Home / All / Sky Seeker / Kenangan Sewaktu di Bumi

Share

Kenangan Sewaktu di Bumi

Author: Handi Yawan
last update publish date: 2020-11-01 07:36:14

Beberapa hari telah lewat dan Kirani telah bertugas di sektornya sebagai supervisor bersama para supervisor lain dan para pekerja.

Kirani dan para insinyur lainnya mampu bekerja di dunia yang baru karena memang mereka telah mendapatkan pelatihan selama pendidikan akademi di Bumi.

Saat itu tiba waktunya makan siang. Rani telah menyimpan peralatannya dan berdiri di atas sebuah hooverboard menuju kantin.

Di kantin Ia bertemu dengan Irina, Maria, Tania, Hendra, dan Johanes yang telah datang duluan. Beberapa orang tentara tampak turut mengantri. Para tentara tidak membawa cetbang, kecuali pistol tersarung yang menggantung di pinggang masing-masing.

Setelah mencuci tangan mereka mengambil makanan yang disajikan secara parasmanan.

Dan beberapa kelompok telah duduk di meja besar menyantap makan siangnya.

Rani dan kawan-kawan telah menadah piring makanan dan minuman dalam tumbler.

Kelompok Kirani duduk di meja menyantap makanan sambil bersenda gurau. Tetapi tampak Kirani tidak menikmati makan siangnya.

Irina yang duduk di sebelah Kirani, memandangi Kirani yang lebih banyak diam saja sejak tadi.

Akhirnya Maria bertanya, "Ran... ada apa?"

Rani tidak memberikan jawaban dan hanya memainkan sendok di atas piring yang masih penuh makanannya.

melihat hal ini Irina menjadi penasaran, "makanannya gak enak ya?"

Kirani tidak memberikan jawaban dan air mukanya terlihat sedih.

Irina memeluk Kirani. Teman-teman yang lain membiarkan dan tetap makan sambil melihat perkembangan.

"Jangan sedih dong, bujuk Irina,  aku jadi ikut sediiih ..."

"Aku teringat orang tuaku di bumi," ujar Kirani.

Tatapan matanya lurus ke depan.

Terbayang di pelupuk matanya ketika ia masih tinggal bersama orang tuanya.

Mereka tinggal di apartemen yang kecil.

Suatu malam ia dibangunkan oleh Papanya.

Papa duduk di pinggir ranjang sambil mengguncang-guncang bahu Kirani.

Di belakang tampak Mama menyiapkan piring-piring di atas meja. Aldrin, Adik laki-laki Kirani sudah duduk di belakang meja. Dia masih kelas 3 SMP.

Ruangan redup karena hanya diterangi dengan api kecil yang menyala dari sebuah biji jarak yang dibakar.

Tiga tahun yang lalu Papah dan Mamanya selalu menyajikan nasi aking, atau mengambil Pagpag di tempat sampah rumah makan supaya mereka mereka bisa bertahan hidup.

Waktu itu ia dibangunkan oleh Papahnya untuk makan bersama.

Petang tadi Papah belum pulang dan kirani memilih tidur lebih cepat supaya bisa melewatkan waktu lapar malam itu.

"Ada makanan Pah?" tanyanya.

"Alhamdulillah, nak. Ayo!" Ajak Papah.

"Dapat dari mana, Pah?" tanya Kirani.

"Kirani ...!" Mama menegur pertanyaan Kirani.

Akhirnya Kirani bangun dari ranjang tanpa bertanya lagi lalu bergabung dengan Mama dan adik laki-lakinya mengambil tempat duduk di meja makan.

Kirani bergegas melahap makanan di meja. Tetapi ia enggan mengambil setusuk satepun yang dihidangkan. Ia tahu itu daging tikus got.

Ia tidak pernah memakannya. Bahkan memikirkannya saja, Ia akan lebih memilih untuk tidak makan. Tetapi Aldrin melahapnya dengan rakus.

Ketika makanan tinggal sedikit, padahal Kirani masih lapar ....

Papa tahu itu, lalu menyodorkan sisa makanan di piring ke Kirani.

"Makanlah!" kata Papah.

Kirani ragu.

Lalu Papah membujuk Rani dengan sebuah nasihat.

"Hari ini adalah terakhir Papa memberimu makan," Kata Papa. "Besok kau mulai masuk Akademi Antariksa dan punya makanan sendiri...."

Papa memandang Kirani sambil tersenyum bahagia. Lalu buru-buru makanan di piringnya ditumpahkan ke atas piring Kirani.

"Ayo habiskan!" Pinta Mama.

Kirani tersenyum, lalu menyedok makanan ke dalam mulut lagi.

Ketika Ia menyuap ke mulutnya, sudut matanya melihat Adiknya memandang dengan penuh harap.

Kirani tahu adiknya banyak makannya karena sedang dalam masa pertumbuhan, apalagi anak laki-laki. Adiknya makan sepiring mana cukup!

Lalu Ia sisihkan separo untuk adiknya. Aldrin mengambil sisihan dari piring Kirani dengan suka-cita.

"Bilang apa ke Kakakmu, Dek?" Tegur Mama mengingatkan Aldrin.

"Makacih, Bacil!" Ucap Aldrin kurang tulus.

"Tuh kan Mah, dia bukannya berterima kasih, malah ngledek!" Kirani merajuk. Ia tidak senang dipanggil dengan nama ejekan yang diberikan Adiknya karena Kirani merasa nama itu jelek.

Papa dan Mama hanya tersenyum saja. Meskipun sudah sering diingatkan agar Aldrin memanggil Kakak kepada Kirani yang hal itu sudah seharusnya, tetapi Aldrin senang membuat Kakaknya ngambek.

Momen itulah yang membuatnya tidak berselera makan.

Kirani memikirkan adiknya di Bumi, memikirkan apakah hari ini Papahnya bisa mendapat makanan yang sudah sulit didapat karena harus bersaing dengan orang lain yang juga sama membutuhkan?

Tanpa dapat dicegah, kedua bola mata Kirani berlinang air mata ...

Irina terkejut. "Kenapa?" tanya Irina Stanovska. "Homesick ya...?"

Kirani mengangguk. Aku sangat menyangi kedua orang tuaku yang kerja keras banting tulang agar Ia dan adik tetap bisa sekolah.

Pengorbanan kedua orang tuaku akhirnya berbuah manis. Prestasiku di sekolah sangat bagus sampai akhirnya dipanggil masuk Akademi Antariksa ini.

Irina tersenyum maklum.

"Makanlah Bro, kita mengalami hal yang sama." Bujuk Irina.

"Ini minggu pertama kita kerja, bulan depan kau bisa mengirimkan makanan ke bumi untuk orang tuamu..."

Tiba-tiba mendengar ucapan Irina Stanovska seperti itu, air muka Kirani berubah menjadi gembira.

Benar juga apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Di sini ia cukup makan sehingga bertekad akan mengirimkan gajinya untuk keluarga di Bumi.

Akhirnya setelah berpikir seperti itu, Kirani mampu menghabiskan makanannya dengan cepat.

Irina turut merasa senang melihat teman barunya mejadi lahap. Kita semua punya pengalaman pahit yang sama.

"Kamu masih mending, Ran," sambung Irina. "Papaku dan aku menjadi pencuri atau harus berkelahi untuk mendapatkan makanan."

Mendengar hal itu, Kirani menunda suapannya seolah-olah tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Rani menaruh sendok ke atas piring lalu merangkul Irina.

Kirani dan Irina berangkulan saling menguatkan sambil tetap duduk di kursi masing-masing.

Pada saat itu, tampak beberapa orang tentara datang sambil membawa piring masing-masing.

Di antara mereka ada Jakob Ubar dan Mattew Bierce.

Jakob Ubar telah melihat Kirani, lalu menyapanya. "Kirani..."

Kirani tidak kalah terkejut dan merasa senang juga bertemu kembali dengan mereka. Terutama dan tentu saja dengan Jake.

"Hi, Jake!" Ucap Rani membalas sapaan Jakob, lalu menyapa Mattew,  "Matt.

Ayo gabung bersama kami ...." Ajak Rani tulus.

Tentu saja kedua tentara ganteng itu dengan senang hati menyambut ajakan Rani, lalu mereka mengambil tempat duduk sambil mengulurkan tangan masing-masing saling bersalaman dengan teman-teman Kirani.

Mereka akhirnya makan bersama-sama di satu meja.

"Makanan dan minumannya enak-enak, ya," Puji Maria. "Ini pasti chief yang bikinnya jago."

"Ya, dan semua ini segar," timpal Johanes. "Gak kebayang bisa masih dalam keadaan segar di bawa dari Bumi sampai di sini?"

"Semua ini asli dari sini," Tukas Mattew. "Daging dan sayuran yang kita makan, semua dari sini."

"Maksudmu?" Tanya Hendra. "Selama ini aku mengira logistik didatangkan dari Bumi?"

"Iya, gimana bisa!" Ujar Irina tidak percaya.

"Sayuran ini hidroponik lho," Jelas Jake. "Dan daging- daging yang kita makan, susu sapi yang kita minum itu berasal dari hewan-hewan yang diternakan di sini. Memang asalnya didatangkan dari Bumi."

"Oh ya! Lalu airnya dari mana untuk menyiram tanaman dan memberi minum di perternakan?" Tanya Maria. "Dan juga yang kita gunakan sehari-hari, apakah dari sini juga?"

"Ya, tentu saja." Kata Mattew. "Sebaiknya kalian sekali-kali pergi ke sektor O."

"Memang di sana ada apa?" Tanya Kirani. "Aku tahu bahwa ada sarjana peternakan dan pertanian yang dikirim ke sini. Tetapi kukira mereka baru melakukan penelitian tanah di sini?"

"Oh tidak begitu," Ujar Mattew meluruskan. "Penanaman hidroponik dan peternakan sejak pembangunan koloni sudah dilakukan. Para Sarjana Pertanian dan Sarjana Peternakan dikirim untuk mengurus dan mengembangkannya.

Sementara air yang kita minum berasal dari sumur bor di sana. Kemudian barulah disuplai ke seluruh koloni."

"Wah, wah. Ini baru kejutan." Puji Maria. "Jadi planet ini memang Bumi juga ternyata ya!"

Sementara yang lain asyik mengobrol, Maria memperhatikan Jakob yang sedang makan tetapi matanya selalu ke Kirani.

"Itu Jake yang kamu ceritakan, ya?" Tanya Maria ke Irina dengan berbisik. Tania ikut menanti penjelasan dari Irina.

Irina memberikan jawaban cukup mengangguk saja, segera Maria dan Tania tersenyum mengerti. Sekarang Maria tahu hubungan senyum sipu Kirani sewaktu awal pertemuannya dengan kedatangan Jake sekarang.

"Rupanya Dia yang suka bikin kamu cengar-cengir sendirian itu," Goda Maria.

Ditodong seperti itu Kirani menjadi salah tingkah.

"Idih, sok tahu loe!" Kirani ngles.

"Ha ... Ha ... Ha ..."  Maria tertawa senang telah berhasil mengungkap isi hati Kirani.

Jakob Ubar sendiri tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Maria dan Kirani. Sehingga Jakob membuka percakapan lain, "dua minggu ini aku piket di sektor H ini"

"Oh, ya!" sambut Maria sambil mengedipkan mata genit ke Rani. "Jadi bisa sering lihat Kirani dong!"

"Aw!" tiba-tiba Maria menjerit. Ternyata lengan Maria dicubit oleh Kirani.

Pada saat yang sama Jakob tertunduk malu.

Sementara yang lain tersenyum melihat Kirani dan Jakob menjadi kikuk. []

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sky Seeker   Jake Menjadi Gladiator

    AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah

  • Sky Seeker   Pameran Kekuatan Kerajaan

    Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be

  • Sky Seeker   Nubuat Seorang Avatar

    Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake

  • Sky Seeker   Mantra Para Dewa

    "Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k

  • Sky Seeker   Di Perpustakaan Kerajaan

    Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J

  • Sky Seeker   Tawanan Istimewa

    Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status