Share

BAB 11

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:43:40

Raha memerhatikan Ataya yang mencoba untuk mengeratkan jaketnya. “Dingin, ya.”

Ataya hanya mengangguk sambil menipiskan bibirnya. “Sini, mana tangan lo,” kata Raha yang menjulurkan kedua tangannya ke hadapan Ataya.

Ataya mengangkat sebelah alisnya lalu bertanya, “Buat apa?”

Tanpa persetujuan Ataya, Raha menggenggam tangan Ataya, ia menggosok gosokkan kedua tangan Ataya bersamaan dengan uap yang dikeluarkan oleh mulutnya. Ataya terus menatap Raha, ia terkejut dengan perlakuan Raha kepadanya.

Masih dengan menggosok-gosokkan tangan Ataya, Raha bertanya, “Gimana, masih dingin?”

“Sedikit.”

Raha meniup kembali tangan Ataya. “Gue gak tahu apa yang terjadi sama lo waktu dulu atau pun sekarang, tapi gue yakin, nanti, lo bakalan bersinar terang layaknya bintang-bintang yang ada di sekeliling lo,” Raha berhenti, masih fokus dengan apa yang dilakukannya. “dan untuk satu titik kecil itu, dia akan menyimpannya baik-baik walau keadaan merubahnya,” lanjut Raha.

“Kenapa lo bisa ngambil kesimupulan kayak gitu? Bisa aja kan sinar gue makin redup dan perlahan-lahan mati.”

“Maka lo harus berusaha lebih keras supaya sinar lo gak mati. Gerakin semua inti lo semaksimal mungkin, karena lama atau nggaknya sebuah bintang hidup, itu tergantung dari massanya. Semakin besar massa sebuah bintang, maka akan semakin cepat ia menghabiskan hidrogennya. Gak peduli lo bintang kecil atau bintang besar, toh yang penting lo bisa bermanfaat buat semuanya.”

Ataya terdiam, mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh Raha, lalu ia bertanya, “Kenapa kita harus bermanfaat buat semua orang?”

 “Karena pada dasarnya, di dalam hati seseorang ketika ia bisa memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh oran lain, maka ada kebahagiaan tersendiri disana,” jelas Raha. “Hal sekecil apapun yang menurut kita tidak berharga, bisa jadi itu berharga untuk orang lain.”

Ataya bergeming, lalu ia menengadahkan kepalanya, mengerjap-ngerjapkan matanya serta menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah melakukan itu ia kembali menatap kedua tangannya yang masih digenggam oleh Raha.

Tiba-tiba perut Ataya berbunyi memecah keheningan yang berada di sekitar mereka. Ataya meringis merutuki cacing-cacing di perutnya yang sama sekali tidak bisa diajak berkompromi dalam situasi seperti ini.

“Yuk pulang,” ajak Raha. Ia melepaskan genggaman tangannya ketika ia berdiri.

Ataya mengangguk pelan. Ia merasa ada yang kosong ketika Raha melepaskan tangannya. Ia berjalan di belakang Raha, memandangi punggungnya yang perlahan menjauh dengan stabil seiring Raha berjalan.

“Kenapa lo di belakang?” Raha berhenti tepat satu langkah sebelum Ataya menabraknya.

“Hah?”

“Sini jalan di samping, kalau lo jalan di belakang dan terjadi sesuatu sama lo gimana?”

“Gak bakal terjadi apa-apa. Lagian gue juga bisa sedikit beladiri.”

Raha menaikkan sebelah alisnya. “Siapa yang tahu—udah sini.” Raha menarik pergelangan Ataya agar segera berjalan di sampingnya.

Ataya yang kaget dengan tarikan tangan Raha hanya berjalan pasrah di sampingnya. Sebenernya gue kenapa sih hari ini, batin Ataya.

“Mau makan dulu atau langsung pulang?” tanya Raha ketika mereka berada di jalan.

“Makan dulu deh, gue laper banget dari tadi,” jawab Ataya.

“Oke. Mau makan dimana?”

“Di pecel lele aja.”

Di depan pertigaan Raha menghentikan motornya di sebelah tempat pecel lele yang berada di pinggir jalan. Ataya yang turun terlebih dahulu langsung memesan makanan, “Mang, pecel lele dua ya.”

Raha menarik kursi yang berada di depan Ataya lalu mendudukinya. “Udah pesan?”

“Udah.”

Raha mengangguk lalu menatap ke sekitar. “Sebelumnya lo udah pernah main ke Panyaweuyan?”

“Belum, ini pertama kalinya.”

“Terus kenapa lo pengin banget kesana sendiri kalau ini pertama kalinya?”

Mang pecel lele menghampiri mereka membawa nampan yang isinya teh hangat untuk diberikan kepada mereka lebih dulu selagi menunggu lelenya matang.

“Ya karena pengin sendiri aja,” jawab Ataya ketika Mang Pecel Lele meninggalkan mereka.

“Terus kenapa gue boleh ikut?”

“Karena lo maksa.”

“Gue gak maksa.”

 Ataya mengembuskan napasnya kasar. “Shit.”

Raha yang mendegar umpatan Ataya hanya menyunginggkan senyumnya puas mengerjai Ataya. Ia berdeham untuk menetralkan suaranya. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka makan dalam diam, tak ada yang memulai berbicara.

Lima belas menit kemudian mereka seleai makan. Raha mencuci tangannya di mangkok yang berisi air begitu juga dengan Ataya. Raha berdiri lalu menghampiri Mang Pecel Lele.

“Yuk, pulang,” ajak Raha ketika ia kembali ke hadapan Ataya yang sedang membenarkan jaketnya.

“Bentar, gue mau bayar dulu,” kata Ataya seraya berdiri.

“Udah gue bayar tadi.”

“Loh? Ya udah gue ganti aja, nih.” Ataya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu ke hadapan Raha.

“Udah, gak apa-apa. Ikhlas kok gue,” ucap Raha.

“Beneran? Kalau gitu nanti kapan-kapan gue yang bayarin. Gue gak suka punya hutang.” Ataya menyimpan kembali uang itu di saku jaketnya.

“Yuk, udah jam sembilan nih, takut Ibu lo nanti nyariin,” kata Raha.

Mereka berdua menaiki motor, lalu Raha melajukannya dengan kecepatan sedang. Ataya yang sepertinya kekenyangan, ia terus menutup buka matanya. Ia berusaha menahan kantuk yang melandanya.

“Ataya?” panggil Raha ketika ia merasakan ada beban di bahunya. Ataya tak menanggapi. Raha melirik sebentar ke bahunya, ia menemukan kepala Ataya yang bersandar ke bahu sebelah kanannya.

Sebelah tangan Raha mengambil tangan Ataya satu persatu, ia melilitkan tangan Ataya ke tubuhnya seperti Ataya sedang memeluk dirinya, lalu ia tetap mengenggam tangan Ataya yang berada di perutnya agar ia tidak jatuh ke belakang.

Jalanan cukup lengang, Raha melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia sesekali melirik ke bahunya, takut kalau kepala Ataya jatuh dari bahunya. Ataya bergumam tidak jelas dan mengeratkan pelukannya di perut Raha ketika lampu merah akan berganti menjadi lampu hijau.

Raha memarkirkan motornya di halaman depan rumah Ataya, lalu mencoba membangunkan Ataya dengan menepuk-nepuk pipinya, “Ataya, bangun.”

Ataya hanya bergumam pelan, justru ia semakin menyerukkan kepalanya ke leher Raha dengan nyaman. Melihat tingkah Ataya, Raha berdecak lalu ia berinisiatif utuk mencubit tangan Ataya.

Ataya bangun dari tidurnya mengaduh kesakitan, dengan jiwa yang belum terkumpul sempurna ia melepaskan pelukannya lalu turun dari motor.

“Ataya?” panggil Raha ketika Ataya sedang mengucek-ngucek matanya.

“Hm.”

“Lo udah bangun, ‘kan?”

Ataya menyipitkan matanya melihat Raha di depannya. “Ya.”

Raha mengangguk. “Kalau gitu gue pulang ya.”

“Tunggu,” tahan Ataya. Raha menaikkan sebelah alisnya.

“Kenapa gue bisa meluk lo?” tanya Ataya ketika kesadaran sudah kembali dengan sempurna.

“Gue yang bikin lo meluk gue, kalau nggak, mungkin lo bakalan jatuh nanti,” jelas Raha. “Sori ya. gue gak minta izin dulu sama lo.”

“Memangnya gue pulas banget ya?”

Raha mengangguk. “Ya.”

“Kalau gitu makasih ya, Raha.”

“Ini pertama kalinya lo panggil nama gue—ya udah gue pulang ya,” ucap Raha sambil tersenyum yang segera diangguki oleh Ataya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status