Share

BAB 6

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:39:58

Sudah beberapa hari dari pertemuannya dengan Raha dan selesainya membaca buku yang ia beli, kini Ataya sedang menyibukkan dirinya berselancar di mesin pencari internet. Mencari tahu tentang berbagai benda langit yang membuatnya penasaran setelah membaca buku Kosmos miliknya.

Apa yang akan terjadi jika Matahari digantikan dengan Aldebaran?

Jika ditempatkan di tempat matahari sekarang, permukaan Aldebaran akan memanjang hampir ke orbit Merkurius. Massa dan gaya gravitasi akan memengaruhi kecepatan rotasi dan revolusi setiap benda yang ada di tata surya. Dan bisa dipastikan bumi akan hangus.

Melihat jawaban yang didapatnya, Ataya bergidik membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Setelah puas berselancar di mesin pencari, Ataya membuka tab baru di laptopnya lalu mengunjugi blog Aldebaran yang sering ia kunjungi.

Sekitar 3 hari lagi akan terjadi konjungsi Bulan dan Venus, apa kamu akan melihatnya? Bersama orang yang kamu cintai mungkin?

Ketika melihat postingan itu, Ataya bergegas mengambil kalender duduk yang ada di meja belajarnya lalu menandai tanggal tersebut dengan spidol merah dan menamainya. Setelah meletakkan kembali kalender itu, Ataya bingung tempat mana yang cocok untuk melihat konjungsi itu.

Ataya mengetikkan rekomendasi tempat di Majalengka untuk melihat konjungsi di mesin pencari lalu muncul beberapa rekomendasi tempat. Ataya terus menelusuri ke bawah sampai ia menemukan tempat yang cocok yaitu Panyaweuyan.

Kembali ke blog-nya Aldebaran, karena penasaran Ataya mengirimkan pesan di blog tersebut.

Venus: Halo, gue boleh tanya sesuatu gak?

Tak lama kemudian Ataya mendapat balasan.

Aldebaran: Hai, mau tanya apa?

Venus: Kenapa nama blog lo Aldebaran?

Aldebaran: Karena gue suka? Lol. Ini sama kaya kenapa lo lebih memilih Venus?

VenusIs it the answer?

Aldebaran: Lo mau baca jawaban gue? Simple sih sebenernya.

Venus: Iya.

Aldebaran: Jadi dalam Astrologi, Aldebaran itu artinya ada dua. Satu, arti untuk bagan prediktif yaitu kekerasan, kemenangan, dan kepahlawanan, sedangkan yang kedua arti untuk seseorang yaitu kepercayaan, energi, dan kualitas kepemimpinan. Gue lebih mengartikan blog ini sebagai arti untuk seseorang, dimana di blog ini banyak banget energi positif yang gue coba share ke readers gue dan gue percaya blog ini bisa membantu kalian untuk berbagi dengan yang lain.

Venus: Wow, gue gak nyangka penjelasannya akan sepanjang itu.

Aldebaran: Haha, sorry kalau kepanjangan. But, gue serius ketika gue benar-benar bisa bermanfaat buat orang lain. Naif banget, kan?

Venus: Gue gak tahu mau jawab apa.

AldebaranIt’s okay. So, udah kejawab kan pertanyaan lo?

VenusYes, thank you ya.

AldebaranYou’re welcome.

Ataya merebahkan dirinya di kasur, menatap kosong langit-langit kamarnya yang dulu ia hias dengan bintang-bintang dari kertas jasmin berwarna ungu kehitaman. Satu tahun yang lalu ketika ia sedang berlibur disini, merasa bosan karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan, Ataya mendekor ulang kamar tidurnya dengan bertemakan galaksi.

Setelah puas rebahan, Ataya bangkit dari tidurnya keluar dari kamar untuk membuat cokelat panas. Ketika melewati ruang tv, Ataya menengok ke arah jendela yang memancarkan sinar ke oranye-an. Ataya bergumam, “Udah sore ternyata.”

“Baru keluar, Dek?”

Ataya menolehh ketika Arki berada di belakangnya.

“Iya,” jawab Ataya sambil cengengesan.

Arki menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan pergi menuju kamarnya meninggalkan Ataya sendirian di ruang tv.

Ataya mengedikkan bahunya lalu pergi menuju dapur yang tadi sempat tertunda. Ia embuat cokelat panasnya denga telaten, ketika sudah jadi, ia menyicipinya sedikit lalu pergi dari dapur menuju teras rumah.

Sampai di teras, Ataya duduk di kursi dan meletakkan cokelat panasnya di meja yang berada di sampingnya. Ia menatap ke arah langit, semburat jingga yang nampak membuat dirinya merasa lebih tenang terlebih cokelat panas kesukannya juga ikut menemaninya.

Tak berselang lama, Ibu Ataya turun dari ojeg lalu berjalan menghampirinya dan duduk di kursi yang kosong di sebelahnya.

“Baru keluar dari kamar?” tanya Ibu seraya meletakkan tasnya di atas meja.

Ataya mengangguk.

Ibu Ataya memindai diri Ataya dari atas sampai bawah lalu bertanya, “Kenapa gak main keluar? Sama teman-temanmu yang ada disini mungkin?”

“Iya, nanti.”

“Tadi ibu ketemu sama temanmu pas waktu SMA yang namanya Laras, dia lagi main kayaknya sama teman-temannya, cantik juga sekarang dia. Kamu juga harusnya keluar rumah, main sama temanmu biar gaul kayak teman SMA-mu itu, jangan diam mulu di kamar.”

Ataya menghela napas pelan.

“Coba kamu main sama Riri, anak tetangga sebelah rumah. Pusing ibu lihatnya kamu di kamar terus kayak gak ada gairah sama sekali,” sambung Ibu Ataya.

“Kalau aku gak se-frekuensi sama mereka, gimana?” kata Ataya.

“Coba buat se-frekuensi dong.”

“Kenapa harus aku yang mencoba buat bisa se-frekuensi sama mereka, tapi mereka gak pernah benar-benar mencoba untuk bisa se-frekuensi sama aku?” protes Ataya. Ia berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan ibunya duduk sendirian di teras depan rumah.

Ataya berjalan dengan tergesa menuju kamarnya. Menahan semua emosi yang bergemuruh di dadanya, ia mencoba menenangkan dirinya dengan bergumam, “Calm down, Ataya, please.”

Ketika sampai di kamarnya, Ataya segera mengunci pintu lalu duduk menekuk lututnya di bawah pinggir kasur. Menelusupkan kepalanya diantara kedua lututnya, Ataya terisak pelan. Perasaan seperti ini benar-benar membuat Ataya muak. Ingin sekali ia meluapkan perasaannya dengan mengeluarkan semua isi kepalanya, tetapi ia tidak bisa. Terlalu sulit.

Dengan keadaan kamarnya yang gelap hanya ada cahaya bulan masuk ke dalam kamarya karena jendela yang masih terbuka membuat suasana semakin sepi dan sunyi. Ataya semakin memperat pelukannya kepada dirinya sendiri. Lelah. Ia lelah dengan semua perasaan yang selalu dirasakannya.

Pernah terpikir olehnya untuk self harm, tapi dirinya masih sadar agar tidak pernah mencoba melakukan hal itu. Berharap waktu dapat berhenti agar rasa sakitnya juga ikut berhenti. Perkataan ibunya masih terngiang-ngiang di benaknya.

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Bukankah aku berhak melakukan apa saja yang aku mau?”

Ataya merangkak naik menuju kasurnya, ia menyelimuti dirinya sampai menutupi kepalanya, memohon agar malam ini ia tidak terbangun pada malam hari. Suara handphone-nya memecah kesunyian, Ataya tidak mengangkat telepon, ia terlalu malas berinteraksi dengan orang lain saat ini.

Beberapa menit kemudian rasa cemasnya semakin membuncah, Ataya menyingkap selimutnya sebal, menatap langit-langit seperti yang biasa ia lakukan, mencoba menenangkan dirinya agar rasa cemas ini tidak terus-menerus melingkupi hatinya yang terasa sesak. Air matanya kembali turun dari sudut matanya. Ia tidak bisa mengontrolnya. Sama sekali tidak bisa. Sebenarnya ada apa dengan dirinya dan tubuhnya ini. Ataya membalikkan badannya ke arah kanan, menelungkup kedinginan seperti bayi yang berada di dalam kandungan.

“Dunia memang tidak adil ‘kan?” lirihnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status