LOGIN“Makasih ya, Lan,” kata Ataya ketika mereka sampai di depan rumah Ataya.
Lani mengambil helm yang disodorkan oleh Ataya lalu berkata, “Santai. Gue langsung balik ya.”
Ataya mengangguk ketika Lani mulai menghidupkan motornya kembali. “Bye, Ay,” ucap Lani.
Ataya masih berdiri mengamati sampai Lani tak terlihat lagi. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah dan menemukan Arki yang sedang tidur di sofa ruang tv. Ataya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke kamarnya.
Setelah masuk ke kamarnya, Ataya duduk di kursi meja belajarnya. Ia memijat pangkal hidungnya pelan, setelah beberapa menit merilekskan tubuhnya, Ataya membuka laptop lalu mengunjungi blog Aldebaran lagi.
Disana ia melihat bahwa malam ini konjungsi Bulan dan Venus akan terjadi. Ataya segera meraih kalender duduk yang berada di rak meja belajarnya lalu melihat tanggal yang ia beri tanda dengan warna merah.
“Hampir aja lupa,” gumam Ataya seraya mengembalikan kalender ke tempat semula.
Detik demi detik Ataya habiskan melihat website-website astronomi, kadang ia membuka akun Twitter-nya hanya untuk sekadar membaca sebuah utas lagi-lagi tentang astronomi yang dibuat oleh salah satu akun yang ia ikuti.
Tak terasa sudah dua jam lebih tiga puluh menit Ataya masih berdiam diri di tempat duduknya. Ia benar-benar larut dalam pekerjaannya. Pada saat itu Arki mengetuk pintu kamar Ataya. Ataya segera membuka pintunya lalu bertanya, “Kenapa, A.”
“Itu ada Raha di luar,” jawab Arki.
“Hah? Terus kenapa bilang sama aku?” tanya Ataya heran sambil mengerutkan keningnya.
“Raha nyariin kamu.”
“Kenapa?”
“Ya, gak tahu. Makanya sana samperin.” Setelah mengucapkan itu, Arki berbalik pergi ke kamarnya, sedangkan Ataya yang kebingungan segera berjalan ke depan rumah.
“Lo ngapain kesini?” tanya Ataya ketika sampai di teras dan melihat Raha yang sedang duduk di kursi.
Raha menoleh. “Jemput lo.”
“Gue kan udah bilang ketemu disana aja.”
“Lo yakin sendiri kesana sore-sore?” Raha menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa?”
“Lo cewek kesana sendirian pas sore menjelang malam, apa gak takut? Maksud gue bisa aja kan terjadi sesuatu sama lo.”
Ataya memikirkan kata-kata yang diucapkan Raha tadi lalu mengembuskan napasnya pelan. “Ya udah, lo tunggu disini. Gue mau siap-siap dulu.”
Raha mengangguk, membiarkan Ataya masuk kembali ke dalam untuk bersiap-siap. Selagi menunggu, Raha menyibukkan dirinya melihat-lihat taman kecil yang ada di pinggir rumah Ataya. taman itu dipenuhi oleh bunga-bunga yang cantik serta tata letaknya yang membuat taman itu menjadi lebih indah.
Lima belas menit menunggu Ataya, akhirnya ia kembali ke teras menemui Raha. “Udah?” tanya Raha yang berbalik menghampiri Ataya.
Ataya mengangguk. “Yuk.”
Selagi di jalan Ataya mencoba memecah keheningan dengan bertanya, “Lo udah pernah kesana?”
“Belum, kenapa?”
“Lo tahu jalannya?”
“Tahu, tadi udah nanya-nanya juga ke Ega.”
Ketika berada di Terminal Maja, Raha membelokan motornya ke kiri ke arah jalan menuju Argalingga. Tak ada tanggapan dari orang yang diboncengnya. Lagi-lagi hening diantara mereka. Di depan sana Raha melihat ada pertigaan. Mengingat kembali perkataan Ega yang menunjukkan arah jalan, ia akhirnya belok ke kanan. Raha melaju dengan kecepatan sedang, sampai di Jembatan Cilongkrang, Raha lalu belok kiri. Sekitar lima belas menit kemudian mereka sampai di Panyaweuyan, tepat pada saat matahari tenggelam di ufuk barat.
Mereka berjalan meninggalkan parkiran. “Maghrib dulu, ya,” ucap Raha yang langsung diangguki oleh Ataya.
Pukul enam lebih empat puluh menit, mereka selesai sholat. Raha yang lebih dulu selesai menunggu Ataya di luar sembari melihat-lihat sekelilingnya. Tak lama, Ataya pun keluar lalu segera memakai sepatunya.
“Yuk.” Ataya mengibas-ngibaskan tangannya ke celananya ketika ia berdiri lalu berjalan menghampiri Raha.
Mereka berdua terus berjalan masuk sampai tiba di tempat yang menjadi ciri khas tempat ini yaitu lanskap yang membentang luas dengan langit gelap bertaburan bintang. Jika pagi atau siang hari pemandangan disini jauh lebih indah, menikmati kicaunya burung dan semilir angin. Ataya duduk di bangku panjang yang memanjang di pinggir pagar disusul oleh Raha yang duduk di sebelahnya.
“Kelihatan banget bintangnya disini,” kata Raha masih menatap langit.
“Karena disini gak ada polusi cahaya,” ucap Ataya. Raha menoleh sebentar lalu mengangguk mengiyakan.
Ketika Bulan mulai berkonjungsi dengan Venus, mereka berdua termenung dengan pikirannya masng-masing. Memandangi dua buah benda langit yang saling berdekatan terlihat memesona.
“Cantik, ‘kan?” tanya Raha retoris.
“Ya, tapi pada nyatanya mereka tidak benar-benar berdekatan. Tidak sama ketika kita melihatnya dari sini,” ucap Ataya.
Raha menatap Ataya lalu berkata, “Lo bener. Jarak yang berkonjungsi bisa jadi sangat berjauhan. Misalnya, piringan Bulan menutup gugus bintang tertentu, maka diketahui jarak Bulan ke Bumi dan jarak gugus ke Bumi tentu jauh berebeda. Begitu pun Bulan dengan planet. Jadi, cuman penampakan dari bumi aja yang seolah-olah mereka berdekatan.”
Ataya melirik sekilas lalu kedua sudut bibirnya terangkat kecil, menunjukkan bahwa ia puas dengan ucapan Raha tadi. “Lo sering lihat konjungsi?”
“Nggak, kalau ada waktu aja gue sempetin,” jawab Raha. “Kenapa lo milih tempat ini?”
“Karena gue pengen keluar sebentar aja dari rumah,” gumam Ataya yang masih terdengar oleh Raha.
“Bukannya lo suka keluar ya?”
Ataya tersenyum kecut lalu berbalik menghadap Raha. “Lo pengen tahu gak kenapa gue milih lagu Mikrokosmos sama Spring Breeze pas waktu itu?”
Raha membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap Ataya. “Kenapa?”
“Karena gue suka sama arti dari lagu itu. Mikrokosmos. Gue pernah lihat pas RM lagi live dan dia pernah bilang kalau tubuh kita adalah partikel-partikel bersinar oleh cahaya. Ada cahaya ambisi, cahaya keinginan untuk menggapai sesuatu, dan cahaya yang berkeliaran. Cahya ini diibaratkan seperti emosi, perasaan bahagia, sedih, dan yang lainnya dan cahaya ini benar-benar berharga. Cahaya setiap orang adalah berharga.
“Satu cerita dan satu bintang untuk setiap orang. Setiap cahaya bersinar di jalannya masing-masing karena kita bersinar terang di dunia kecil kita, di bintang milik kita sendiri. Di lirik itu ada kata shine, dream, smile, dan gue berharap, gue bisa bersinar kaya bintang yang lainnya, mempunyai mimpi yang bisa gue perjuangin, dan tersenyum ketika gue dapat menggapai semuanya.” Ataya berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Raha. “Tapi, gue gak bisa bersinar kayak mereka.”
“Sedangkan Spring Breeze, ini adalah adalah sebuah lagu perpisahan tentang dua orang manusia yang tahu kalau salah satu dari mereka akan pergi. Padahal dia tahu bahwa orang yang dia sayangi, sumber penyemangatnya gak bakal ada di sisinya lagi. Semua kesedihan dan kebahagian mereka lalui bersama, karena mereka percaya, nanti, pada saat musim semi itu datang, mereka akan bersama kembali.
“Tapi, satu hal yang mereka lupakan, bahwa waktu akan mengikis perasaan mereka perlahan-lahan menjadi satu titik kecil di hati mereka, menyadari mereka pernah bersama dalam waktu yang singkat dan satu titik kecil itu akan tersimpan tersembunyi diantara beragam kejadian yang mereka lewati tanpa kehadiran satu sama lain.” Ataya tetap menatap Raha, memerhatikan ekspresi yang dikeluarkan oleh Raha ketika ia mendengar penjelasannya.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua