LOGINSetelah kepergian Raha, Ataya segera masuk ke kamarnya. Ia memegang dadanya yang sejak tadi, ketika ia tahu bahwa ia tidur di bahunya Raha dan memeluknya, terus berdetak dengan cepat. Ia tak habis pikir, kenapa ia bisa tidur saat berada di jalan?
Ataya membuka lemari dan mengambil baju tidur, ia segera mengganti bajunya dan lekas naik ke tempat tidur. Ia terus saja memikirkan, bagaimana jika ia bicara yang tidak-tidak ketika ia tidur tadi? Masih mending tadi ia bisa berlaga tidak terjadi apa-apa, padahal perutnya sudah mulas tidak karuan, betapa malunya ia.
Ataya memeriksa kembali detak jantungnya. Normal. Ia yakin tadi hanya perasaan malu saja yang membuat detaknya jadi lebih cepat. Ataya mematikan lampu yang berada di atas nakas, ia menyelimuti dirinya lalu tertidur dengan pulas tanpa perasaan gelisah atau khawatir. Ia tertidur dengan perasaan bahagia.
Keesokan harinya, Ataya bangun dengan perasaan lega. Setelah menyingkap selimutnya, seperti rutinitas hariannya, ia akan segera membereskan kamar tidurnya, menyapu seluruh rumah, mencuci piring, lalu bergegas mandi untuk melunturkan semua keringatnya.
Hari ini, ibu tidak pergi bekerja karena sekarang Hari Minggu dan ibu libur dari pekerjaannya. Ataya melirik sebentar melihat ibunya sedang memasak ketika ia keluar dari kamar mandi.
Ketika Ataya berjalan melewati dapur, ibunya memanggil, “Sarapan, Dek, sekalian juga panggil Aa.”
“Iya.” Ataya berjalan keluar untuk menjemur handuknya, lalu kembali ke dalam untuk memanggil Arki.
“A....” panggil Ataya seraya mengetuk pintu kamar Arki.
Pintu terbuka dan Arki muncul dari balik pintu. “Iya?”
“Kata Ibu sarapan,” ucap Ataya.
“Oke, nanti Aa nyusul.”
Ataya berlalu ke ruang makan, ia menarik kursi lalu mendudukinya. Ia melihat ibunya yang sedang memasukkan nasi goreng ke dalam sangku dan meletakkanya di meja makan. Ataya segera menyinduk nasi goreng itu ke dalam piringnya. Pada saat itu, Arki datang dan langsung duduk di hadapan Ataya ketika Ataya menyuapkan nasi gorengnya.
“Bukannya tungguin,” kata Arki.
“Lama. Udah lapar daritadi.” Ataya menyuapkan kembali nasi gorengnya.
Ibunya duduk ketika ia sudah selesai mencuci wajan. “Udah, cepetan habisin sarapannya.”
Ataya memeletkan lidahnya, mengejek Arki. Sedangkan yang diejek, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sarapan dalam diam, hanya ada suara sendok dan garpu yang berdenting.
Ibu memecah keheningan dengan berbicara, “Dek, nanti antar Ibu beli belanja bulanan ya.”
Ataya mengangguk. “Jam berapa?”
“Jam sepuluh.”
“Oke.”
“Nanti kesananya pakai motor aja, biar cepat,” kata ibu. Ataya hanya mengangguk sambil memakan nasi gorengnya.
“Kuncinya ada di dalam lemari ruang tamu, Dek. Nanti kamu ambil aja,” ucap Arki menambahkan. Ataya hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
Setelah Ataya selesai makan, ia pergi ke kamar untuk siap-siap, sedangkan ibu dan Arki, mereka masih memakan sarapannya. Ataya mengganti baju tidurnya dengan baju yang sering ia gunakan yaitu kaus lengan pendek dipadu dengan cardigan lengan panjang dan celana jeans berwarna biru pudar.
Selesai bersiap-siap, Ataya keluar kamar dan mendapati ibunya yang sedang duduk di sofa ruang TV. Ia menghampiri ibunya. “Ayo, Bu.”
Ibu menatap Ataya dari atas sampai bawah lalu berdiri.
Ataya berjalan terlebih dahulu disusul dengan ibu. Ia mengambil kunci motor yang diletakkan di lemari lalu bergegas ke garasi Ataya menaiki motornya setelah ia memakai helm, lalu ia menghidupkan motor dan melajukannya sampai tiba di pekarangan rumah dimana ibu sudah menunggunya.
Ibu memakai helm yang diberikan oleh Ataya lalu menaiki motor. Ataya mulai melajukan motornya ketika ibu sudah duduk dengan nyaman. Ataya mengarahkan motornya menuju Yogya Grand Majalengka, biasanya ibu selalu belanja bulanan disana.
“Dek, nanti lihat-lihat baju dulu ya,” ucap ibu ketika mereka masuk parkiran.
“Oke.”
Mereka masuk ke dalam dan langsung naik ke lantai atas untuk melihat-lihat baju. Ataya jalan membuntuti ibunya yang sedang memilah-milah baju. Ia hanya melihat-lihat ke sekelilingnya.
“Kamu mau beli baju, Dek?” tanya ibu yang sedang memegang baju yang sedang dipilahnya.
“Boleh.” Ataya berjalan melihat-lihat baju dengan pandangan tak menarik. Ia terus memilah-milah sampai ia menemukan baju yang menarik perhatiannya.
Ibunya berjalan menuju Ataya dan melihat baju yang sedang dipegang oleh Ataya. Ia memicingkan matanya. Sebuah baju oversize berwarna biru bertuliskan lit dengan typography yang unik. Ibu memicingkan matanya lalu berbicara, “Kamu gak bosen?”
“Kenapa?”
“Ibu aja bosen lihatnya. Coba ganti yang lain aja.”
Ataya menghela napasnya pelan lalu mengembalikkan baju tersebut ke tempat semula. Ibu memang cukup strict tentang penampilan, ia cukup modis dan sangat memperhatikan fashion. Seringkali Ataya mendapat kritikan pedas tentang penampilannya yang memang hanya menggunakan kaus saja untuk sehari-hari.
“Kamu ini, coba lebih perhatiin penampilan kamu, Dek. Ibu udah sering nasehatin kamu tentang penampilan biar lebih menarik.” Ibu sibuk memilih baju untuk Ataya. “Cobain baju ini.”
Ataya menurut dengan perkataan ibunya dengan mencoba pakaian yang disodorkan oleh ibunya. Lagi-lagi ia menghela napas. Ibunya kembali mengambil baju itu ketika Ataya selesai mencobanya kemudian sibuk mencari lagi.
“Coba kamu cari referensi dari internet, deh, biar selera kamu gak gitu-gitu aja.”
“Iya.” Ataya memalingkan wajahnya.
Ibu masih memilah-milah baju sedangkan Ataya hanya menatap tak berminat lagi. Sekitar lima belas menit kemudian ibu sudah memegang sebuah baju untuk dibawa ke kasir dan membawanya pulang.
Kini mereka sudah berada di lantai satu setelah membayar baju yang dibeli tadi. Ibu memasukkan bahan-bahan yang diperlukan untuk satu bulan penuh seperti; minyak, gula, beras, kecap, sabun, pasta gigi, dan yang lainnya. Ataya memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam keranjang lalu menyusul ibunya yang sedang memilih nugget.
“Udah, Bu?” tanya Ataya ketika ia berada di samping ibunya.
“Udah, yuk,” ajak ibu sambil memasukkan nugget ke dalam keranjang.
Mereka berjalan ke arah kasir menunggu antrean yang sedikit panjang. Hingga sepuluh menit kemudian, ibu sudah berada di depan kasir dan segera membayarnya. Ataya segera mengambil barang belanjaannya ketika ibu sudah selesai membayar. Mereka berjalan ke luar gedung menuju parkiran. Ataya menyimpan belanjaannya di depan, disusul dengan Ataya dan ibunya yang menaiki motor.
Tak ada yang bersuara ketika mereka berada di jalan pulang. Ataya fokus mengendarai motornya sedangkan ibu hanya diam saja tidak banyak berbicara.
“Dek, nanti belanjaannya simpan di meja makan aja ya,” perintah ibu ketika mereka sudah sampai di rumah. Ataya segera membawa belanjaan itu ke dalam dan meletakkannya di meja sesuai perintah ibu.
“Ataya ke kamar ya, Bu,” ucap Ataya ketika ia sudah menyimpan belanjaan tadi.
Ibu mengangguk. Ia sedang duduk di ruang TV lalu menyalakan TV. Ataya masuk ke dalam kamar lalu duduk di ranjang untuk sejenak.
Ataya mengambil buku yang bertuliskan namanya di laci lalu menuliskan sesuatu disana. Itulah kenapa aku males buat beli baju, tulisnya.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua