah planet dan bagaimana membangun sebuah pesawat luar angkasa.
Dari barang-barang sisa di bangkai pesawat, aku bekerja mengevaluasi konsep konstruksi columbus di dalam bangkai colombus yang beberapa ruangan masih menyimpan batre sehingga ada untuk penerangan.
Sebagai balas jasa, aku mengajarkan teknologi sederhana kepada para penolongku yang ternyata warga dari sebuah kerajaan besar yang bernama Magadorr sesuai mayoritas penduduknya dari tanah Magor.
Aku mengajarkan Magadorran membuat teknologi mesin uap pada pedati. Pedati diubah menjadi sebuah mobil sederhana.
Tetapi akhirnya aku melihat sisi buruk dari mereka
Mereka haus perang dan kusesali telah mengajarkan teknologi kepada mereka yang ternyata dipakai oleh mereka untuk memerangi suku-suku bangsa lain
Pada saat mengajarkan seseorang mengendarai mobil dan disoraki oleh yang lain, yang mengejar-ngejar dari belakang, Raja Magadorr turut menonton langsung bersama para pejabat kerajaannya.
Pada waktu itu juga aku sedang memperbaiki alat komunikasi dan berusaha terhubung dengan bumi.
Usahaku tidak sia-sia, akhirnya tim evakuasi menemukanku.
Pesawat tim telah belajar dari kejatuhan columbus di planet ini sehingga bisa mendarat dan menjemputku.
Supaya tidak terjadi konfrontasi dengan mereka, aku berpamitan baik-baik dan menjanjikan akan kembali kepada mereka.
Tetapi mereka tidak percaya padaku dan menghalang-halangi rencana kepergianku.
Tepat pada hari penjemputan, aku berhasil mengelabui mereka dan berhasil kabur.
Ketika orang yang telah kuajari mulai mengajarkan kepada yang lain mengendarai mobil.
Raja Magadorr dan para pejabat kerajaannya menjadi lengah.
Pada saat itulah Aku berhasil menyelinap pergi.
Kembali ke bumi, aku bersama para insinyur DepPAN memperbaiki konstruksi pesawat luar angkasa agar bisa ulang alik Bumi- Saturnus secara wajar.
Semua pengetahuanku kukerjakan di pabrik yang memproduksi pesawat-pesawat proyek columbus, bekerja bersama para insinyur lainnya.
Tetapi untuk kedua kalinya aku harus kecewa menghadapi keserakahan manusia.
DepPAN dan Dewan Keamanan PBB menutup-nutupi ke publik bahwa ada manusia di Saturnus.
Alasan bahwa bila disampaikan ke publik akan menimbulkan polemik baru dan akhirnya orang tidak mau migrasi ke planet Saturnus, aku bisa memahaminya. Tetapi aku curiga ada hal lain yang mereka tutupi. Cuma Aku tidak tahu persis apa itu?
Kecurigaanku pada energi Bornorium. Energi ini sudah menipis dikuras di Bumi untuk proyek columbus, sedangkan di Saturnus tentu saja melimpah. Tetapi aku tidak punya bukti dugaan ke arah itu.
Aku sempat protes dan menuntut penjelasan, tetapi akhirnya malah aku sendiri diasingkan!
Terakhir aku bekerja di sana, menyempatkan melihat teman-temanku bekerja di pabrik dari balik kaca jendela. Hal ini sangat menyedihkan bagiku, karena itu duniaku.
Sejak itu aku menjadi tahanan rumah dan hidupku terancam bila aku membocorkan semua ini ke publik. Aku bisa lihat setiap memandang ke luar jendela rumah, aku melihat beberapa orang mengawasi rumahku.
Semua kekecewaanku hanya bisa kutuangkan semua ini ke dalam diary ini."
Akhirnya Kirani menyelesaikan baca halaman terakhir lalu menutup Diary dan memegang erat-erat karena barang ini ternyata sangat berharga!
Sekarang semua sudah jelas bagi Kirani. Jake dalam bahaya karena terbukti orang-orang Magadorr adalah agressor dan Kapten Rikwanto sendiri menyesal telah memberikan bantuan kepada mereka.
Sekarang aku tahu kemana harus mencari Jake!
Bisa jadi Jake rencananya pergi ke Kerajaan Magadorr, tetapi firasatku mengatakan, Jake pergi ke tempat di mana pesawat pionir columbus jatuh, gumam Kirani.
Banyak alasan deh aku menduga ke sana, tetapi memang itu satu-satunya yang masuk akal.
Tapi yang paling penting sekarang aku harus sembunyikan dulu diary ini di tempat aman.
Kirani turun dari ranjang lalu membenahi semua barang-barangnya.
Aku tidak bisa mengandalkan Lembaga dan PBB yang telah menyia-nyiakan Kapten Rikwanto, bahkan mungkin akan memperlakukan sama kepada Jake. Hanya aku yang bisa diandalkan oleh Jake, pikir Kirani.
Ia menjentikkan jarinya, Trek! Aku tahu harus minta bantuan kepada siapa untuk bisa pergi ke tempat itu!
Lalu Ia bergegas menyalakan komputer yang selalu standby.
Tidak butuh waktu lama, Kirani sudah tersambung dengan Mattew.
Wajah Mattew telah muncul di layar.
"Ran, ada apa?" tanya Mattew, "Aku belum punya kabar soal Jake."
"Bukan itu maksudku menghubungimu," sela Kirani. "Tapi ada hal yang lebih penting!"
"Apa itu?" tanya Mattew, "apa yang bisa kubantu, Ran?"
"Jangan di sini." Cegah Rani. "Sekarang juga Kita ketemuan di guest house!" []
Beberapa saat kemudian Rani berhasil memaksa Mattew menemuinya di café guest house.
Mattew datang mengenakan seragam tantara, tetapi tanpa membawa senjata satupun.
Mereka sudah duduk di sebuah meja dan ada dua cangkir kopi telah dipesan.
"Ran, maafkan aku," sesal Mattew. Ia mengira datang kemari akan disalahkan oleh Kirani.
Rani diam saja.
"Ini minggu ketiga semenjak Jake hilang. Tapi aku belum mendapatkan kabar apapun, bahkan dari Batalyon sendiri juga sama. Suer, Ran Aku akui yang memulai bikin kekacauan ini Maaf."
Hati Rani menjadi luluh dan sebenarnya telah lama sadar ini semua di luar kuasa siapapun.
"Gak apa-apa..." Ucap Kirani. "Ini bukan salah siapa-siapa. Ini eksiden. Lagi pula aku memintamu datang ke mari bukan untuk membicarakan soal itu." Ujar Rani.
"Oh ya, trus apa dong?" Selidik Mattew. "Kayaknya serius banget ...?"
Rani memberi isyarat agar Mattew datang lebih dekat. Lalu Ia bicara bisik-bisik ke telinga Mattew.
Kirani belum selesai bicara, Mattew sudah bereaksi terkejut !
"Apa!?" Seru Matt. Tapi buru-buru Mattew menurunkan volume suaranya dan bersikap biasa sambil tengok kiri kanan. Kuatir orang lain curiga dengan kelakuannya.
"Tapi ini MUSTAHIL!" Ujar Mattew sambil membuka buku-buku jari kedua tanganya sambil mengangkat bahu.
"Baiklah kalau kau tidak mau menolong Aku dan Jake!"
Pelan-pelan Rani berdiri hendak meninggalkan Mattew. "Tapi tetap akan kulakukan walaupun tanpa bantuanmu!"
"Eit, tunggu, tunggu!" Cegah Matt.
Rani menunda langkahnya tanpa menengok.
Namun demikian Mattew sempat mengeluh. "Ahh kamu tidak memberikan aku pilihan!"
Tampak Mattew dalam keadaan dilematis. Tapi akhirnya, "baiklah!" Ujar Matt menyanggupi walaupun merasa berat.
Mendengar hal itu air muka Rani berubah menjadi gembira. []


