Home / All / Sky Seeker / Lari dari Kenyataan?

Share

Lari dari Kenyataan?

Author: Handi Yawan
last update publish date: 2020-11-01 12:03:58

Waktu terasa lambat berjalan bagi Kirani yang seolah-olah sedang menanti panggilan algojo untuk naik ke panggung dengan Guillotine yang tersedia akan memancung kepalanya.

Tetapi, akhirnya panggilan itu datang juga!

Puk! sebuah layar virtual muncul dari gelangnya. Meskipun sedikit kaget, Kirani menyentuh tombol percakapan menjadi aktif. Lalu panggilan video memunculkan wajah Aldi Pratama, atasan Rani.

"Kirani, Kamu di mana?" Tanya Senior Manager itu.

Belum sempat Kirani mendapatkan alasan. Pak Aldi sudah menyambung ucapannya, "Kamu ditunggu di Balai kota oleh Pak Walikota dan Komandan Batalyon. Sekarang juga!"

Mati deh Gue, umpat Kirani dalam hati.

Wajah senior manager-nya sudah tidak ada, lalu kirani menutup panggilan dan bergegas pergi.

Kopi dan sisa cemilan Ia bereskan lalu dibuang ke tong sampah.

Bergegas Kirani mempercepat langkah kakinya karena Ia ditunggu. Beberapa pejalan kaki yang berjalan di depan banyak yang disalipnya.

Akhirnya sampai juga di Balai kota dan langsung masuk ke ruangan pertemuan yang ditunjukkan oleh seorang staf.

Rupanya di dalam Jake, dan Mattew telah berada di ruang itu pula. Selain Jake dan Mattew, ada pula beberapa orang berseragam tentara.

Pak Walikota dan beberapa orang berseragam tentara duduk di belakang meja tetua sidang.

Tetapi melihat tentara di samping Pak Walikota, dan dilihat dari pangkatnya rupanya itu Komandan Batalyon.

Staf yang tadi menunjukkan tempat kepada Kirani telah memandu Kirani agar berdiri di sebelah Jake dan Mattew. Lalu staf itu kembali ke luar dan menutup pintu rapat-rapat.

Sementara teman-teman Rani dan Jake yang ikut ke puncak Cudakdit bersama mereka ada duduk di kursi barisan belakang sebagai saksi.

Kirani dan para insinyur memakai baju biasa, sementara Jake dan tantara mengenakan seragam lengkap.

Di barisan belakang teman-teman Rani dan Jake, hanya puluhan bangku kosong karena pertemuan ini digelar secara tertutup.

Pertemuan itu sudah berlangsung dan rupanya para tetua telah mendengar kronologis kejadian di puncak itu dari penuturan Jake dan Mattew.

Semua sudah terbuka dan nasi telah menjadi bubur, sehingga Pak Walikota segera menggelar pertemuan ini.

Walikota New Batavia dan Komandan Batalyon dan para pemuka kota sejak kedatangan di ruang sidang lebih banyak termenung sehingga tampak nyata sekali mereka dalam keadaan bingung dan lebih banyak mendengarkan cerita dari ketiga orang yang berdiri di hadapan mereka.

Akhirnya Pak Walikota angkat bicara setelah semua merasa cukup mendengar penjelasan dari Jake dan Mattew.

"... bila tidak melihat langsung dari peristiwa kemarin, aku tidak percaya pada cerita kalian sewaktu di puncak Cudakdit." Ujar Pak Walikota sambil menyandarkan punggung pada kursi.

.... entah bagaimana pula tanggapan LAPAN dan dewan PBB bila mendengar hal ini karena kita semua tahu selama ini di Saturnus tidak ada manusianya.

Dan ini bukan sidang Militer, jadi sementara menunggu hasil pertimbangan mereka, Saya sebagai Walikota bersama Bapak Komandan Batalyon memutuskan hanya memberikan peringatan kepada kalian supaya tidak mengulang perbuatan lagi pergi ke puncak Cudakdit atau pergi ke luar dari koloni tanpa ijin dan pengawasan dari Kami."

"Jakob Ubar, Mattew Bierce dan tantara yang ikut bersama kalian, ini atas perintah Bapak Komandan Batalyon, setelah sidang harap menemui atasan kalian masing-masing.

"Pertemuan ini saya tutup!" Pak Walikota menyudahi pertemuan sambil melipat catatan-catatannya. "Kalian boleh kembali."

Semua mengemasi barang-barangnya lalu Jake dan teman-temannya pergi ke luar ruangan lebih dahulu tanpa sepatah katapun. []

Hari telah larut malam. Rani dan Jake berbicara di sebuah balkon.

Balkon tempat mereka bertemu adalah sebuah kafe yang terletak di sebuah lantai Gedung.

Beberapa orang pasangan ada duduk di belakang meja sambil menikmati sajian dan pemandangan.

Di bawah mereka terhampar pemandangan kota New Batavia yang sedang terus menerus membangun dalam tiga kerja shift.

Langit gelap berhiaskan kelap kelip bintang. Tiga garis tipis berbekas di langit dan warnamya pucat. Hanya cahaya bulan D2292 yang lebih terang.

Bulan-bulan yang lain terlalu jauh sehingga kecil saja dan terlihat pucat.

Pesawat-pesawat patroli lalu lalang di atas kota. Pesawat-pesawat itu milik militer dan masih sama seperti pesawat-pesawat lainnya yang berbentuk yoyo tetapi Army Look.

Rani dan Jake bicara di tepi balkon sambil bersandar ke pagar.

Kedua tangan Rani bertumpu pada pagar yang tingginya sepinggang dan wajah Rani menghadap ke pemandangan di bawahnya.

Sementara Jake berdiri dan bersandar memunggungi pagar memandangi arah sebaliknya.

"Apakah Kamu dijatuhi sanksi oleh Komandan?" Tanya Kirani mencemaskan Jake.

"Yah begitulah," aku Jake. "Aku, Matt dan tantara lain mendapat sanksi teguran atas pelanggaran disiplin militer."

Sanksi seperti itu dalam dinas militer sangat memukul semangat Jake. Tetapi kali ini situasinya berbeda sehingga ada hal yang lebih penting untuk mereka bicarakan.

"Kita kembali ke masalah yang tadi." Ucap Rani mengingatkan sesuatu. "Kau lihat sendiri, mereka agresor!"

"Itu karena selama ini kita telah salah paham!" Sanggah Jake.

"Tapi!" timpal Rani, "tetap saja rencanamu itu disersi!"

Rani menengok ke arah wajah Jake menunjukkan perhatian keras.

"Aku akan ambil resiko itu!" Tegas Jake. "Aku yakin mereka akan kembali dan, dan  bentrokan dengan mereka tidak akan bisa dihindarkan!"

Keduanya terdiam membayangkan bila apa yang Jake kuatirkan terjadi.

"Trus aku, gimana?" Tanya Rani.

"Jangan kuatir," pinta Jake, "... aku tidak akan melibatkanmu. Ini bukan salahmu!"

"Tidak, Itu egois!" mendadak Rani bicara dengan nada tinggi. "Kau egois!"

Mendadak pula Jake menjadi serba salah. Jake terkejut pada reaksi kekasihnya yang protes dengan keputusannya.

"Kalau kau pergi  aku mencemaskanmu, Jake. Aku ikut denganmu!"

Serta merta Jake menolak permintaan Rani, "Jangan! di luar sana terlalu berbahaya bagimu!"

Wajah Rani diliputi kecemasan.

"Aku pun kuatir bila kau di luar sana sendiri, Kirani."  Ucap Jake tertegun.

Rani meraih bahu Jake. Dan Jake menyambutnya. Lalu Jake dan Rani berpelukan saling menguatkan satu sama lain.

Mereka berpelukan di bawah pancaran sinar bulan.

Rani mengendurkan pelukan lalu berbisik dekat muka Jake. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku!"

Jake memandangi Rani untuk memberikan keyakinan bahwa Ia mengabulkan keinginan Rani.

Kedua tangan Jake memegang pipi Rani yang tampak bahagia malam itu berada dalam pelukan Jake.

"Pulanglah dan lekas tidur." Bujuk Jake. "Hari ini sangat melelahkan dan besok banyak pekerjaan."

Kirani mengangguk. Kita ketemu lagi besok, ya. []

KEESOKAN HARINYA 

Rani seperti biasa berada di sektor H sedang mengawasi rutinitas pekerjaan.

Rani dan para mandor mengenakan ransel terbang. Ransel di letakkan dipunggung dan terlihat ada lingkaran cahaya berwarna hijau menandakan fungsinya sedang aktif.

Ransel terbang tidak bersayap karena mesinnya berupa cakram seperti pada pesawat, dan kendaraan-kendaraan lain di New Batavia.

Sementara para pekerja sibuk di tempat kerjanya masing-masing. Dan ada pula yang lalu-lalang melakukan memindahkan pekerjaan ketempat lain.

Alat-alat berat terus menrus berkerja menaik-turunkan material.

Kirani serius memperhatikan papan elektronik yang dipegangnya. Dua orang mandor berdiri disamping Rani dan bersama-sama mengevaluasi pekerjaan. Mereka Mandor Jonas dan Mandor Suripto.

Seorang worker tampak melakukan pekerjaan mengelas di dekat mereka.

Pada latar belakang dinding gedung bagian dalam proyek ada garis-garis mengarah ke atas dan ke bawah bercat warna kuning yang merupakan jalur inspeksi para mandor dan supervisor.

"Kenapa pemasangan tambat di sub sektor ini sudah tiga minggu belum selesai?" tanya Rani sambil menunjuk pada monitor papan elektronik di tangannya.

Mandor Jonas memperhatikan papannya sendiri lebih seksama atas hasil analisa Kirani.

"Oh ya, bu  beberapa worker mengalami sakit sesak nafas." Jelas Pak Jonas memberikan alasan. "Ini akibat mereka belum bisa beradaptasi dengan atmosfir di sini. Akibatnya kerja mereka melambat."

"Loh, dilaporan tidak ada ditulis soal ini?" Sanggah Rani.

Mandor Jonas hanya diam saja mengakui kesalahannya sehingga tidak mampu memberikan jawaban lain.

"Kalau begitu, yang sakit bawa berobat ke klinik." Suruh Rani.

 "Baik, Bu."  Ujar Pak Jonas.

Lalu Rani menengok ke Mandor lain. Pak Suripto, "bawa beberapa tukang las untuk bantu kerjakan di sub sektor yang belum selesai itu! Pekerjaan pengelasan di sini biar saya yang selesaikan." Ujar Rani berinisiatif. "Enam bulan lagi migrasi kloter pertama dari bumi sudah akan tiba."

"Baik Bu!" Jawab Mandor Suripto sambil menutup papannya.

Mandor Jonas pergi dan sementara itu Mandor Suripto menghampiri seorang tukang las yang sedang melakukan pekerjaan menyambung rangka-rangka besi.

Tukang las menghentikan pekerjaan sambil meletakkan perkakas lalu mendengarkan perintah baru dari mandor Suripto.

Sementara itu di saat yang sama Kirani mengenakan sarung tangan dan mengenakan pelindung mata.

Rani mengambil alih pekerjaan tukang las. Sementara Mandor Suripto menunggu tukang las yang digantikan pekerjaannya oleh Rani, sedang mengenakan ransel terbang.

Setelah pekerja las beres mengenakan ransel terbang, mandor Suripto dan tukan las terbang naik mengikuti jalur di dinding yang dicat warna kuning.

Mandor Suripto dan tukan las pergi melanjutkan pekerjaan ke tempat yang lain.

Selanjutnya Rani melanjutkan pekerjaan tukang las dalam menyambung rangka-rangka besi.

Ketika itu datang seorang staff naik hoverboard menemui Rani

"Selamat siang, Ran." 

Rani menghentikan pekerjaannya saat menyadari kehadiran orang itu. "Oh, Pak William, tumben nih  Kirani merasa heran, ada apa Pak?"

"Ada hal yang akan aku sampaikan  Kata William, tapi dengan tampang yang bingung?"

"Kenapa?" Tanya Rani menjadi bertambah heran. "Aku jadi merasa nggak enak ati, nih ...."

Akhirnya William bicara sambil terbata-bata.

"Jake menghilang!"  Ujar William sambil garuk garuk kepala tidak gatal.

"Jake menghilang!" Rani mengulang ucapan William. "Maksud mu?" []

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sky Seeker   Jake Menjadi Gladiator

    AUUUUMM!Harimau monster mengaum kembali mempertonton kekuatan dan sepasang taringnya. Surai pada leher bagian atasnya telah berdiri tegak.Tetapi auman-auman Harimau tidak membuat nyali para gladiator ciut. Sebaliknya mereka menyongsong monster yang dilepas masuk arena ini.Para Gladiator berlari menerjang ke depan sambil berteriak dan mengacung-acungkan senjatanya. Sorak sorai semakin riuh menyemangati para gladiator yang bertarung di medan laga.Tampak sekali Harimau raksasa ini keder melihat banyak orang dan bersorak sorai di sekelilingnya.Para Gladiator telah mengacung-acungkan senjata ke arah Sang Harimau.Salah seorang yang berkulit gelap melempar lembing sekuat tenaga.CRAP!Lemparan lembingnya tepat menancap pada paha kanan Si Raja hutan.AUGRRRR!Kali ini bukan raungan menantang yang keluar dari mulut monster harimau itu, tetapi sebuah lolongan kesakitan.Sebuah

  • Sky Seeker   Pameran Kekuatan Kerajaan

    Satu buah kereta itu besarnya bisa dibandingkan dengan enam buah bis yang disatukan. Tiga perempat badannya merupakan bak air. Sedangkan pada bagian tungku pembakaran digunakan batubara.Uap putih dihembuskan dari hasil pelepasan uap dari tungku air melalui sebuah cerobong yang berfungsi sebagai terompet pula sehingga menimbulkan suara lenguhan yang nyaring.TUUUUUUT .!Asap putih bercampur dengan asap hitam berjelaga dari pembuangan batubara yang menjadi bahan bakar kereta-kereta.Sungguh dahsyat sekali mesin-mesin perang ini dan akan membuat musuh manapun gentar melihatnya. Kereta-kereta perang ini sudah seperti monster yang ganas dan siap melibas musuh-musuhnya yang akan lari tunggang langgang melihat kereta-kereta perang yang dimiliki tantara kerajaan.Hm, rupanya semua ini warisan kolonel astronot Rikwanto yang telah dikembangkan oleh mereka dengan baik, pikir Jake.Di belakang barisan tank Magadorr ini ada be

  • Sky Seeker   Nubuat Seorang Avatar

    Jake melihat ke angkasa.Tetapi sia-sia saja. Langit terlalu terang oleh kemilau Auora.Sementara itu Putri Malikan berdiri saling berpegangan tangan dengan Kirani yang rupanya mereka cepat akrab.Para Panglima pun telah berada di atas panggung dan mereka semua berdiri, kecuali Burila Durr yang duduk pada sebuah kursi megah.Berbagai aneka hidangan, buah-buahan dan perabotan yang berkilau memenuhi meja yang dihiasi dengan kain berwarna merah. Tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, rupanya itu merupakan bagian dari sesajen.Jake turut naik panggung sehingga tahu peralatan itu dibuat dari emas. Tetapi Ia tidak berkesempatan mendekati Kirani karena canggung terlalu banyak orang.Lalu Jake menyapa Kirani melalui komunikasi jarak jauh pada helmnya."Ran, kayaknya malam ini ada transit planet sejajar dengan Saturnus?" Ucap Jake.Burila Durr bersama orang-orang lain menengok kearah Jake

  • Sky Seeker   Mantra Para Dewa

    "Luas wilayah Magadorr hanya titik dalam bola ini." Tunjuk Jake. "Bila Anda pergi lurus ke arah matahari terbit atau sebaliknya, maka Anda akan datang dari tempat sebaliknya. Karena sesungguhnya dunia berbentuk bulat seperti batu ini."Penjelasan sederhana seperti ini membuat Budun Daut tercengang. Ia tidak berkata- kata tapi air mukanya tampak jelas sedang berpikir dan mencerna apa yang tadi dikatakan oleh Jake."Apakah itu berarti matahari di langit pun berjalan seperti itu?" Tanyanya."Bukan begitu." Sela Jake. "Begini." Kata Jake sambil meraih batu di atas meja kemudian meletakan di samping tangan Budun Daut yang memegang batu."Anggap batu di tanganku adalah Matahari yang sebenarnya jauh lebih besar daripada dunia dan anggap ini adalah matahari." Ujar Jake sambil menunjukan batu sebesar bola kaki itu yang Ia pegang."Dunia ini berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam." Papar Jake sambil memutar tangan kanan Budun daut dengan tangan k

  • Sky Seeker   Di Perpustakaan Kerajaan

    Selepas senja kala berlalu Jake dan Kirani diundang makan malam oleh Burila Durr.Pada kesempatan itu Burila Durr memperkenalkan adik perempuannya yang bernama Malikan.Putri Malikan seorang wanita yang sangat cantik mempesona. Bentuk tubuhnya bagus seperti Kirani. Bedanya bila Kirani ada tomboynya, tetapi Malikan sangat anggun. Setiap gerak gerik Putri Malikan mencerminkan seorang wanita bangsawan sejati.Budun Daut dan seorang Panglima kerajaan juga turut bersama mereka dalam perjamuan ini. Pangeran Burila Durr memperkenalkan pria itu bernama Soraloga.Panglima Soraloga tidak banyak bicara dan bersahaja, tetapi sorot matanya tajam. Berbanding terbalik dengan Putri Malikan yang ternyata sangat ramah dan menyambut hangat kepada Kirani.Tetapi dalam pandangan Kirani, wajah Putri Malikan menyembunyikan kesedihan. Tetapi tentu saja Kirani tidak berani lancang bertanya.Dalam kesempatan perjamuan ini Burila Durr menyampaikan ajakan kepada J

  • Sky Seeker   Tawanan Istimewa

    Iring-iringan berkuda, berkereta-kuda dan berjalan kaki kali ini sekarang melewati ladang pertanian.Ini adalah wilayah Kota Mugor, Ibu Kota Magadorr, Ujar Budun Daut. Sebentar lagi kita sampai.Selama ini perjalanan rombongan dilakukan secara marathon.Di beberapa kota kadipaten kerajaan Magadorr, rombongan berganti kuda-kuda, kereta-kereta dan logistik, sehingga bisa tiba di ibu kota dengan relatif singkat.Hamparan tanaman gandum yang mulai menguning keemasan mengisi dataran sejauh mata memandang.Beberapa buah lumbung terlihat berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk.Para petani menghentikan sejenak pekerjaannya untuk memberi hormat kepada pembesar-pembesar yang berada dalam rombongan.Dari tempat ini Jake dan Kirani telah melihat komplek bangunan yang berada jauh di punggung sebuah gunung.Akhirnya hamparan ladang gandum kini mulai diganti oleh deretan rumah-rumah penduduk.Rupanya rombongan telah memasuki kota Mugor, Ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status