LOGIN
HARI INI
Luar angkasa bertaburan jutaan bintik cahaya yang berkelap kelip di ruang yang maha luas tidak terhingga dan gelap gulita.
Columbus 318 telah tiba di angkasa planet Saturnus.
Columbus 318 adalah bagian dari Proyek Columbus sebagai Interplanetary Transport System yang merupakan kerjasama DepPAN dan DK PBB mengantisipasi prediksi Stephen Hawking.
Departemen Penerbangan Antariksa Nasional (DepPAN) adalah Lembaga Kementrian Pemerintah Indonesia yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang teknologi penerbangan antariksa, sains antariksa, dan kebijakan antariksa.
Sementara itu Dewan Keamanan PBB sekarang telah mempunyai enam anggota tetap, yang baru adalah Indonesia yang merupakan kekuatan baru di dunia. Dan bahkan Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga dari Indonesia.
Sekarang prediksi itu telah terjadi. Bumi mengalami krisis pangan, terjadi perubahan iklim yang ekstrim, serangan asteroid dari luar angkasa, dan epidemi, memaksa manusia di Bumi meninggalkan Bumi sebelum terjadi kepunahan masal.
Dulu Saturnus selalu dihindari oleh Ilmuwan karena sangat berbahaya berada di dalamnya. Tetapi seiring kemajuan teknologi, ternyata planet ini berpotensi di huni oleh manusia.
Lalu DepPAN dan DK PBB mengirim para insinyur ke planet Saturnus untuk membangun infrastruktur sebagai persiapan migrasi manusia bumi ke planet yang telah diklaim oleh para ilmuwan tidak berpenghuni. []
Kapal Induk Colombus 318 telah tiba di planet Saturnus dan mempersiapkan penumpangnya transit untuk diturunkan ke Planet ini.
Semua penumpang telah menanti di ruang tunggu. Selain para insinyur, penumpang Columbus membawa satu pleton tantara Infantri pula. Tentara ditugaskan untuk mengawal pembangunan koloni di planet Saturnus.
Di ruang tunggu mereka mengisi waktu bermain pingpong, main bilyar atau sekedar nongkrong saja. Pada dinding salah satu sisi ruangan ada lampu membentuk kata "GRAVITASI menyala berwarna merah sehingga tidak heran mereka memainkan semua itu layaknya di bumi.
Di salah satu sudut tampak Kirani duduk bermain game di gadgetnya. Di samping Kirani ada Irina dan Haleema yang sama-sama memainkan gadget masing-masing.
Tidak jauh dari mereka ada seorang Letnan satu infantri yang selalu mencuri-curi pandang kepada Kirani.
Melihat gelagatnya tampak nyata Letnan itu naksir Kirani yang memang cantik.
Kedua bola mata Kirani bulat dan garis wajahnya manis sehingga enak dipandang mata.
Tampak jelas perbedaan para penumpang insinyur dengan tentara. Para penumpang sipil selain tidak dipersenjatai, seragam yang dikenakan selayaknya teknisi dan tidak seperti tantara yang sekalipun sama-sama berseragam luar angkasa, mereka tetap army look.
Tetapi baik tentara dan insinyur keduanya sama pada baju luar angkasanya dilengkapi tabung oksigen yang ringkas diletakkan di punggung.
Saat itu mereka tidak menutup kaca helmnya karena udara disediakan dalam pesawat.
Senjata organik standar para anggota batalyon infantri itu selain pistol di pinggang, juga dilengkapi dengan Cetbang.
Cetbang adalah meriam tangan sepanjang 1,5 meter. Saat tidak digunakan larasnya bisa dimasukan sehingga menjadi lebih pendek dan diletakkan di punggung seperti saat ini.
Berat meriam tangan ini hanya 1,5 kg sehingga sangat ringan dan ringkas dibawa-bawa.
Tetapi ada pula tentara yang ngobrol sesama temannya berjalan mondar mandir dan meletakan cetbang dengan cara dipanggul dan larasnya dibiarkan di luar.
Dari samping Kirani terlihatkan kedua orang pemuda berpangkat letnan itu saling berbisik membicarakan Kirani yang asyik bermain game.
Kedua jempol Rani lincah menekan-nekan layar gadget.
Letnan dua bernama Mattew Bierce, seperti ditunjukkan pada papan nama di seragamnya, memukul bahu Jakob Ubar dan memberikan semangat kepadanya.
Akhirnya meskipun tampak berat hati Letnan satu Jakob Ubar berjalan ke arah tempat Kirani berada.
Mattew memberikan acungan jempol kepada Jakob Ubar. "Ayo, jadilah pria sejati!"
Jakob bergerak pelan lalu duduk di sebelah Kirani. Dengan sudut pandang matanya, Kirani melirik orang yang baru datang lalu duduk di sebelahnya.
Jakob mengulurkan tangan, mengajak jabat tangan kepada Kirani.
"Hai Rani, masih ingat aku, Jake?" Ucap Jake agak grogi. Kita pernah bertemu di Bumi waktu menunggu pesawat ulang-alik yang akan kita naiki
Kirani menengok ke arah Jakob dan sempat pula tampak ekspresi Kirani mengingat sesuatu,
Sesaat kemudian Kirani menunda permainannya lalu menyambut uluran jabat tangan Jakob dengan wajah manis.
kOh ya, aku ingat ucap Kirani.
Kenalkan ini, Irina dan Haleema." Ujar Rani memperkenalkan teman-temannya.
Lalu Jake menyalami mereka.
Kirani melanjutkan main game, sementara Jakob tanya-tanya yang lain.
Irina dan Haleema pura-pura asyik dengan gadgetnya dan memaklumi Jake yang sedang PDKT ke Rani.
"Kamu lagi main Warrant Death, ya ..." tanya Jake memanfaatkan momen baik ini. "Aku juga paling suka main game ini."
"Ini juga lagi seru-serunya!" ucap Rani tanpa mengalihkan pandangan pada gadget ditangannya.
Jake tidak mau menyerah, aku juga suka game itu.
DING, DONG ...!
Sayang sekali tiba-tiba terdengar suara dari pelantang. Jake menjadi mati gaya.
Kemudian terdengar kembali suara dari pelantang: SEMUA CREW DAN TENTARA HARAP MASUK KE PESAWAT ULANG-ALIK MASING-MASING
COLUMBUS 3.18 TELAH MEMBUANG SAUH DI LANGIT PLANET SATURNUS.
Kirani bergegas menghentikan permainannya sambil bilang kepada kedua sahabat seperjalanan, "Ayo siap-siap!;
Keduanya mengangguk sambil turut berkemas.
Tampak Jakob kecewa karena gangguan ini. Ia menengok ke arah Mattew yang hanya mampu mengangkat bahu.
Kirani dan sesama lulusan akademi bergegas menyeret ransel masing-masing yang beroda, pergi berjalan menuju lokasi. Demikian juga dengan para tentara yang turut berbaur bersama mereka berdiri di atas lantai berjalan sehingga lebih cepat sampai.
Jarak ruang tunggu ke dermaga tidak jauh sehingga tidak lama kemudian para penumpang berada di koridor menuju pesawat ulang-alik
Dinding dan atap koridor dibuat dari kaca transparan sehingga setiap orang bisa melihat deretan pesawat-pesawat ulang-alik ditambatkan pada dermaga.
Columbus memiliki kapasitas 100 buah pesawat ulang-alik. Pesawat ulang-alik berbentuk sebuah Yoyo, masing-masing sisi sayapnya memuat 8 orang penumpang.
Bagian tengah setiap pesawat ulang alik dalam keadaan terkunci pada tambat masing-masing yang berbentuk gelang mencengkram badan tengah pesawat.
Kirani dan yang lain telah tiba di dalam salah satu pesawat.
Kirani dan kru lainnya saling menyapa. Beberapa diantara mereka telah duduk di kapsul berbentuk kursi.
"Sampai ketemu di darat Ran, Ina," Ucap Haleema sambil melambaikan tangan ke arah Kirani dan Irina. Begitupula sebaliknya mereka saling mengucapkan salam perpisahan kepada teman-tenan baru yang telah akrab.
"Insya Allah kita selamat dan bertemu kembali di darat." Ujar Rani.
Kirani telah berada di samping kapsulnya dan bersiap duduk.
Sebuah kapsul naik untuk masuk kabin yang tempatnya berada di atas Rani berdiri.
Sementara itu seorang kru menunggu kapsul lain muncul dari dinding setelah kapsul sebelumnya naik. Di depan Kirani, persis berdiri seorang kadet dek yang memastikan semua kru sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Pastikan palang pengaman terpasang dengan benar!" ujar kadet itu memastikan semua berjalan dengan benar.
Kirani mengangkat kedua tangan untuk meraih palang pengaman di atas kepalanya.
"Siap!" jawab Rani dengan patuh.
Kirani memasang palang pengaman yang telah Ia turunkan hingga berkalung palang.
Pada saat yang sama, kaca kapsul otomatis menutup sehingga Kirani telah terkurung didalam kursinya.
Tampak kadet dek memastikan yang lainnya melakukan hal yang sama dengan benar.
Kursi di sebelah Kirani dan yang diduduki oleh Haleema Omar telah naik.
Di saat yang sama, kursi Irina telah masuk kabin, sementara kursi yang di duduki Kirani tidak terangkat karena posisinya berbeda. Tapi kursi Kirani masuk dan membawa gadis ini ke dalam kabinnya.
Tidak butuh waktu lama, kursi Kirani telah berada di lorong masuk ke kabin.
Di dalam kabin tampak sebuah jendela yang memperlihatkan pemandangan di luar.
Semua telah berjalan dengan benar sehingga pintu-pintu keluar pesawat ulang-alik telah dibuka. Kini 100 pesawat berada langsung di ruang angkasa dan siap tinggal landas.
Ternyata dermaga berada di bagian paling bawah Columbus.
Di luar gelap gulita. Hanya cahaya lampu pesawat yang menerangi bagian-bagian tertentu dari badan Columbus 318
Kirani telah berada dalam kabin dengan tenang dan melihat keluar melalui kaca jendela disampingnya. Tetapi tidak lama kemudian terasa kabinnya mulai bergerak.
Lewat jendela pesawat Rani melihat semua tambat yang semula mengunci seluruh pesawat-pesawat ulang-alik kini mulai terbuka dan seluruh pesawat telah lepas dari tambatannya dan mulai mengapung.
Melalui jendela, Kirani melihat Pesawat ulang-alik yang ia tumpangi mulai bergerak turun dan menjauh dari dermaga.
Setiap pesawat ulang alik telah bergerak meninggalkan Columbus dengan formasi paling depan maju lebih dulu.
Semua pesawat ulang-alik berbaris mengarahkan gerak terbangnya ke atmosfir planet Saturnus.
Tampak pula stasiun luar angkasa yang mengatur seluruh penerbangan Columbus dan pesawat-pesawat ulang-aliknya.
Suara-suara yang mengatur lalu lintas angkasa diperdengarkan ke seluruh kabin setiap pesawat ulang-alik sehingga setiap penumpang dalam kabinnya masing-masing bisa mengikuti proses penerbangan.
Kepada seluruh pilot ulang-alik, sekarang diperbolehkan masuk atmosfir planet Saturnus! Demikian arahan dari stasiun luar angkasa.
"Selamat jalan. Terima kasih!" Terdengar jawaban dari pilot ulang-alik pesawat yang Kirani tumpangi.
Di luar angkasa yang gelap gulita planet Saturnus memantulkan cahaya biru dan nun jauh di belakang bertaburan kelap kelip jutaan bintang.
Beberapa sisi Columbus dan Pesawat ulang-alik tampak karena ditimpa cahaya dari lampu-lampu pesawat dan pesawat ulang-alik masing-masing.
Ternyata Columbus bukan satu-satunya kapal induk. Beberapa lapal induk lain yang serupa dengan Columbus terlihat pula berlabuh di langit planet Saturnus. Yang paling dekat terbaca nomor lambung 718.
Stasiun luang angkasa tampak semakin besar karena Pesawat yang dinaiki Kirani mendekat planet Saturnus.
Pesawat yang ditumpangi Kirani mulai memasuki atmosfir planet Saturnus. []
Seluruh pesawat ulang-alik mulai memasuki atmosfir planet secara berbaris.
Dari jauh Kirani melihat pula ada pesawat ulang-alik lain naik dari planet Saturnus. Mereka tinggal landas dari daratan Saturnus menuju Columbus-columbus.
Pemadangan daratan mulai nampak dan semakin terlihat benua-benua seperti di bumi.
Tampak jelas daratan yang hanya mengisi seputar ekuator planet dipisah oleh samudra yang menghubungkan daratan benua di bagian utara dan selatan planet.
Pesawat yang berbentuk Yoyo ini bergerak turun dengan kecepatan tinggi. Kedua sayap selain merupakan kabin penumpang, juga ada sisi luar berupa cakram. Pada bagian jendela, sayap cakram memiliki lubang, sehingga dari dalam kabin, setiap penumpang bisa melihat ke luar.
Pesawat dengan mudah keluar masuk atmosfir planet, karena type mesin dan sayap seperti itu melindungi pesawat dan awak dari gesekan suhu ekstrim rendah di luar angkasa maupun suhu ekstrim tinggi di lingkungan atmosfir.
Sepasang sayap berputar tanpa mengeluarkan suara yang berisik sehingga penumpang tetap merasa nyaman duduk di dalam kabin dan menikmati pemandangan yang dilalui tanpa guncangan.
Kirani sudah tahu bahwa Planet Saturnus memiliki aurora yang berbentuk cincin. Kini aurora itu mulai terlihat secara langsung.
Sejak mendapatkan pelatihan dan dari buku-buku petunjuk teknis yang Kirani baca, Ia sudah tahu bahwa kutub utara dan selatannya sama bermuatan positif. Sedangkan kutub negatifnya membujur seputar ekuator planet.
Wujud magnet seperti ini menimbulkan Aurora di angkasa ekuator planet menjadi unik dan oleh sebab itu pulalah planet ini diberi nama Planet Cincin.
Aurora seperti ini membentuk tiga cincin linear yang terwujud dari untaian kedua pita cahaya yang berbeda kutub dan bergerak riak-riak, selalu bergonta-ganti warna. Sedangkan aurora netral berada di tengah berwujud pita tipis berwarna putih.
Pesawat ulang-alik mulai menembus Auora. Kirani merasa ia sedang menyelam di kedalaman lautan cahaya yang berwarna warni indah.
Tetapi cahaya-cahaya indah itu mulai menipis dan segera menghilang karena pesawat semakin turun dan akhirnya digantikan oleh warna biru langit planet Saturnus.
Kini meskipun tinggal warna tipis ketiga pita itu masih berbekas di kaki langit.
Tidak lama kemudian lanskep daratan tempat tujuan pesawat-pesawat ulang- alik tampak semakin jelas. Iring-iringan pesawat mulai terbang rendah dan melambat sambil terus menyusuri lembah berbatu.
Akhirnya Koloni tempat tujuan mereka mulai terlihat. Hamparan sebuah kota di apit oleh bukit-bukit berbatu dan tandus.
Bangunan-bangunan di kota itu berupa gasing dalam berbagai rupa. Ada yang puncaknya tinggi seperti ujung jarum, tetapi ada pula puncaknya yang pendek saja.
Tetapi bentuk bangunan menara pendaratan pesawat terlihat berbeda.
Menara-menara pendaratan pesawat ulang alik salah satu sisi miring 60°. Pada setiap sisi miringnya terletak 5 buah tambat tempat pesawat ulang-alik mendarat.
Di setiap puncak menara ada abjad sebagai penanda.
Pesawat ulang-alik yang dinaiki Kirani mulai mendekati Menara B, sesuai dengan nomor lambung pada pesawat ulang-aliknya.
Pelan-pelan pesawat Rani mendekati sebuah tambat dan disaat yang sama gigi-gigi roda pengunci pada tambatan sudah tebuka.
Bagian tengah pesawat sudah turun dan menyentuh tambat berupa cincin setengah lingkaran yang terbuka.
Lalu gigi-gigi pada cincin tambat menutup dan mengunci bagian tengah pesawat.
Setelah pesawat benar-benar dikunci oleh penambat, tiba waktunya semua penumpang pesawat keluar dari kabin masing-masing dan bersiap turun dari pesawat.
Lalu terdengar suara dari pelantang, "GUNAKAN PELINDUNG MATA UNTUK MEMBIASAKAN CAHAYA DARI LUAR!"
Kirani dan kru lainnya menekan sebuah tombol pada helm masing-masing dengan patuh. Lalu kaca helm mulai menutup sekalian berubah yang semula bening menjadi gelap.
Setelah itu Kirani mulai menyeret tas berodanya, ikut berkumpul bersama yang lain menanti di depan pintu keluar yang terletak di bagian tengah pesawat.
Di tempat itu Rani bertemu kembali dengan Haleema. Tetapi Irina tidak mereka lihat.
Tidak lama kemudian pintu mulai naik dan terbuka ke atas. Cahaya terang seketika memasuki ruangan namun para kru aman dan mulai membiasakan matanya melihat cahaya di luar.
Kirani mulai melangkah keluar pintu dan hendak meniti anak tangga elevator.
Untuk pertama kalinya, Kirani dan kru lain melihat langsung pemandangan darat di planet Saturnus.
Kota berada di bawah mereka. Sementara di langit terlihat tiga buah pita aurora yang tipis karena cahaya matahari menyinari planet lebih kuat sinarnya.
Di depan mereka seorang kadet berdiri di anak tangga lalu bicara, "Kalian bisa buka kaca helm dan tetap bisa bernafas kok, seperti di bumi."
"Oh ya, itu benar," sahut Haleema antusias sambil menekan tombol pembuka kaca helm.
Setelah terbuka secara elektris, Haleema mencoba menghirup udara untuk mengisi paru-paru sebanyak-banyaknya.
Setelah ditahan sejenak lalu Ia hembuskan pelan-pelan.
Semula Kirani cemas apakah benar bisa bernafas leluasa, setelah dibuktikan oleh Haleema sekarang sudah yakin.
Lalu ia menekan sensor helm di sebelah pelipis, sehingga kaca helmnya terbuka hingga menampakkan seluruh wajah.
Kirani meniru Haleema menghirup udara pelan-pelan.
"Hm beneran bisa bernafas loh." Ujar Kirani girang.
Akhirnya yang lain mengikuti Haleema dan Kirani membuka kaca helm.
Untuk pertama kalinya pula Kirani dan beberapa kru lain menarik nafas panjang menghirup udara di Planet Saturnus.
"Yup,"seperti berada di puncak gunung di Bumi." Kata Rani memberi komentar pada kesan pertamanya bernafas di planet ini. "Udaranya tipis dan agak susah bernafas!"
Kemudian Rani mengikuti Haleema dan kru lain yang mulai meniti anak tangga yang berjalan turun.
Mulai dari pintu badan pesawat semua kru tidak usah payah berjalan turun, karena semua anak tangga yang dipijaknya merupakan elevator.
Selama bergerak turun semua kru yang baru menginjakkan kaki di planet ini, menyapukan pandangan ke segala penjuru.
Gedung-gedung tinggi masih banyak terlihat masih dalam pembangunan. Alat-alat berat dan berbagai mesin terbang lalu lalang di atas bangunan seperti lebah mengelilingi sarang.
Sebuah kendaraan berbentuk roda semula kecil karena jauh, sekarang tampak jelas. Kendaraan itu adalah unimob dan di sisi pinggir jalan banyak orang lalu-lalang.
Ketika mereka tiba di bawah, sebuah unimob telah menanti masing-masing.
Ran, kita berpisah di sini, Ucap Haleema pada salah satu sahabat selama dalam perjalanan luar angkasa.
Mereka berbeda bidang. Haleema Omar adalah insinyur Geologi, sehingga Unimob yang akan ia naiki berbeda jurusan dengan Kirani yang insinyur teknik mesin
"Haleema, jangan lupa kabar-kabari ya," kata Rani sambil menyempatkan memeluk Haleema.
"Tentu saja!" Ujar Haleema yang balas memeluk dengan hangat.
Kirani menanti Unimob yang akan membawanya pergi.
Unimob adalah sebuah mobil tanpa sopir dan melaju tanpa menyentuh tanah. Setiap unimob bergerak menuju tujuan sesuai program yang ditanamkan padanya.
Mereka tidak memilih unimob mana yang mereka suka, tetapi gelang pada tangan masing-masing akan memberikan tanda unimob mana yang harus mereka naiki.
Akhirnya tiba giliran gelang Kirani dan orang lain yang berdiri tidak jauh telah menyala ketika sebuah unimob datang mendekat.
Ternyata Kirani dengan gadis itu ditempatkan di bagian yang sama. Lalu keduanyasaling melempar senyum menyadari akan menjadi teman seperjalanan. Sekarang mereka menjadi teman baru.
Badge di dada gadis itu bertuliskan Maria Gomez. Rani mengulurkan tangan mengajaknya berjabat tangan.
"Hi Kirani," sapa Maria yang menyambut uluran tangan Kirani dengan akrab pula.
Pintu mobil dengan sendirinya bergeser ke atas untuk memberikan kesempatan mereka masuk. Mereka melanjutkan bicara sambil memuat tas masing-masing ke dalam unimob.
Setelah beres, lalu keduanya mengambil tempat duduk di kursi yang hanya dua tempat duduk saling bersebelahan.
