Share

BAB 9

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:41:55

Pada saat Ataya akan mematikan lampu kamarnya dan bersiap tidur, suara notifikasi handphone berbunyi. Ia segera mengambilnya yang berada di atas nakas lalu duduk di pinggiran kasur. Sebuah pesan masuk dari aplikasi chatting miliknya.

Lani

Ataya besok kita mau main di kafe, lo mau ikut gak?

Lani adalah teman SMA Ataya yang cukup dekat dengannya diantara teman-temannya yang lain. Satu tahun mereka duduk se-meja dan selalu pergi ke kantin bersama membuat mereka jadi lebih akrab.

Ataya berpikir sejenak lalu segera mengetik balasannya.

Ataya Kananta A

Ayo, kafe mana?

Lani

Nanti gue share loc, ya.

Ataya Kananta A

Oke.

Setelah membalas pesan itu, Ataya meletakkan handphone-nya di atas nakas lalu segera berbaring bersiap untuk tidur. Selama lima belas menit Ataya berusaha memejamkan matanya dan mengubah-ubah posisi tidurnya, tetapi ia tidak bisa tidur sama sekali. Setiap malam rasa cemas dan khawatir itu selalu muncul, membuat Ataya susah untuk tidur di malam hari. Setelah berbagai cara dilakukan Ataya akhirnya tertidur pada pukul satu pagi.

Pukul tujuh pagi, Ataya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Ia memakai pakaian seperti biasanya hanya berbalut celana jeans dengan kaus oversize-nya serta tak lupa sling bag yang ia bawa satu-satunya dari Bogor. Tak lupa ia juga menguncir rambutnya asal dengan poni bang-nya yang kemarin ia potong sendiri menutupi dahi lebarnya.

Cukup lama ia memandangi dirinya sendiri, Ataya memakai sepatu converse-nya lalu keluar dari kamar.

“Mau kemana, Dek?” tanya Arki yang sedang duduk di ruang tv ketika Ataya baru saja menutup pintu kamarnya.

“Main sama temen, A,” jawab Ataya.

“Mau Aa anterin gak?” tawar Arki. Ataya menunduk memasukkan handphone ke dalam sling bag-nya.

“Boleh.”

Arki berdiri lalu mengambil kunci motor yang berada di meja ruang tv. “Yuk.”

Mereka berdua keluar dari rumah. Ataya berdiri di depan pagar menunggu Arki yang sedang mengeluarkan motornya dari garasi. Arki berhenti di hadapan Ataya memberikan helm yang langsung dipakai oleh Ataya dan segera menaiki motor.

Di perjalanan, seperti biasa, Ataya tidak banyak berbicara hanya menjawab seperlunya saja jika Arki bertanya.

“Tumben kamu main sama temen,” ucap Arki.

“Lani yang ngajak.”

“Oh,” ucap Arki ber-oh ria.

Cukup jauh kafe yang menjadi tempat kumpul teman-temannya yang berada di daerah Kadipaten. Butuh waktu sekitar dua puluh menit dari rumah Ataya untuk sampai di kafe itu. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai. Ataya turun dari motor seraya melepaskan helm-nya lalu menyodorkannya ke Arki yang langsung diterimanya.

“Aa balik ya, Dek,” kata sambil menghidupkan kembali motornya.

“Iya, hati-hati, A,” ucap Ataya. Arki mengangguk lalu melajukan motornya meninggalkan Ataya.

Setelah Arki pergi dan tidak terlihat lagi, Ataya berbalik dan berjalan masuk ke dalam kafe. Disana ia melihat Lani yang tengah melambaikan tangannya kepada Ataya. Ataya pun menghampiri meja yang sudah diisi oleh beberapa temannya yang berada di pojokan kafe.

“Sini duduk,” kata Lina kepada Ataya ketika ia baru saja bergabung dan segera duduk di sebelah Lani.

“Lo udah lama pulang, Ay?” tanya Laras yang duduk di hadapan Ataya.

“Belum lama sih,” jawab Ataya.

“Gimana kuliah kalian?” tanya Lala yang baru saja kembali dari toilet.

“Oke-oke aja,” jawab Lani sambil mengangguk-angguk.

Ataya tersenyum canggung. Sebenarnya ia jarang sekali ikut kumpul-kumpul seperti ini dengan teman-temannya. Ia terlalu malas bertemu dengan teman yang lain. Karena Lani mengajaknya dan kebetulan ia disuruh ibunya untuk main dengan teman-temannya, akhirnya ia memutuskan untuk datang.

“Kok lo sedikit gendutan sih, Ay?” tanya Lala sambil memakan kentang goreng.

“Gue gak ngerasa gendutan,” jawab Ataya malas.

“Masa sih, gue lihat pas lo datang ke nikahannya Putri gak kayak sekarang,” ucap Lala. Ataya menghela napas pelan lalu meminum minuman yang tadi dipesan.

“Mungkin aja Aya lagi bahagia, ya kan,” timpal Lani. Ataya yang mendengar ucapan itu hanya melirik ke arah Lani.

Mereka mengangguk mendengar ucapan Lani. “Eh, lihat deh,” ucap Rina sambil menyodorkan handphone-nya ke tengah-tengah meja. Mereka semua mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat handphone Rina.

Disana menampilkan sebuah gambar seorang pria yang sedang shirtless berenang di sebuah kolam renang yang cantik dengan background lautan lepas.

“Gila ... gila,” kata Putri.

“Ganteng banget,” ucap Nina sambil menutup mulut dengan tangannya.

“Rahim gue anget,” timpal Laras ketika melihat gambar itu.

“Bergetar jiwa dan raga,” ucap Lala sambil terkekeh.

Ataya yang melihat itu hanya diam biasa saja tidak menampilkan ekspresi apapun, sedangkan Lani ia hanya tersenyum mendengar celotehan teman-temannya.

“Laras kok lo makin cantik sih,” ujar Nina setelah mereka selesai melihat gambar tadi.

“Iya, lo pakai skincare apa?” tanya Putri ingin tahu.

“Air wudhu,” jawab Laras sambil tertawa.

“Yang bener lo,” ucap Lala.

Laras tertawa lalu berkata, “Cuma basic skincare aja.”

“Oh. Btw, kalian pada balik kapan?” tanya Lani sambil meminum orange juice.

“Gue sih masih lama liburnya jadi bakalan lama juga disini,” jawab Nina.

“Gue juga masih lama,” jawab Lala.

“Gue dua minggu lagi balik ke Bogor,” jawab Ataya sambil mengaduk-aduk minumannya.

“Yah, padahal nanti kita mau ngumpul bareng lagi,” ujar Putri. Ataya hanya tersenyum minta maaf.

Mereka semua asyik mengobrol berbagai hal dari kisah percintaan sampai kisahnya Putri yang sekarang sudah menikah lima bulan yang lalu. Ketika teman-temannya asyik saling menimpal obrolan, Ataya hanya sesekali ikut dalam pembicaraan jika ia mengerti dengan topiknya.

Tak terasa mereka mengobrol, Nina melihat jam yang ada di tangannya, jamnya menunjukkan pukul satu siang. “Eh, udah siang nih, balik yuk,” ajak Nina.

Mereka pun berdiri lalu berjalan keluar dari kafe, mereka berpisah di depan kafe dengan Nina yang membawa motor sendiri, Putri dibonceng Lala, dan Laras yang dibonceng oleh Rina. Sekarang hanya tersisa Ataya dan Lani di parkiran motor.

“Nih, Ay,” ucap Lani sambil memberikan helm kepada Ataya yang disambut oleh Ataya.

“Lo gak enjoy ya tadi?” tanya Lani ketika mereka berada di jalan.

“Biasa aja,” jawab Ataya.

“Kalau biasa aja, kanapa diam aja?”

“Terus gue harus ngapain?” Ataya balik bertanya. “Gue gak ngerti sama bercandaan mereka yang kayak rahim anget atau yang lainnya.”

“Itu tuh sama kayak pelecehan seksual verbal dengan mereka ngomong begitu—well kayaknya memang gue gak bisa ngikutin bercandaannya,” lanjut Ataya.

Lani mengangguk. “Gue inget banget, waktu itu, lo langsung ninggalin teman lo dan habis itu lo gak berhubungan lagi sama dia. Lo kayak nganggap semuanya biasa aja tapi bedanya udah gak ada lagi teman lo di sisi lo.”

“Gue juga gak tahu, kalau gue udah gak suka pasti langsung gue tinggalin.”

“Sekali pun teman lo pernah baik sama lo,” timpal Lani.

Ataya tak menanggapi.

“Kalau lo butuh tempat cerita, gue akan selalu berusaha ada buat lo. Inget, Ay.” Lani melirik ke kaca spion.

“Dan lo masih bertahan di samping gue, Lan.”

“Karena gue tahu lo gak sekuat itu,” kata Lani sambil mengedikkan bahunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status