Home / All / Sky Seeker / Close Encounters of the Third Kind

Share

Close Encounters of the Third Kind

Author: Handi Yawan
last update publish date: 2020-11-01 08:51:15

Moment jadian Jake dan Rani tidak luput dari perhantian teman-temannya yang diam-diam memperhatikan dari jauh.

"Lihat, lihat!" Seru Maria, "mereka jadian!"

"So sweet ...."  Ucap Irina yang turut senang melihat hal itu.

Rupanya yang lain pun ikut senang melihat moment ini.

"Aku akan temui mereka," kata Mattew sambil melangkahkan kaki ke arah mereka. "Aku mau kasih selamat!"

"Eh, jangan, bro!"  Larang Maria. "Nanti malah ngganggu acara!"

Benar juga pikir Matt sehingga membatalkan niatnya.

Tampak tangan Rani yang tidak digenggam oleh tangan Jake sedang menunjuk ke suatu tempat. Rupanya Rani mengajak Jake pergi ke tempat lain.

"Kita ke sana, yuk!"

Rani menuntun tangan jake pergi ke spot yang lain.

Jake ikut saja kemana tangannya ditarik oleh Rani meniti jalan berbatu untuk mencari tempat yang lain.

Setelah mendapatkan tempat yang cocok, Rani berhenti di sebelah kanan sebuah dinding tebing yang menjorok ke tepi jurang, tetapi masih ada celah dan cukup untuk jalan setapak yang bisa dilalui.

Ia betah melihat keindahan ketiga aurora di angkasa yang seolah-olah sebuah tirai yang membungkus malam.

Di balik tirai cahaya yang berwarna warni dan selalu beriak-riak, jutaan bintang berkelap kelip pula menemani sang rembulan yang purnama.

Cahaya-cahaya di langit mengalahkan gemerlap lampu-lampu di kota New Batavia.

Puluhan pesawat berlalu lalang terbang di atas kota New Batavia ibarat kunang-kunang terbang menari di antara pepohonan.

"Prinsip mesin pada kapal-kapal induk columbus, space shuttle, pesawat militer, unimob, unicycle dan lain-lainnya mengadopsi magnetism pada planet ini, sehingga cocok digunakan di sini." Papar Rani.

Ia begitu saja membuka percakapan dan entah Jake menyimak atau tidak?

Namun gadis dengan senyum manis ini tetap melanjutkan bicaranya.

"Setelah para ilmuwan memahami magnetism planet ini, mereka menempatkan kutub netral di antara positif dan negatif untuk kabin awak pada pesawat ulang-alik."

Ternyata Jake mendengarkan apa yang dikatakan oleh kekasihnya, tetapi pandangannya sama-sama tetap ke depan.

"Gak nyesel deh datang ke sini." Kata Jake.

Ya tentu saja Jake tidak menyesal datang kemari karena sedang bersama Kirani.

Mereka masih berpegangan tangan dengan erat dan berdiri di tepi ngarai memandang ke langit yang sekarang mulai terang oleh matahari yang mulai terbit di timur.

Tampak Aurora mulai menipis dihapus oleh kemilau cahaya mentari.

Fajar mulai menyingsing di arah kanan tempat mereka berdiri dan bila tidak menginjakkan kaki langsung rasanya Rani dan Jake tidak percaya sedang melihat sendiri perubahan lingkungan yang berangsur-angsur ini.

Tanpa sepengetahuan mereka, dari balik bukit muncul tiga orang. Salah satunya menuntun seekor hewan beban yang memuat barang-barang.

Ketiga orang itupun tidak menyadari kehadiran Rani dan Jake yang berdiri memandang ke depan.

Tiga orang itu mengenakan mantel tebal dan panjang hingga melewati lutut.

Mantel yang mereka pakai ada kerudungnya, tetapi kerudungnya dibiarkan di belakang saja namun demikian mereka tidak terlihat kedinginan.

Mereka memakai sepatu boot dari kulit dan masing-masing membawa sebilah pedang panjang dan satu lagi berbilah pendek.

Senjata-senjatan tajam itu berada dalam sarungnya yang diselipkan pada ikat pinggang.

Tetapi di antara ketiga orang itu ada yang berbeda penampilannya. Dia tampil lebih elegan. Rahangnya kekar dan sorot mata tajam.

Orang gagah ini berambut panjang dan kumis menyambung dengan jenggot, tetapi tetap menampakkan ketampanan dan berwibawa.

Lalu seseorang berjalan mendampinginya. Ia tampak gagah pula tetapi wajahnya dingin dengan air muka bengis.

Walaupun rambut bagian atasnya diikat, tetapi panjang dan tergerai sampai menyentuh bahu.

Sementara itu orang yang menuntut tali kekang berjalan di belakang mereka dengan khidmat.

Yang luar biasa adalah hewan yang dituntun pada kekangnya.

Hewan ini mirip keledai, tetapi sepasang tanduk di atas kepalanya seperti tanduk kambing.

Dua pasang kakinya sangat kekar dan berkuku besar pula. Ekor keledai ini panjang dan bulu-bulunya mekar seperti ekor burung merak.

Ketika tiga orang itu lewat persis di depan mata Jake dan Kirani, barulah ketiganya berdiri terpaku melihat kehadiran orang lain.

Mereka terkejut ketika menyadari kehadiran Rani dan Jake

Di saat yang sama Jake dan Rani pun ikut kaget hingga melepas pegangan satu sama lain. Keduanya telah melihat kehadiran mereka yang telah berada di depan mata.

Kedua pihak saling berhadapan dan melihat satu sama lain seolah-olah tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya! []

Air muka ketiga orang itu tampak sekali terkejut campur takjub melihat manusia dalam pakaian yang asing dan berbeda dengan mereka.

Rani dan Jake pun tidak kalah terkejut dan heran pula.

Mereka melihat ada manusia lain di tempat seperti ini karena sepanjang pengetahuan di Planet Saturnus tidak dihuni oleh manusia?

Dua orang dari mereka maju menghadapi Rani dan Jake. Tampak sikap segan dan penghormatan dari mereka ditunjukan kepada Rani dan Jake.

Kedua orang itu merangkapkan kedua tangan masing-masing sambil membungkuk.

"Sadalladm ...." ujar orang berbadan besar dan bertampang bengis.

"Hadammabad hashem nget," sambungnya. "Danglim Magadorr.

 Apadakh danade denawddar ladengidt?"

Tentu saja Rani dan Jake menjadi kikuk karena tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Orang itu menyambung perkataannya. "Kadimikeda marmedunujka dahyangad jedepututnubuwadat."

Pada saat itu Mattew dan yang lain sudah datang. Mereka datang tergopoh-gopoh pula melihat ada orang asing di tempat itu.

Mattew dengan ramah menyodorkan tangan mengajak berjabat tangan pada orang paling dekat dengannya. Ia senang melihat kehadiran orang-orang asing itu yang tidak di duga berada di tempat ini.

Orang paling berkarisma di antara mereka, justru terlihat kaget melihat Mattew mengajaknya berjabat tangan.

Tiba-tiba suasana berubah cepat. Orang yang diajak berjabat tangan mundur beberapa langkah sambil memegang hulu pedangnya. Begitupula dua orang yang berdiri di belakangnya.

Orang yang berwajah bengis menepis uluran tangan Mattew.

Dan tidak berhenti di sana, tangganya mendorong dada Mattew.

"Hei!" Semua teman- teman Mattew berteriak protes melihat tindakan kasar orang itu.

Namun Mattew masih tetap memasang wajah riang.

"Santai bro ...."  ujar Mattew sambil mengangkat bahu,  "aku cuma mau kenalan dengan kalian!"

Tapi orang kasar itu mengacungkan jari memberikan tanda ancaman kepada Mattew

"Mudennader!" Bentaknya. "Jadengad sedentudtu duadakadimi."

Sayang, Mattew tidak paham situasinya dan dia malah menganggap situasi tidak serius

"Jangan terlalu serius, kita ngopi dulu."  Ajak Mattew sambil menurunkan ranselnya dan mengambil sebuah termos kecil. "Aku bawa cukup kopi untuk kita supaya lebih santai."

Mattew bergerak memutari si tinggi besar hendak mendekati orang yang satunya lagi.

Rupanya usaha Mattew dianggap oleh mereka sebagai tindakan ngeyel sehingga si tinggi besar mendorong dada Mattew lebih keras daripada yang tadi.

"Dentidi!" Bentaknya. "Sidiadh!"

Kali Mattew yang mulai tidak senang. Segala usahanya mencairkan suasana tidak berhasil.

"Hei!" ujar Mattew sambil mengangkat kedua tangannya, "jangan main kasar! Aku bersikap ramah, kenapa balasanmu seperti ini?" keluh Mattew.

Kirani menjadi kuatir keadaan menjadi di luar kendali. Lalu Ia menegur Mattew.

"Matt, mundur!" Suruh Rani.

Tetapi justru yang terjadi malah sebaliknya. Mattew dan si Wajah bengis saling berhadapan muka.

Sekalipun Mattew termasuk jangkung, tetapi dibandingkan si badan tinggi besar, jidat Mattew hanya setinggi hidung lawannya.

Tangan kanan si badan gede di letakkan pada hulu pedangnya, sementara Mattew bertolak pinggang dan tampak sekali Mattew tidak gentar sedikitpun. Semua ini memaksa Rani tampil menengahi mereka.

"Sudah, Matt!" Kirani melerai.

"Ntar dulu," kata Mattew. "Dia harus diajarin sopan santun!"

 ;Kamu tau gak,"  kata Rani, "sekarang situasinya jadi gak enak!"

"Tapi, Ran ...."  Bantah Mattew.

Sekarang Rani berdiri di antara si muka bengis dan Mattew.

Sementara itu di belakang Rani, orang yang diajak berjabat tangan bicara ke si muka bengis.

"Adn tedep!" Kata orang itu yang bernada menegur kepada si tinggi besar dan bermuka bengis.

"Udurdeng badalidk badae de!"

Tampaknya si tinggi besar bertampang bengis patuh pada apa yang dikatakan orang itu.

Melihat hal itu, malah Mattew semakin merasa tidak dihargai.

"Hei! Bicara apa, Kamu?" Tanya Mattew.

Mattew bicara lantang ke teman si jangkung berbadan gede. Tapi orang gagah itu mengacuhkan saja. Dan mereka bertiga malah berjalan menjauh.

Ketiga orang asing memutar badan pergi dari tempat itu. Melihat hal itu Kirani berbalik badan ke arah Mattew, sambil bilang, ;Biarkan mereka pergi!" []

Tiga orang asing itu berjalan pergi dari tempat itu.

Tetapi rupanya Mattew tidak terima begitu saja. Dari balik tubuh Rani, Mattew meneriaki mereka

"Enak aja loe," Mattew mengejek mereka. "Udah songong, sekarang pergi begitu saja. Huh!"

Tidak disangka si tinggi besar menghentikan langkahnya.

Rupanya si tinggi besar dan bertampang kasar habis kesabaran pula menghadapi kengeyelen Mattew. Ia berbalik badan lalu berjalan menemui Mattew.

Untuk kedua kalinya Rani ditempatkan pada posisi berdiri di antara mereka.

"Mau apa lagi kau?" Tantang Mattew.

"Modontodong ngadago dorwodok kad dunugadan kadimi!"  Bentak si tinggi besar. dari nada suara jelas Ia tidak senang, "Modotadrsidiadh!"

Tampang si tinggi besar yang sudah bengis tampak menahan geram pula.

"Ngomong apa Loe?" Balas Mattew.

"Matt!" Kali ini Rani menegur keras Mattew.

"Pergi sono!" Umpat Mattew ke si tampang bengis. "Dasar songong!"

Tiba-tiba si Tinggi besar yang berwajah bengis telah mencabut pedangnya dan menodongkan ke dada Mattew.

"Radng danjadr!" Maki si bengis pula.

Rani berdiri antara si Bengis dan Mattew sambil merentangkan kedua tangan untuk melerai mereka kembali.

Di saat yang sama Mattew telah mencabut pistol dari pinggangnya.

"Hei, jangan menodongkan pedang kepadaku!" Mattew memperingatkan si Muka bengis.

Sekarang Mattew mengacungkan pistol ke arah si Muka bengis sementara lawannya menodongkan pedang ke dada Mattew.

"Astaga!" keluh Rani dalam hati.

Suasana sudah kalut dan teman-teman si Muka bengis telah mencabut pedang dari sarungnya pula.

Mereka bertiga berdiri saling melindungi sambil bersiap dengan pedang terhunus.

Melihat keadaan telah menjadi genting, Jakob Ubar cemas melihat kekasihnya berdiri di antara dua kubu dalam keadaan seperti itu.

"Rani, mundur!" Pinta Jake.

Akhirnya Jake pun turut mencabut pistolnya dan menodongkan ke arah tiga orang asing itu.

Kedua tangan Rani masih terentang dan dalam keadaan bingung mendapati dirinya terjepit pada situasi yang genting.

"Tahan!" pinta Rani kepada Jake dan Mattew. "Turunkan senjata kalian!"

Namun si Muka bengis pun tidak paham bila situasinya tidak menguntungkan pihaknya karena Ia sepertinya belum mengenal berbahayanya sebuah pistol?

Seketika Ia mengayunkan pedang ke arah Mattew.

Tetapi dari sudut pandang Jake, Ia melihat si Muka bengis mengayunkan senjata ke arah Kirani!

"Rani,  Awas!" Teriak Jake penuh kecemasan.

Tiba-tiba, Blar!

Cahaya hijau yang menyilaukan mata berkilat ibarat petir di siang bolong.

Kilatan cahaya hanya sekejap dan sudah cepat lenyap, tapi Kirani masih merentangkan tangan dan menundukkan badan akibat terkejut oleh ledakan cahaya dari sebuah pistol.

Rani melihat magasin pistol di tangan Jake lampunya masih menyala. Laser gun di tangan Jake merupakan pistol berpeluru listrik yang mampu menyengat hingga 50.000 volt dan menyebabkan kematian.

Rani terkejut dan menjadi bingung menyadari Jake melepas tembakan pistol di tangannya.

Tetapi pada saat yang sama, terdengar suara: Blug!

Sontak Kirani menengok ke arah sumber suara jatuh yang keras.

Rani melihat si Muka bengis kelojotan dan kesakitan. Kedua tanganya terkepal dan kedua gerahamnya terkatup rapat. Sisa-sisa lompatan cahaya listrik masih nampak di dadanya.

"Jake!?" Sesal Kirani menyadari si Muka bengis telah ditembak jatuh.

Si Muka bengis sekarang telah terkapar lemas dengan baju di dada robek dan hangus. Pedangnya tercecer di samping tubuhnya.

Temannya yang gagah bergegas menyongsong tubuh si Muka bengis yang sekarang telah pucat pasi.

"Hashem!" Seru Ia.

Orang itu sadar mendapatkan temannya yang bertubuh besar ini terluka parah.

"Badantudr nadadaedkden!" Ujar orang itu kepada seorang lagi yang sedang bersimpuh melihat keadaan si Muka bengis.

Lalu Ia dibantu temannya itu mengangkat tubuh si Muka bengis ke atas punggung hewan mirip keledai.

Setelah meletakkan tubuh si Muka bengis di atas punggung keledai, mereka lalu menuntun keledai pergi dari tempat itu tanpa bicara sepatah kata apapun.

Rani dan semua teman-temannya hanya mampu memandangi kepergian mereka sampai menghilang di balik celah bukit tempat mereka tadi datang.

Semua terjadi amat cepat sehingga mereka hanya berdiri mematung dan masih dalam keadaan shock. []

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sky Seeker   Jake Menjadi Gladiator

    AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah

  • Sky Seeker   Pameran Kekuatan Kerajaan

    Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be

  • Sky Seeker   Nubuat Seorang Avatar

    Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake

  • Sky Seeker   Mantra Para Dewa

    "Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k

  • Sky Seeker   Di Perpustakaan Kerajaan

    Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J

  • Sky Seeker   Tawanan Istimewa

    Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status