Share

BAB 5

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:39:26

Setelah makanan Raha datang tak ada lagi yang berbicara diantara mereka. Suasana hening menyelimuti mereka hanya ada suara dentingan sendok dan garpu serta ramainya foodcourt ini. Awkward, batin Raha.

“Habis makan mau main timezone dulu gak?” tanya Raha ketika sudah menghabiskan suapan terakhirnya.

Ataya berpikir sebentar. “Boleh.”

“Udah habis kan makannya?” tanya Raha lagi. Ataya mengangguk lalu bangkit dari duduknya.

Raha berjalan di samping Ataya, mereka pergi ke tempat timezone berada. Ketika sampai disana Ataya bertanya. “Lo ada kartunya gak?”

“Nggak.”

Ataya berdecak sebal. “Ya udah pake kartu gue aja, nanti kita patungan aja—mau ikut sama gue ngisi kartu atau nunggu disini?”’

“Nunggu sini aja deh,” jawab Raha seraya melihat-lihat game yang ada.

“Oke.” Ataya pergi menuju tepat pengisian kartu.

Raha berjalan ke arah tempat duduk yang ada disana lalu mendudukkan dirinya sambil menunggu Ataya datang. Beberapa menit kemudian Ataya menghampirinya, ia berdiri tepat di hadapan Raha.

“Yuk,” ajak Ataya.

Raha berdiri lalu berjalan mengikuti Ataya. “Mau main apa?”

“Basket?”

Raha mengangguk. Mereka berjalan ke arah basket berada lalu Ataya menggesekkan kartunya bergantian dengan Raha.

“Tanding ya,” kata Ataya ketika akan dimulai.

Raha mengangkat sebelah alisnya. “Siapa takut.”

Pada awalnya mereka fokus bermain, tetapi di pertengahan Raha mulai mengambil bolanya Ataya. Ataya yang melihat itu balas mengambil bolanya Raha. Mereka melakukan itu sampai waktu habis, melihat hasilnya Ataya menghela napas sebal. Raha menang.

Melihat ekspresi Ataya, Raha tersenyum kecil. “Kali ini gue yang nentuin mau main apa ya.” Raha melihat kesekelilingnya. “Balap mobil, yuk.”

Raha jalan terlebih dulu diikuti Ataya di belekangnya. Mereka menunggu sebentar karena ada orang yang belum selesai memainkannya. Setelah beberapa menit menunggu Ataya dan Raha sudah sibuk menjalankan mobilnya.

Raha berdecak ketika mobilnya menabrak pembatas jalan, sedangkan Ataya ia terlihat santai memainkannya. Beberapa menit kemudian permainan selesai dengan hasil yang seri. Ataya segera turun dari permainan itu begitu juga dengan Raha.

Dance?”

Seriously?” Raha menatap tak percaya ke arah Ataya.

Ataya mengangguk. “Hm.”

Mereka berjalan ke arah permainan menari disitu ada layar yang menampilkan gerakan apa yang harus dilakukan oleh pemainnya dan itu bisa dimainkan oleh dua orang. Ataya menggesekkan kartunya lalu mereka berdua memilih lagu apa yang akan dimainkan. Mereka sedikit berdebat dengan pemilihan lagu, tetapi akhirnya mereka memilih lagu yang dipilih Ataya. Mikrokosmos from BTS.

Dimulai dengan Ataya yang menarikan lagu tersebut disusul oleh Raha lalu dilanjut dengan keduanya yang menari bersama-sama. Menarik perhatian, orang-orang mulai berkerumun mengelilinngi mereka, melihat tarian Raha yang kaku membuat orang-orang tertawa.

Selesai dengan lagu tersebut, Ataya langsung memilih kembali lagu. Spring Breeze from Wanna One. Mereka lanjut menari dengan orang-orang yang melihat mereka.

“Gila, capek banget.” Keringat menetes dari dahi Raha ketika mereka selesai.

Masih dengan napas tersengal-sengal, Ataya pergi membeli dua botol air mineral dan memberikannya kepada Raha. “Nih.”

Raha menyambut air mineral itu lalu segera meminumnya. “Thank’s Ataya.”

Setelah duduk diam meredam capeknya, Ataya berdiri. “Mau lihat buku gak? Kebetulan gue mau beli buku.”

Raha mengangguk mengiyakan.

Berjalan beriringan ketika memasuki toko buku, Ataya langsung pergi ke tempat rak buku yang ia inginkan.

“Lo mau beli buku itu?” tanya Raha ketika Ataya memegang sebuah buku.

Ataya mengangguk. “Hm, udah dari lama gue pengen beli bukunya Carl Sagan ini.”

“Kosmos ya,” ucap Raha.

Ataya tersenyum melihat buku yang ada di tangannya lalu berjalan menuju kasir masih dengan diikuti oleh Raha.

“Lo gak beli sesuatu?” tanya Ataya ketika petugas kasir sedang mengemas belanjaannya.

“Gak deh, uang gue terbatas, nanti aja.” Raha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ini mbak,” kata petugas kasir sembari memberikan buku milik Ataya.

Ataya mengangguk tersenyum. “Terimakasih.”

Mereka berdua pun keluar dari toko buku lalu turun ke lantai dua menggunakan eskalator. Ataya melihat jam yang ada di tangannya. “Gue pulang duluan ya, udah malem juga.”

“Pulang naik apa?” tanya Raha.

“Naik angkot.”

“Gak mau bareng aja?”

“Gak deh, makasih ya.”

Setelah berpamitan, Ataya bergegas keluar gedung untuk menunggu angkot. Sudah malam sekitar pukul 8.00 WIB Ataya masih menunggu angkot yang tak kunjung datang. Sebuah motor berhenti tepat di hadapannya yang muncul dari arah kanan. Pengemudi itu melepas helm-nya lalu merapikan rambutnya yang berantakan.

“Belum ada angkotnya?” tanya Raha yang merupakan pengemudi motor tadi.

Ataya menggeleng lesu.

“Ya udah pulang bareng gue aja, kebetulan gue bawa helm dua.” Raha menyodorkan helm yang satunya kepada Ataya.

Ataya berpikir sejenak lalu mengambil helm yang disodorkan oleh Raha dan segera menaiki motor. Raha melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia melirik ke arah spion melihat Ataya yang sedang melihat-lihat bangunan di sepanjang jalan.

Raha berdeham menarik perhatian Ataya yang larut dalam pikirannya dan Ataya pun melihat ke arah spion.

“Lo kenapa suka astronomi?” tanya Raha sambil sedikit berteriak.

“Kenapa gue harus jawab?”

Fine.”

Selama perjalanan tak ada seorang pun yang membuka pembicaraan sampai Raha membuka pembicaraan kembali dengan bercerita. “Gue suka natap langit malam yang ditaburi bintang kelap-kelip selama berjam-jam. Gue suka melihat indahnya gambar gas nebula yang tersebar luas di internet,” ujar Raha sambil melirik kaca spion. “Lo dengerin ‘kan?”

“Iya.”

“Astronomi juga ngajarin gue kalau semesta ini gak bisa kita kontrol, ngajarin kerendahan hati bagi manusia, membuat manusia menyadari bahwa kehidupan gak harus sejalan dengan ego. Memahami kalau kita hanya setitik debu di semesta ini.” Raha belok ke arah kanan ketika lampu merah berganti menjadi warna hijau.

“Dan memahami bahwa setiap kehidupan adalah berharga,” lanjut Raha. Ataya yang mendengar kalimat terakhir langsung terhenyak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status