Ketika mereka telah berada di dalam dan telah menutup pintu, secara otomatis Unimob mulai bergerak maju.
Sepanjang perjalanan Kirani dan Maria menikmati pemandangan yang dilalui.
Logo proyek Columbus paling menonjol dan terdapat di setiap puncak gedung.
Beberapa wahana alat-alat berat sedang bekerja menaik-turunkan bahan-bahan material gedung yang masih dalam tahap konstruksi.
Beberapa pesawat berbentuk yoyo tampak terbang rendah. Pesawat ini jauh lebih kecil dari pesawat ulang-alik tadi.
Di luar jalan raya, Kirani melihat beberapa orang tantara sedang berpatroli. Mereka mengendarai unicycle. Unicycle adalah sepeda motor beroda satu.
Tiba-tiba terbayang oleh Kirani, tantara yang naik motor itu adalah Jake. Sungguh gagah bila Ia berada di atas unicyle, pikir Kirani.
Maria heran melihat Kirani senyum-senyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Maria. "Kamu ingat seseorang ya!"
"Idih, kata siapa," Sangkal Kirani yang tidak urung tersipu juga.
Maria tertawa kecil karena sudah hapal tingkah seperti itu.
Unimob terus berjalan beriringan sampai akhirnya tiba disebuah gedung berlabel huruf H besar dan logo proyek Columbus di depan pintu masuk.
Beberapa unimob masuk gedung dan sementara iring iringan unimob lain ada yang bergerak terus melewati gedung itu.
Di dalam gedung setiap penumpangnya tidak perlu turun dari unimob yang terus melaju masuk lebih dalam untuk bergabung dengan unimob-unimob lainnya mengambil posisi di depan sebuah panggung.
Kirani melihat seorang tuan rumah berdiri di belakang podium menghadapi para insinyur dan menyambut kedatangan mereka yang baru tiba.
Di atas panggung ada meja panjang dan beberapa orang duduk di belakang meja.
Tuan rumah memperkenalkan diri sebagai Manager mereka. "Selamat datang di New Batavia city, para supervisor ... " Lalu ia sambung, "saya Aldi Pratama, senior manager kalian."
Para supervisor yang masih duduk di dalam unimob menyimak apa yang disampaikan oleh Pak Aldi.
Pak Aldi melanjutkan arahannya. Mulai sekarang kalian ditempatkan di sektor H ini.
Semua schedule proyek telah kalian pegang dan tugas kalian adalah memastikan proyek berjalan sesuai target waktu.
"Saya tahu kalian masih jet lag. oleh sebab itu sekarang beristirahatlah karena besok kalian mulai bekerja.
Silahkan kalian istirahat dan makan siang dulu."
Seluruh pintu Unimob terbuka lalu para kru turun dari unimob dan berjalan menuju mess masing-masing.
Sekalipun Kirani datang bersama Maria Gomes, tetapi ternyata Ia ditempat dalam kamar bersama orang lain.
Pada saat itu Kirani melihat Irina yang datang menemuinya. Lalu Kirani mempekenalkan Irina ke Maria.
Ketika mereka tiba di depan sebuah kamar, ada orang lain telah berdiri di depan pintu kamar yang Rani tuju. Dari papan namanya mereka saling tahu nama masing-masing.
Kirani berkenalan dengan Tania yang ternyata menjadi teman sekamarnya sekarang.
"Sory Mar, aku di kamar ini bersama Tania," ucap Kirani sambil menunjukkan bukti yang ditampilkan gelangnya kepada Maria.
"Ih bagus dong," ujar Maria. "Teman kita jadi bertambah."
"Betul itu!" ujar Irina. "Sejak berangkat dari Bumi, aku telah bersama dengan Kirani. Tetapi sekarang ternyata beda kamar."
Maria, Irina dan Tania saling sapa. Lalu Maria dan Irina pergi mencari kamarnya sendiri.
Sementara itu Kirani dan Tania masuk kamar dan menaruh ransel di pinggir ranjang.
Setelah mereka melucuti helm dan tabung oksigen lalu menaruh di atas meja, segera saja melemparkan diri di atas ranjang masing-masing
Tetapi tidak lama kemudian Irina dan teman barunya datang. Mereka disambut meriah oleh Kirani dan Tania.
Akhirnya mereka berempat mengobrol dan bersenda gurau di dalam kamar. []
AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah
Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be
Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake
"Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k
Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J
Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib