LOGINMalam harinya.
Waktu itu sudah gelap dan Purnama di langit Saturnus nampak di atas.
Rani, Maria, Johanes dan Irina menuntun unicycle masing-masing dengan lampu dalam keadaan mati dan pergi sambil mengendap-endap.
"Mana Tania dan Hendra?" Tanya Irina.
"Mereka gak jadi ikut?" Tanya Johanes pula.
"Penakut!" Umpat Irina.
"Tadi Tania sempat bilang padaku," Ujar Kirani. "Dia gak jadi ikut, takut ketahuan."
"Mereka gak asyiik!" Omel Maria.
"Kalo Hendra?" Tanya Johanes lagi.
"Kalo Hendra aku gak tahu, Dia di sub sektor lain dan seharian tadi aku tidak bertemu dengannya."
"Ya udah, kita terus saja ya gak!" Ujar Tania.
Yang lain mengangguk sepakat.
Unicycle yang dituntun Kirani dan teman-teman jenis matik dan masing-masing mengenakan helm dan juga mantel. Tentu saja mereka tidak lupa membawa tabung oksigen portable di punggungnya sebagai cadangan.
Gedung mess sudah jauh ditinggalkan dan tampak kecil di belakang mereka.
Tidak lama kemudian rombongan yang menuntun unicycle tiba di depan pos jaga militer.
Jake, Matttew dan beberapa tentara lain telah menanti dengan unicycle mereka pula.
Kali ini mereka tidak berseragam dinas dan hanya membawa pistol saja yang tersimpan aman disarungnya pada pinggang masing-masing.
Unicycle yang mereka naiki berbeda tipenya dengan yang dibawa oleh Rani dan kawan-kawan.
Unicycle militer bukan antigravitasi dan beroda ban. Modelnya sejenis dengan motor sport yang memiliki kopling 6 gigi.
Kirani dan ketiga temannya bergegas menaiki unicycle masing-masing dan mulai menyalakan mesinnya. Di sini barulah mereka berani menyalakan mesin.
Akhirnya kedua rombongan berbaur dan mulai berangkat.
Matt sempat memberikan acungan ibu jari kepada dua orang petugas jaga yang berdiri di depan pos.
Dua petugas jaga hanya memandang iri kepergian mereka.
"Gede milik tuh si Jake, bisa pergi bareng gebetannya," Ujar petugas piket bertubuh gendut.
"Kecian deh loe, masih jomblo!" Ejek petugas piket lain.
"Ah, loe juga!" Timpal si Gendut tidak mau kalah.
"Apes deh Gue," keluh si Gendut sambil garuk-garuk kepala tidak gatal. "Tempo hari pergi ke ngarai, eh, bareng eloe, sekarang eloe lagi, loe lagi!"
Meskipun saling ejek, sesungguhnya, mereka sahabatan jadi tidak ada yang sakit hati.
Tetapi tanpa sepengetahuan mereka, komandan jaga telah berdiri di belakang.
Ia berbadan tinggi besar dan kumis tebal melintang di atas bibir tebal.
"Moga-moga Sersan Dmitry gak tahu kepergian mereka." Ujar si Gendut lagi. "Kalo ketahuan, bisa gawat nih ...."
Sementara itu teman si Gendut sudah melihat kehadiran Komandan jaganya, sehingga membuatnya menjadi salah tingkah.
"Mereka bawa unicycle diluar dinas." Keluh si Gendut berperut buncit.
Tiba-tiba si Gendut mulai curiga melihat temannya menggerak-gerakan kepala ke arah belakang dirinya.
"Kenapa loe, kayak nglihat setan saja?" Tanya si gendut yang tidak mengerti dan tidak tahu teman jaganya sedang berusaha memperingatkan dirinya.
Di belakang si gendut, Sersan Dmitry bertolak pinggang sambil pasak muka galak.
"Setannya ada di sini!" Kata Dmitry.
Ibarat ada geledek di siang bolong, si Gendut terkejut. "S-E-R-S-A-N," Ujar penjaga yang lagi apes ini lirih dan terbata-bata sambil berbalik badan pelan-pelan. []
Iring-iringan cahaya lampu unicycle melaju menerobos malam yang gelap.
Tiba-tiba Nguung ...! Irina menyalip motor Mattew yang berada paling depan.
Mattew dibuat terkejut mendengar suara mesin unicycle yang halus telah berada di sampingnya langsung tancap gas mendahuluinya.
"Hei, Kau jangan nyalip!" Ujar Mattew sambil berteriak karena kaget.
"Sory!" Ejek Irina.
Mattew tidak terima disalip oleh cewek. Kontan saja ia langsung tancap gas mengejar Irina.
Yang lain tidak mau kalah saling adu balap dengan penuh keriangan.
Jalan mulai menanjak karena sudah mulai naik bukit.
Irina dengan Mattew terlalu asyik saling kejar-kejaran, sehingga lupa ada Kirani dan Jake yang mengejar mereka.
Akhirnya mereka berhasil disalip oleh Rani dan Jake.
"Sory! Duluan," Teriak Kirani yang datang menerobos di antara Irina dan Mattew.
Irina dan Matt terpaksa membanting stir ke samping.
Irina hendak protes, tetapi batal karena pada saat itu Jake sudah datang menyusul Kirani pula.
"Hei! Main curang, ya." Teriak Irina.
Jake cuma tertawa puas.
Adu balap motor telah melalui bibir jurang yang curam dan menanjak pada bukit gersang berbatu. Bukit-bukit di seberang tampak masih gelap dan sebaris cahaya tampak di kaki langit.
Mereka akhirnya sengaja membiarkan Kirani dan Jakob berjalan duluan.
Dan pada akhirnya Rani dan Jake membawa motornya berjalan sejajar mendaki bukit.
Ketika mereka tiba di puncak bukit Cudakadit, langit masih gelap dan cuaca masih terlalu dingin.
Ternyata di puncak ada sebuah tiang berlogo Columbus yang menunjukkan tempat itu masih merupakan wilayah kota New Batavia.
Rani tiba duluan dan meninggalkan unicyclenya begitu saja. Bila dalam keadaan mesin menyala, unicycle akan selalu mengapung seimbang jadi tidak perlu disandarkan.
Tidak lama kemudian Jake datang menyusul.
"Sudah sampai!" Ujar Kirani bersemangat.
Rani membuka kaca helm dan menarik nafas dalam-dalam. "Wow!" segar.
Gadis cantik bertubuh sintal ini merentangkan kedua tangan dan terpesona melihat pemandangan di depan matanya. Sementara itu Jake sudah berdiri di samping Rani.
Mereka berdia berdiri di pinggir tebing dan di bawah terhampar sebuah ngarai.
Tiga garis aurora tampak terbentang mulai dari ujung langit di sebelah kiri hingga ujung langit di sebelah kanan mereka.
Di siang hari ketiga aurora tampak tipis, tetapi di malah hari sangat jelas terlihat apalagi di tempat seperti ini tanpa cahaya-cahaya seperti di New Batavia.
Keindahan di tempat ini semakin tampak karena di samping bulannya, jutaan bintang bertaburan di langit yang cerah. Dan bulan di planet ini banyak untuk planet seluas Saturnus.
Di bumi, aurora hanya di lihat di kutub utara dan kutub selatan saja atau di daerah dekat dengannya. Karena massa negatifnya ada di kutub utara dan positifnya di selatan.
Tetapi di Planet ini kutub utara dan kutub selatan massanya positif sedang negatifnya berada di seputar ekuator planet sehingga angkasa di khatulistiwa memiliki aurora seperti ini.
"Kok bisa begitu ya?" Ujar Jake sambil berdecak kagum. "Secara fisika itu tidak mungkin terjadi! Massa yang sama akan terjadi tolak menolak. Dan seharusnya planet ini sudah lama terbelah, tetapi fakta unik inilah yang terjadi di sini? Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan!"
"Yang berada di tengah antara kedua massa negatifnya, itu adalah kutub netral," jelas Rani sambil mengacungkan telunjuk ke atas. Jake ikut menegok ke arah yang ditunjuk oleh Rani.
Kutub netral itu pula yang merekatkan kedua kutub yang sama massanya. Dan sebab itu pula mengapa auroranya berjumlah tiga.
Pada saat itu yang lain baru tiba dan langsung ikut terpesona melihat bentang alam di hadapan mata mereka.
"Bagaimana kita tahu sedang berada di utara atau selatan ekuator?" Tanya Irina yang sekarang dalam keadaan bingung.
Tetapi kebingungan Irina wajar karena yang lainpun demikian, sehingga menganggap pertanyaan Irina mewakili mereka.
"Bisa lihat di kompas," Ujar Jake menggoda Irina. Lalu Ia lanjutkan dengan penjelasan yang lebih serius. "Lihat bulan itu," tunjuk Jake pada bulan yang tampak paling besar di antara bulan-bulan di langit yang berada di sebelah kanan mereka.
"DepPAN telah menetapkan jumlah bulan di Halo ada 9. Nah, itu adalah bulan yang paling dekat dari tempat kita berdiri sehingga terlihat paling besar di lihat dari tempat ini. DepPAN telah memberi nama D2292. Bulan itu penanda navigasi di malam hari, kita sedang berada di utara ekuator dan berada di sebelah kanan planet. Jadi nanti pagi matahari terbit di sebelah kiri kita."
Mendengar penjelasan Jake, mereka manggut-manggut tanda mengerti.
"Lihat," seru Tania, "bulan itu di tengahnya ada noktah hitam. Coba kalian perhatikan kayak bentuk apa ya?"
Mereka semua melihat bulan itu lebih teliti.
"Kayak gambar hati," tebak Jake, "bener gak teman-teman?"
"Ah dasar loe," sela Mattew. "Mentang-mentang lagi jatuh cinta, ngeliat apa saja dibilang gambar LOPE!"
"Cie!" Serempak yang lain menertawakan Jake.
Sontak Jake menjadi salah tingkah dan hanya mampu garuk-garuk kepala tidak gatal.
"Tapi bener kayak lope!" Ujar Maria dan Johanes berbarengan.
"Eh, Iya bener!" Sahut Irina.
Lalu mereka asyik memperhatikan noktah hitam yang paling besar di bulan itu.
"Nama yang dikasih oleh DepPAN gak asyik!" Ujar Kirani.
"Gimana kalo kita kasih nama bulan itu, bulan Kasmaran!" Goda Maria.
"Jangan, jangan. Kita kasih nama bulan L-O-P-E saja!" Usul yang lain.
"Ya, ya setuju. Kita kasih nama bulan itu bulan Lope!"
Kirani dan Jake sadar mereka terusan-terusan menjadi sasaran sindiran teman-teman, sehingga menjadi salah tingkah.
Tetapi teman-temannya tidak tega terus-menerus menggoda keduanya. Akhirnya mereka membiarkan saja Kirani dan Jake berdua saja. Mereka pergi mencari tempat yang lain.
Sementara Rani masih memandang ke atas, Jake malah memandangi wajah Rani.
Indah, ya ucap Rani yang masih terkagum-kagum.
"Tapi lebih indah kedua bola matamu,
Ups!" Seketika Jake menutup mulutnya sendiri menyadari bicaranya tadi adalah keceplosan.
Seketika pula wajah Rani merona. Rani tersipu dan menyembunyikan wajahnya dengan cara memunggungi Jake.
Sementara Jake sendiri menunggu-nungu apakah ucapannya yang spontan itu akan membuat Kirani marah?
Keduanya akhirnya menjadi terdiam dan tetap memandang lurus ke depan saja.
Karena kelihatannya Rani tidak marah, akhirnya timbul keberanian Jake, Ia lalu menggeser badannya lebih merapat ke Rani.
Perlahan-lahan tangan Jake menyentuh tangan Rani. Dan Rani diam saja sehingga Jake semakin memberanikan diri meraih jemari tangan Rani.
Kini jemari Rani sudah digenggam oleh tangan Jake. []
AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah
Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be
Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake
"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k
Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J
Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib