LOGINSinar matahari menilisik masuk melalui jendela yang tidak ditutup semalaman, suara burung berkicau dengan merdu membuat seorang gadis yang masih terlelap semakin melesak dalam mimpinya, bahkan suara pintu yang diketuk-ketuk pun tak didengarnya sama sekali.
“Ataya!” Seseorang mengetuk pintu kamar.
Ataya menarik sellimutnya sampai menutup telinganya.
Karena tidak ada sahutan dari dalam kamar, Arki membuka pintunya lalu masuk menghampiri Ataya.
“Dek.” Arki menggoyang-goyangkan tubuh Ataya yang tak bereaksi sama sekali.
Arki berdecak sebal. “Aa pinjem hp kamu ya, Dek.”
“Iya, A,” jawab Arki sembari meniru suara Ataya lalu terkikik pelan.
Arki berderham.” Oke.”
Arki mengambil handphone Ataya yang berada di meja belajarnya lalu mulai membuka aplikasi chatting dan memasukkan id seseorang disana. Setelah selesai dengan urusannya meminjam handphone Ataya, Arki segera menyimpannya di sebelah Ataya lalu bergegas keluar dari kamar.
Beberapa menit setelah Arki keluar, bunyi notifikasi terdengar membuat Ataya meraba-meraba keberadaan handphone-nya dan menemukannya di sebelah dirinya. Masih dengan mata yang setengah tidur Ataya membalas pesan itu tanpa melihat siapa yang mengirim pesan tersebut lalu melanjutkan kembali tidurnya.
Satu jam kemudian, Ataya bangun dari tidurnya mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sempurna. Ia menatap ke depan denga tatapan kosong. Semalam ia tidak bisa tidur sama sekali dan baru tertidur ketika pukul dua pagi.
Menatap ke sekeliling, Ataya beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke arah standing mirror-nya dan melihat dirinya yang sangat berantakan. Rambut acak-acakan, matanya sembab, kantung mata yang terlihat jelas. Sempurna.
“Ah ...,” erang Ataya sambil terus menatap pantulan dirinya di kaca.
Ataya segera mengambil handuknya yang disampirkan di bahunya, ketika membuka pintu kamarnya, ia mengintip terlebih dahulu. Setelah dipastikan tidak ada siapa-siapa Ataya melangkahkan kakinya cepat keluar kamar menuju kamar mandi sambil menengok kanan kiri. Tapi, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dan Ataya langsung terdiam ditempat.
“Ngapain sih, Dek?”
Ataya menghembuskan napas lega lalu berbalik menghadap Arki. “Mau mandi lah.”
“Tapi kok kayak mau maling, ya?” tuduh Arki sambil tertawa.
“Sembarangan,” omel Ataya.
“Ya udah, sana kalau mau mandi.” Arki berlalu pergi begitu juga dengan Ataya.
“Oh iya, Dek.”
Ataya menoleh ketika Arki memanggilnya lagi lalu menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”
“Tadi Aa pinjam hp kamu buat chat teman Aa.”
“Kenapa pakai hp aku?”
“Paket internet Aa habis belum diisi lagi,” jelas Arki.
“Oh oke,” ucap Ataya sambil mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Ataya sudah selesai membersihkan dirinya, ia berjalan ke dapur mengambil gelas di rak gelas lalu mengisinya dengan air dari galon. Ia duduk di kursi meja makan ketika ia meneguk air minumnya dan meletakkan di meja setelah air yang ada di dalamnya habis tak tersisa.
Suasana rumah sangat sepi ketika Ataya melewati ruang tv sebelum ke kamarnya. Mungkin Arki berada di kamarnya entah apa yang sedang dilakukannya toh Ataya tidak mau tahu, sedangkan Ibu Ataya, ia pergi ke tempat kerjanya. Ataya berjalan ke kamarnya untuk mengambil handphone-nya lalu kembali lagi ke ruang tv. Ketika sudah mengambil handphone-nya Ataya duduk di sofa di ruang tv lalu menyalakan tv-nya.
Tak berselang lama dari Ataya menyalakan tv-nya kini ia memindah-mindahkan channel tv dengan bosan karena tidak ada yang menarik perhatiannya. Lelah dengan memindah-mindahkan channel tv akhirnya Ataya membiarkannya saja, ia melihat dengan tatapan tak menarik ke arah layar televisi. Ketika ia akan berdiri dari duduknya untuk mengambil camilan yang berada di ruang tamu, suara notifikasi handphone-nya bunyi membuatnya urung berdiri.
Ataya mengerutkan keningnya ketika tahu siapa sang pengirim pesan di aplikasi chatting-nya. Seingatnya ia tidak pernah meminta id lakai-laki itu. Ia membuka pesan itu, seketika ia terkejut melihat isi pesan tersebut. Matanya melotot sangking tak percayanya ia mengirimkan sebuah stiker yang membuatnya malu sampai ke tulang.
Raha Adhideva
Ataya? Lol. Gue tahu karena Arki gak mungkin kirim stiker flying kiss kayak gitu. Dia cukup waras buat send stiker itu ke cowok.
Ataya menggigit bibirnya malu. “Mampus.”
Ataya Kananta A
Maksud lo gue gak waras gitu?
Tak berselang lama Raha membalas pesan itu.
Raha Adhideva
Haha calm down, Ataya. Btw, nanti bakal ada konjungsi Bulan sama Venus, sesuai janji lo yang mau ajakin gue jalan-jalan, jadi lo mau kan nemenin gue?
Ataya Kananta A
Sejak kapan gue ada janji sama lo?
Raha Adhideva
Lo diam aja waktu itu, jadi gue berpikir lo setuju sama hal itu. Dan gue yakin lo juga bakal lihat konjungsi itu. So, gimana, Ataya?
Ataya Kananta A
Seharusnya lo gak ngambil kesimpulan secepatnya kayak gitu. Gue pikir-pikir dulu.
Raha Adhideva
Oke, gue tunggu.
Ataya merutuki dirinya sendiri menyadari kebodohonnya yang telah mengirim stiker kepada Raha yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang dikirimnya ketika ia membalas pesan tersebut pada pagi itu. Sial. Ingin sekali ia menenggelamkan dirinya, pertama kali dalam hidupnya ia mengirim stiker flying kiss kepada laki-laki. Bodoh.
Menatap handphone-nya, Ataya membaca pesan yang dikirim oleh kakaknya. Isinya ia meminta maaf kepada Raha karena hari ini ia tidak bisa ikut keluar, ada urusan mendadak katanya. Di bawah pesan tersebut Arki menambahkan bahwa ia megirim pesan tersebut lewat handphone-nya Ataya dikarenakan handphone miliknya tidak ada paket internet sama sekali.
Ketika Ataya sedang fokus membaca pesan tersebut, Arki keluar dari kamarnya lalu berkata, “Ngapain kamu, Dek? Rambut kok acak-acakan kayak gitu.”
Ataya menyengir sembari merapikan rambutnya. “Gak ngapa-ngapain.”
“Kayak habis ditakut-takutin gitu, apalagi mukanya,” terka Arki. Ia berjalan menghampiri Ataya lalu duduk di sebelahnya. Ataya menggeser tubuhnya karena sofa tersebut terlalu kecil untuk diisi oleh dua orang.
“Yah, gak muat. Pindah bawah sana, Dek,” perintah Arki sambil memindahkan channel televisi dengan remote yang sekarang ada di tangannya.
“Kok jadi aku sih, Aa yang pindah sana,” kata Ataya tidak terima.
“Ya udah, kamu ambil camilan dulu nanti Aa pindah ke bawah.”
Ataya berdecak sebal sambil berlalu menuju ruang tamu untuk membawa camilan lalu segera kembali ke ruang tv. Dilihatnya Aa-nya sudah selonjoran di karpet yang berada di bawah sofa seraya memilih film apa yang akan ditontonnya.
“Mau nonton apa, Dek?” tanya Arki ketika Ataya baru saja duduk di sofa tanpa melihatnya.
“Interstellar deh,” jawab Ataya.
“Oke.”
Siang itu mereka menghabiskan waktu berdua dengan menonton film yang dipilih oleh Ataya. Ataya sangat menikmati fim itu, sedangkan Arki, ia malah tertidur ketika baru saja pertengahan film.
Ataya menyalakan handphone-nya lalu mengirimkan pesan kepada seseorang.
Ataya Kananta A
Oke. gue tunggu lo di Panyaweuyan nanti.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua