LOGINKirani berada di lokasi proyek dan mengawasi jalannya rutinitas para pekerja.
Ia memegang sebuah papan elektronik sambil berdiri di atas sebuah hoverboard antigravitasi.
Sebagai supervisor Ia dan para mandor mengenakan alat terbang berupa ransel. Alat terbang ini hanya digunakan di area proyek saja untuk menunjang pekerjaan mereka. Sedangkan para pekerja atau worker tidak menggunakan alat ini.
Kendaraan-kendaraan alat berat yang mengangkut material berlalu lalang dan para pekerja tekun melakukan pekerjaannya masing-masing.
Beberapa kendaraan besar ada yang memuat barang dan ada pula yang membongkar muatannya dengan di awasi oleh para pekerja.
Gedung yang dalam pengawasan Rani sudah menjulang tinggi tetapi atapnya belum ada sehingga langit terlihat jelas. Namun demikian cahaya yang masuk tidak cukup terang sehingga lampu-lampu dinyalakan.
Di area ini sangat berisik karena dimana-mana terdengar suara mesin kendaraan. Terdengar pula suara orang melakukan pekerjaan las, suara menggerinda, oleh sebab itu setiap pekerja mengenakan alat pelindung polusi suara di telinga.
Tetapi mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik satu terhadap sama lain dan tidak perlu bicara sambil berteriak-teriak dengan menggunakan alat yang sama dan multifungsi pada telinga setiap orang.
Pada saat itu Hendra datang menemui Kirani.
Hendra yang sesama supervisor bertanya pada Rani.
Dan dia sama-sama memegang papan elektronik seperti yang dipegang oleh Rani.
"Ran, katanya di puncak Cudakdit kalian ketemu penduduk asli planet ini?" Tanya Hendra. "Sayang aku tidak jadi ikut." Sesal Hendra. "Gimana ceritanya?"
Rani tidak habis pikir, siapa pula yang mulutnya ember? Sehingga kejadian itu bisa ada yang tahu di luar orang-orang yang ikut kemarin?
Tetapi Kirani hanya tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Di saat yang sama seorang mandor lewat membawa barang.
"Itu rumor yang sengaja dibuat, biar kamu penasaran." Ujar Rani mengarahkan hooverboard menemui mandor itu. "Jangan percaya, Hen!"
"Pak Jonas,; Sapa Rani kepada mandor yang sedang lewat. "Tunggu sebentar!"
Mandor Jonas juga mengenakan ransel terbang, menghentikan langkahnya dipanggil oleh Kirani.
Ditinggal begitu saja oleh Kirani, Hendra sejenak berdiri penasaran di atas hooverboardnya. Tetapi tidak lama kemudian Ia pun pergi.
"Aku ingin lihat progres di sub sector ini." Pinta Rani.
Sebuah tabung sebesar lampu senter menggantung pada pinggang Jonas, Ia ambil lalu menyerahkan ke tangan Rani.
Tabung itu adalah sebuah papan elektronik. Tabung terdiri dari dua bagian yang bila ditarik salah satunya sisinya akan membentuk bentangan monitor virtual.
Rani mengakses data di papan elektronik yang ia terima dari Jonas, lalu membacanya. Sang mandor menunggu tanggapan Rani.
Setelah membaca data-data, sejenak kemudian Rani memberikan review ke Jonas.
"Sejauh ini bagus." Puji Rani memberikan evaluasi dari data-data yang telah ia akses.
"Pemasangan keenam tambat di menara harus selesai dalam bulan ini." Pinta Rani. "Awasi dan harus on schedule, karena akan segera dioperasikan!"
"Baik, bu!" Jawab Jonas sigap.
Lalu Rani menekan sisi benda itu sehingga kembali kebentuk semula sebagai sebuah tabung dan mengembalikan ke tangan Jonas.
Saat itu Jonas memanfaatkan kesempatan untuk bertanya ke Rani
"Maaf Bu, kalau boleh saya mau bertanya ..." Pinta Jonas.
"Diijinkan." Kata Rani. "Pak Jonas mau tanya apa?"
"Benarkah waktu di puncak Cudakdit, ibu Rani dan teman-teman bertemu manusia?"
Jonas tidak melanjutkan pertanyaannya karena melihat wajah atasannya menjadi tidak senang.
Di saat yang sama, beberapa pekerja berlari-lari ke luar area.
Rani mengalihkan perhatiannya dan bertanya kepada salah seorang yang turut berlari sepanjang garis kuning.
"Ada apa ini?" Tanya Rani, "Kenapa kalian meninggalkan pekerjaan?"
"Saya juga lagi cari tahu, Bu," kata Ia. " ... yang lain pun pada pergi ke luar."
Alangkah terkejut ketika Kirani turut melihat ke arah luar gedung.
Melalui jendela berukuran besar. Rani melihat kelompok besar orang berkuda. Tetapi mereka bukan orang-orang dari koloni, mereka orang asing!?
Seketika Rani mengarahkan hoverboard ikut pergi ke luar bergegas pergi menyalip para pekerja yang berlarian pergi ke luar.
Di luar orang-orang sudah tumpah ruah dari gedung-gedung. Bahkan Rani melihat orang-orang telah memenuhi setiap balkon gedung-gedung, bahkan pada gondola-gondola dan ikut menonton kehadiran rombongan orang asing yang berada di ujung jalan.
Koloni terletak di sebuah lembah yang di kelilingi bukit dan hanya ada ceruk besar yang bisa dilalui. Dari jalan itulah mereka datang.
Kirani terus mengarahkan hoverboardnya menuju tepi Koloni yang tidak dibatasi oleh apapun. Di masing-masing tepi koloni hanya diisi pos jaga dan tentu saja para penjaga militer sudah terlihat bersiap siaga.
Setelah berada paling tepi dari kota New Batavia, sekarang Kirani dapat melihat dengan jelas rombongan yang masih berada jauh dari tepi koloni.
Mereka mungkin jumlahnya ratusan dan semua menunggang seekor kuda. Bisa dikatakan itu kuda meskipun penampilannya banyak beda dibandingkan dengan kuda-kuda yang ada di Bumi.
Kuda-kuda itu bertanduk seperti tanduk kambing. Tubuh dan kakinya nya tampak lebih kekar dan di beberapa tempat kulitnya bersisik.
Surainya lebat dan terdapat pula selain di kepala ada pada keempat kakinya.
Semua orang asing itu mengenakan baju jirah lengkap dengan topi besi. Di tangan masing- masing ada senjata berupa tombak dan tameng seperti tantara hendak menghadapi perang.
Dari sekian jumlah tantara itu, Kirani mengenali orang yang berada paling depan sebagai orang asing bernampilan gagah sewaktu di puncak Cudakdit. Ia selalu tampak menonjol dibandingkan yang lainnya.
Orang gagah itu mengenakan baju jirah pula dan lebih glamor dibandingkan tantara-tentara yang berada dalam barisannya. Tampak pula ia adalah pemimpin pasukan asing itu.
Tetapi yang paling mengejutkan adalah adanya kesamaan bentuk logo pada panji-panji dan bendera-bendera yang di bawa oleh tantara asing dengan logo columbus yang terdapat di mana-mana di koloni.
Bedannya, bila Logo colombus yang ada di New Batavia desainnya modern, maka logo columbus pada panji-panji yang dibawa mereka tampak etnik.
Logo columbus bahkan terdapat di setiap baju jirah mereka yang disulam dengan benang emas.
Tampaknya pasukan tentara asingpun menyadari kesamaan ini. Dan tampak pula mereka jerih berada di New Batavia. Mereka terlihat kikuk dan seperti orang udik yang tersesat masuk sebuah kota metropolitan.
Namun di luar semua itu pemandangan ini membuat seluruh koloni terkejut. Selama ini yang mereka tahu di planet Saturnus tidak berpenghuni manusia. Kini mereka melihat sendiri ada manusia di luar koloni?
Tiba-tiba Rani menyadari tangannya sudah dipegang oleh Jake yang telah berada di sampingnya.
Pesawat-pesawat kecil mulai berdatangan pula dan berlalu lalang di atas memantau kedatangan rombongan.
Sebuah pesawat kecil turun di depan pihak koloni. Lalu setelah mendarat, sebuah penyangga membuka di masing-masing sayap pesawat untuk mencegah pesawat tidak berguling.
Kemudian disusul terbuka sebuah pintu lalu mengulurkan tangga hingga menyentuh tanah. Tidak lama kemudian tiga orang turun dari pesawat.
Kirani mengenali orang yang berjalan paling depan adalah Walikota New Batavia dan dua orang yang berjalan di belakangnya adalah pengawal Pak Walikota.
Pak Walikota berjalan beberapa langkah ke depan lalu berdiri menanti rombongan orang asing mendatanginya.
Rupanya langkah ini dipahami oleh pihak tantara asing. Lalu Pemimpin mereka menyentakkan kedua kakinya sehingga kuda tunggangannya bergerak maju.
Ia didampingi seorang yang bertubuh gendut yang mengikutinya dari belakang lalu diikuti beberapa tantara dengan berbaris rapih di belakang kedua orang yang maju menghadapi Walikota.
Setelah berada dekat dengan Walikota, sang Pemimpin mengangkat tangan kanan yang terkepal sebagai tanda berhenti pada rombongannya.
"Selamat datang di New Batavia," sambut Pak Walikota. "Saya Suharyadi, Walikota di sini dan siapakah kalian?"
Pemimpin orang-orang asing itu memperhatikan logo columbus di atas sebuah gedung dengan lebih teliti. Gedung itu letaknya di belakang kumpulan orang-orang koloni dipandang dari sisi para tantara asing.
Sang Pemimpin menengok ke belakang. Lalu orang bertubuh gendut tadi bergegas turun dari kudanya sementara tali kekang kuda dipegang oleh salah seorang tantara.
Orang gendut ini tidak mengenakan baju jirah. bahkan pakaiannya jubah panjang saja, tetapi jelas terlihat mewah.
Setelah berdiri di depan Pak Walikota, ia menangkupkan kedua tangannya sambil sedikit membungkukkan badan.
"Salam! Hamba bernama Budun Daut.
Hamba juru kunci perpustakaan kerajaan Magadorr .... dan Beliau adalah jungjungan kami," ujar Budun Daut sambil berpaling ke arah Pemimpinnya.
Lalu berbalik menghadapkan badan ke Pak Walikota kembali.
"Beliau Putra mahkota kerajaan Magadorr bernama Burila Durr, seorang Buncedeldk Durr ke-3 bergelar VADN TORU, penjaga Toru pewaris pusaka Atung Maa Awang. Putra mahkota dari Raja Diraja Buncedeldk Durr ke-2, cucu dari Buncedeldk Durr pertama yang telah Ngahiyang.
Kerajaan kami yang menguasai tanah sejauh kaki langit dan sebelas kerajaan besar berada dalam genggaman Raja Diraja Buncedldk Durr ke-2 ...."
Alangkah terkejut Pak Suharyadi dan orang-orang Koloni mendengar utusan asing itu berbicara dalam Bahasa Indonesia?
Meskipun terdengar dengan aksen asing, tetapi tetap dikenali dan jelas tutur bahasanya.
Pak Walikota menyela. "Maaf, kenapa anda bisa Bahasa Indonesia, bahasa kami?"
"Puji Atung Maa Awang," Ujar pria gendut ini mendengar Walikota New New Batavia berbicara kepadanya. "Ternyata Kami datang ke tempat yang tepat. Negeri para Dewa!"
Budun Daut melanjutkan paparannya. "Kakekku pernah tinggal bersama seorang Dewa dari kalangan Padanduk." Ujarnya dengan nada bangga.
"Kakekku yang telah moksa mewariskan sebuah buku dan catatan-catatan lainnya untuk ayahku yang kemudian diturunkan padaku dengan pesan harus menguasai isi buku dan catatan-catatan itu. Karena suatu hari Dewa itu akan datang kembali kepada Kami. Buku itu berjudul Tata Bahasa Bahasa Indonesia."
"Oh ya, siapa nama Dewa itu?" tanya Pak Walikota.
"Beliau bernama Ridik Wadntodo."
Tampak Pak Walikota berpikir keras, "ri-dik-wadn-todo? Aku tidak kenal nama itu?" Aku Pak Walikota.
Lalu Walikota menengok ke belakang dan bertanya pada para pembantunya, "Ada yang tahu nama itu?"
Para pembantu Walikota menggelengkan kepala.
Walikota kembali mengalihkan pandangan ke Budun Daut. Sementara para pembantunya saling berbisik satu sama lain dengan wajah bingung.
"Kami tidak ada yang tahu nama yang anda sebutkan?; Aku Pak Walikota.
"Kami datang ke gunung ini untuk pilgrim. Sudah lama kami melihat cahaya-cahaya naik turun di gunung ini ke langit dan kami percaya nubuat itu sudah tiba waktunya ...."
"Kita tunda dulu semua itu yang tidak kupahami," Sela Pak Walikota. "Sekarang saya ingin tahu ada keperluan apa kalian datang ke sini?"
"Kedatangan kami kemari untuk memberikan kabar ke negeri para dewa ini bahwa salah satu panglima kami tewas oleh Pedang Guntur milik salah satu dewa dari negeri atas angin ini." Sahut pria gendut yang sekarang bersikap serius.
"Salah seorang dewa muda telah menghina kepada yang mulia Pangeran Burila Durr. Dalam tradisi kami mengulurkan tangan kepada keluarga kerajaan adalah sebuah penghinaan!
Sekalipun Dewa tetapi Kami belum mengenal!
... mata dibalas mata gigi dibalas gigi ...."
"Tunggu! Aku semakin tidak mengerti soal apa ini?" Keluh Pak Walikota yang tiba-tiba merasa menjadi orang bodoh.
Tapi Budun Daut tidak menghiraukan kebingungan Pak Walikota lalu melanjutkan tuntutannya. "Kami harap Padanduk menyerahkan dewa muda yang telah menewaskan Padanduk Hashem Nget, salah satu panglima terbaik kami!"
Rani dan Jake menjadi semakin gelisah dan kuatir apa yang akan diputuskan oleh Walikota.
"Siapa orang Kami yang Anda maksud telah menewaskan orangmu?" tanya Pak Walikota.
Sejenak Budun Daut menyapukan pandangan ke setiap orang-orang Koloni.
Jake bukan seorang pengecut, lalu Ia tampil ke depan.
Demikian pula Kirani turut maju menemani Jake.
Budut Daut menengok ke arah Pemimpinnya dan di saat yang sama sang Pangeran dari Magadorr menunjukkan tangan ke arah Jake dengan tegas.
Melihat hal ini Walikota koloni New Batavia tampak menimbang-nimbang.
Akhirnya Pak Walikota cepat mengambil keputusan. "Kami pun memiliki tradisi seperti Anda. Dalam tradisi kami, Kami tidak pernah menyerahkan warga kami, apapun resikonya!"
Walikota bicara ringkas dan tegas pula. Seketika Budun Daut tercengang mendengarnya.
Lalu Budun Daut bergegas pergi menemui Burila Durr untuk menyampaikan hasil diplomasinya dengan Walikota New Batavia.
Budut Daut bicara kepada Burila Durr yang tetap duduk di atas kuda.
Ketika berita itu disampaikan, air muka Burila Durr yang dingin tidak terpengaruh atas berita yang disampaikan penerjemahnya.
Burila Durr menarik tali kekang kuda sehingga tunggangannya bergerak balik arah sambil berbicara kepada tentaranya.
"Badal Lidk!" Perintah Pangeran dari Kerajaan Magadorr.
Sementara itu Budun Daut menyempatkan bicara kepada Walikota New Batavia.
"Kami pamit!" Ujar Budun Daut, "kami tidak mungkin melawan para dewa!"
Pada saat itu Burila Durr sudah berjalan pergi dan para tentaranya menepi untuk memberikan jalan.
Bergegas Budun Daut berbalik untuk menyusul Pemimpinnya.
"Tunggu!" Seru Pak Walikota.
Burila Durr menghentikan langkah kudanya mendengar seruan Walikota koloni.
Sementara Budut Daut memperhatikan wajah Walikota dengan menaruh harapan.
"Kami ganti permintaan kalian," Pak Walikota memberikan penawaran. "Apa yang kalian ajarkan dari Dewa itu, Kami ajarkan pula kalian membuat teknologi sederhana yang berguna untuk kalian."
Mendengar hal itu, Budun Daut berlari kecil ke arah Burila Durr dan menerjemahkan untuknya.
"Padanduk," ucap Budun Daut. "Nadawadr nudladaidunen ...."
Tapi reaksi Burila Durr pendek saja dan dijawab, "Aduredng pidukadr!"
Budun Daut membungkukan badan lalu menjawab, "Dagm gadda!"
Selanjutnya Budun Daut kembali menghadapkan badan ke Walikota New Batavia.
"Putra mahkota Magadorr telah bertitah," Ucap Budun Daut. "Akan kami pikirkan dulu tawaran dari Padanduk."
"Baiklah," sambut Pak Walikota. "Kuharap ini tawaran yang terbaik dari kami."
Akhirnya rombongan kecil tantara asing bergabung kembali dengan rombongan besar. Lalu rombongan Magadorr balik ke arah tadi datang. []
AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah
Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be
Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake
"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k
Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J
Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib