LOGIN“Ataya lucu banget deh,” ucap Raha ketika melihat pesan dari Ataya. Ega yang baru saja masuk ke kamar, heran melihat Raha yang senyum senyum sendiri melihat handphone-nya.
“Ngapain sih lo?” Ega menghampiri Raha lalu duduk di sebelahnnya.
“Gak ngapa-ngapain.”
“Si Arki jadi ikut gak hari ini?”
“Gak, ada urusan mendadak katanya.”
“Oh, oke,” Ega melepaskan jaketnya. “Btw, lo kemarin-kemarin kemana?”
“Jalan lah, ngapain lagi?” jawab Raha.
“I mean yang kemarin lo pulang malam itu.”
Raha mengingat-ngingat kemarin yag dimaksud oleh Ega. “Oh itu, gue nganterin Ataya dulu ke rumahnya terus ngobrol bentar sama Arki.”
“Kok pulang-pulang bawa Ataya? Ketemu dimana lo? Jangan-jangan udah janjian lagi?” tanya Ega bertubi-tubi.
“Gue kebetulan ketemu sama dia di Yogya, pas gue lagi cari tempat duduk buat makan terus gak ada meja yang kosong dan saat itu gue lihat dia, jadi ya udah gue duduk di tempat dia,” jelas Raha.
Ega mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Raha. “Lo suka ya?”
“Hah? Well, rasa suka sih ada mungkin karena sama-sama suka astronomi. But, we’re just stranger.”
“Memang kenapa kalau stranger?” tanya Ega sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Ya gak apa-apa,” Raha mengedikkan bahunya.
“Lo tahu, kadang hanya butuh beberapa detik untuk lo bisa jatuh cinta sama seseorang.”
Raha menyipitkan matanya. “Love at the first sight? Gue gak percaya, karena mungkin dalam beberapa detik itu lo hanya ngerasa suka aja dan belum sampai di tahap jatuh cinta.”
“Berawal dari rasa suka dan lo sering berinteraksi sama dia, bakalan ada peluang lo jatuh cinta ‘kan?”
“Terlalu gak pasti karena peluangnya 50:50. Makanya ada yang disebut friendzone, walaupun kita sering interaksi sama dia belum tentu perasaan itu akan muncul di kedua belah pihak.”
“Lo suka sama hal yang pasti, ya? Tapi, di dunia ini banyak hal yang gak pasti, Ha, contohnya cinta. Cinta gak totally science, banyak unsur-unsur yang gak bisa lo hitung sama angka-angka. Ini tentang perasaan.”
“Gue selalu memperhitungkan semuanya, Ga. Dan soal perasaan ini gue cukup sadar bahwa selalu ada perasaan yang gak bisa terdeteksi sama sekali,”
“Well, selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Misalnya, perlahan-lahan lo bakalan jatuh cinta sama Ataya.”
“Gue harap gak.” Raha menjawab.
“Siapa yang tahu?’
Ega berjalan ke arah pintu, ia berbalik menghadap Raha sebelum tangannya mencapai gagang pintu lalu berkata, “Cinta itu bekerja di wilayah otak, disana banyak hormon-hormon kayak dopamin, serotonin dan yang lainnya bakal memengaruhi perasaan lo gimana. Sebagai anak biologi yang udah belajar neurologi, cinta itu adalah fenomena neurobiologis.”
“Dan gue harap, nanti, ketika lo udah mengerti dengan perasaan lo sendiri, lo gak meyangkalnya—gue keluar dulu. Jam tiga kita pergi jalan.” Ega keluar dari kamar meninggalkan Raha duduk termenung di tempatnya.
Raha menghela napasnya pelan lalu membaringkan tubuhnya di sofa dengan tangan kanannya yang diletakkan di belakang kepalanya sebagai bantalan. Ia memikirkan perkataan Ega tadi. Mengingat kembali pertemuan-pertemuan dan interaksinya dengan Ataya yang canggung. Tidak banyak yang terjadi diantara mereka, hanya interaksi biasa seperti seorang teman saja dan Raha yakin Ega pasti melebih-lebihkan tentang prasangkanya.
“Gimana bisa seseorang dengan mudahnya jatuh cinta sama orang asing?” tanyanya pelan sambil memindahkan tangan kanannya untuk menutupi matanya dengan lengannya.
“Stranger?” kekehnya. Raha merasa lucu akan hal itu.
Melihat jam yang ada di tangannya, Raha memutuskan untuk tidur sebentar, masih ada tiga puluh menit sebelum jam tiga nanti. Ia menutup matanya dan tarikan napas yang teratur mulai terdengar.
Terdengar suara gaduh yang mengusik tidurnya Raha. Ia menyipitkan matanya menelusuri setiap sudut kamar mencari seseorang yang membuat suara gaduh itu.
“Lo ngapain sih? Ganggu orang lagi tidur aja,” omel Raha yang melihat Ega sedang membongkar lacinya dengan rusuh.
“Gue lagi cari sesuatu. Lagian bentar lagi udah mau jam tiga, lo masih tidur aja,” ujar Ega yang tetap fokus dengan pekerjaannya.
“Barang? Perasaan gue tidur baru sebentar.”
“Iya, barang Ibu yang dititipin ke gue. Bisa mati kalau barang itu gak ada, Ibu bakalan ngomong terus seharian.”
“Oh, mau gue bantu nyari gak?” tanya Raha sambil merubah posisinya menjadi duduk.
“Gak usah, lo cuci muka aja sana,” kata Ega sembari melambaikan tangannya agar Raha segera ke kamar mandi.
“Oke, deh.” Raha bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Raha kembali ke kamar untuk bersiap-siap. “Udah ketemu?”
Terlalu fokus, Ega tidak menjawab pertanyaan Raha. “Ah ... ini dia!” seru Ega ketika barang yang dicarinya ketemu di selipan-selipan kertas.
“Memang apaan sih?” tanya Raha penasaran sambil berjalan mendekati Ega.
“Cincin.” Ega berdiri lalu memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya. “Yuk,” ajak Ega.
Raha mengangguk lalu mengikuti Ega yang sudah berjalan mendahuluinya. Mereka berdua keluar dari rumah, ketika sampai di teras Ega memberikan kunci motor kepada Raha. “Lo yang ngendarain, ya.”
“Oke,” ucap Raha. Ia berjalan menuju garasi lalu menghidupkan motornya dan segera melajukan motornya keluar garasi.
“Ayo,” ajak Raha ketika motornya berhenti di depan teras. Ega berjalan menghampiri Raha lalu segera menaiki motor.
Mereka pergi menuju tempat yang akan dituju yaitu Gelanggang Generasi Muda atau biasa disingkat oleh masyarakat GGM Majalengka. Berada diantara lapangan dan jalan raya, sebuah taman cantik membentang ketika Raha dan Ega sampai di parkiran.
Taman yang dipenuhi oleh bunga warna-warni. Disejumlah titik juga terdapat beberapa kursi yang dapat diduduki oleh para pengunjung. Lampu gantung dengan model yang futuristik menambahkan kesan menawan di Taman GGM ini.
Mereka berdua bergabung dengan teman-teman yang lain yang sudah datang lebih dulu.
“Arki gak ikut?” tanya salah satu dari mereka yang memakai baju warna merah dengan topi hitam.
“Gak, ada urusan katanya,” jawab Ega.
“Oh, oke.”
“Duduk sini, Ha,” ajak seorang laki-laki berambut gondrong yang waktu nongkrong pertama kali mereka berkenalan bernama Zaki. Raha duduk di sebelahnya begitu juga dengan Ega yang berada sedikit jauh dengannya, hanya dilewati orang tiga orang di sisi kanannya.
Di sekeliling mereka banyak juga pengunjung yang mengunjungi tempat ini, mulai dari orang yang mengajak keluarganya, teman-temannya, juga orang yang sedang duduk berdua dengan pacarnya. Mereka menikmati lalu lalangnya kota Majalengka.
Apalagi ketika matahari mulai tenggelam, pengunjung akan lebih banyak dari siang hari, karena lampion-lampion akan dinyalakan dan tempat ini menjadi lebih indah ditemani oleh bulan.
Raha mengambil handphone yang ada di sakunya lalu memotret jalan di sepanjang taman yang dipenuhi oleh pengunjung. Ia mengeditnya lalu mempublish-nya di Instagram-nya dengan caption. Suatu malam di Majalengka.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua