LOGINAtaya duduk di depan laptopnya, ia sedang melihat-lihat referensi model-model baju di internet. Seperti yang dikatakan oleh ibunya tadi, bahwa seharusnya ia mencari berbagai macam referensi.
Sebenarnya, Ataya tidak terlalu peduli dengan penampilannya yang menarik ataupun tidak, tapi rasanya ia selalu iri melihat orang lain yang berpenampilan menarik dibandingkan dengan dirinya. Ia terus mencari-cari berbagai style ada; korean style, vintage style, street style dan berbagai macam style lainnya.
Handphone Ataya berdering menandakan ada panggilan masuk, ia mengangkat teleponnya lalu berbicara, “Halo.”
“Lagi ngapain lo, Ay?” tanya seseorang di seberang sana.
“Gak lagi ngapa-ngapain,” jawab Ataya.
“Oh, kirain lo lagi main.”
“Nggak. Lan gue... mau nanya.” Ataya beralih menuju kasur.
“Nanya apa?”
“Menurut lo, gue lebih cocok pake style kayak gimana?”
“Kenapa?”
“Gak kenapa-napa. Just answer it, Lan.”
“Sebenernya, yang paling penting itu, lo nya nyaman gak pakai style itu, karena inti dari penampilan menurut gue yaitu seberapa nyaman dan PD lo pas lagi pakai baju itu. Ya kalau menurut gue, lo lebih cocok pake street style sih, lo kan gemes-gemes jutek gitu orangnya.” Lani tertawa sebentar lalu melanjutkan, “Tapi, selera orang kan beda-beda ya, semuanya balik lagi ke diri lo.”
“Oh, oke.”
“Kenapa, Ay?” tanya Lani sekali lagi.
“Gak, cuma gue kadang ngelihat orang lain kayak mereka bisa nentuin fashion yang mereka mau, sedangkan gue gini-gini aja.”
“Penampilan lo juga oke-oke aja kok menurut gue.”
“Thank’s, Lan—gue tutup dulu ya teleponnya.” Ataya menutup panggilan lalu meletakkan handphone-nya di sebelahnya.
Kadang jika seperti ini, ketika ibunya mengomentari bajunya, ia selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ia selalu berpikir bahwa dirinya jelek dan tidak menarik dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tapi, dalam situasi yang berbeda ia juga berpikir kenapa harus melihat penampilan dan tampang yang cantik padahal attitude yang baik lebih penting dari itu.
Ataya mengembuskan napasnya kasar, ia berjalan menuju jendela dan membukanya. Ataya berdiri di samping jendela, kepalanya ia senderkan ke kusen dan tangannya ia sedekapkan. Ia termenung memikirkan semua kata-kata ibu dan Lani tadi.
“Gue memang biasa aja,” gumam Ataya.
“Gue gak cantik kaya langit malam yang bersinar oleh bintang dan bulan.”
“Gue gak seterang Venus yang bahkan selalu disebut dengan bintang kejora.”
“... gue kayaknya lebih mirip Pluto.”
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan disertai dengan angin yang lumayan kencang. Majalengka memang seringkali disebut sebagai Kota Angin karena anginnya yang lumayan kencang. Ataya segera menutup jendelanya sebelum air hujan masuk ke kamarnya. Setelah menutup jendela, Ataya memutuskan untuk menonton TV, ia pun keluar dari kamar dan menemukan Arki yang juga sedang menonton TV. Ataya bergabung dengan Arki dengan duduk di karpet di bawah sofa.
“Tadi malem kemana?” tanya Arki.
Ataya menoleh. “Ke Panyaweuyan.”
“Kok bisa bareng Raha? Janjian, ya?”
“Nggak, cuma kebetulan janjian aja.” Ataya mengambil remote di sebelah Arki lalu memindahkan channel-nya.
“Janji mana ada yang kebetulan,” ujar Raha sambil melempar bantal ke arah Ataya. Ataya hanya menyengir menampilkan gigi-giginya.
“Gak usah nyengir-nyengir gitu,” ejek Raha. “Kamu suka, ya?”
“Kata siapa?”
“Kata Aa lah.”
“Mana mungkin aku suka sama dia.”
“Beneran?” tanya Raha sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat tingkah Arki, Ataya melempar kembali bantal yang ada di pangkuannya ke wajah Arki. “Malesin banget.”
Arki tertawa terbahak-bahak lalu berdeham untuk menormalkan suaranya. “Kamu ikut gak, Dek?”
“Kemana?”
“Muncak.”
“Kapan?”
“Kapan-kapan.” Arki kembail tertawa, sedangkan Ataya hanya berdesis mendengar jawaban Arki.
“Nanti, sekitar empat harian lagi. Mau gak?”
Ataya berpikir sejenak. “Mau. Nanti kalau disana aku capek, Aa yang bawa carrier aku, ya.”
“Enak aja., gak mau. Bawa aja sendiri.”
“Gak asyik. Harusnya sebagai kakak yang baik, Aa harus bantuin Adeknya dong.”
“Aa udah baik.” Arki memeletkan lidahnya mengejek.
“Baik darimana.”
“Dari Hongkong,” lanjut Arki.
Mereka berdua lanjut melihat TV yang menayangkan program variety show gosip yang sangat disukai oleh ibu-ibu.
“Aa suka nonton ini, ya?” tanya Ataya.
“Iya. kenapa? Gak boleh?” ucap Arki songong.
“Boleh kok, cuma nanya doang.”
“Lagian, gak ada masalah kok kalau cowok suka acara kayak gini,” ujar Arki.
Ataya mengangguh paham. “Iya—A mau nonton film gak?”
“Film apa?”
“Searching.”
“Kayak gimana tuh?” tanya Arki penasaran.
“Aku juga belum nonton sih, makanya ngajak Aa buat nonton bareng, tapi kalau dari sinopsisnya, ada perempuan yang namanya Margot, dia lagi nikmatin masa-masa mudanya. Tiba-tiba dia menghilang. Ayahnya panik terus ngelaporin peristiwa hilangnya putrinya ke polisi. Tapi dalam tiga puluh tujuh hari Margot belum ditemukan, jadi ayahnya punya rencana untuk nemuin putrinya. Dia neleponin temen-temen Margot dan mencari petunjuk dari rekaman percakapan yang disimpan di laptop putrinya dan merangkai petunjuk di setiap kejadian.”
“Kayaknya seru deh.”
“Ya udah, aku ambil laptop di kamar dulu ya.” Ataya bergegas mengambil laptopnya lalu berjalan kembali ke ruang TV.
“Ataya membuka file film nya lalu ia berkata, “Kalau aku kayak gitu gimana, A?”
Arli menaikkan sebelah alisnya. “Kayak gitu gimana?”
“Kayak Margot.”
“Pertanyaannya, kamu menghilang karena pengin kabur atau tiba-tiba ada yang nyulik?”
“Aa tahu ‘kan jawaban aku bakal kayak gimana.” Ataya tersenyum miring.
“Hm. Makanya Aa selalu ngingetin kamu supaya gak bertindak gegabah—kayak dulu.” Arki pindah duduknya menjadi di samping Ataya. “Aa sayang sama kamu, jadi jangan pernah pergi dari sisi Aa.”
Film sudah dimulai, Arki mengalihkan pandangannya. “Udah mulai tuh.”
Ataya ikut mengalihkan pandangannya. Mereka kemudian tidak membahas lagi pembicaraan tadi, mereka fokus menonton film yang ada di layar laptop. Sudah menjadi kebiasaan ketika mereka sedang menonton film atau apapun itu pasti tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka seperti larut dalam cerita yang ada di film itu.
“Lagi nonton apa?” tanya ibu yang ikut bergabung dengan mereka dan duduk di samping Ataya yang masih kosong.
“Film barat. Ibu mau ikutan nonton?” Arki melirik ibunya sebentar.
“Nggak, ibu cuma mau nyuruh, nanti kalau hujannya udah reda jangan lupa pel teras depan.”
“Oh, iya, nanti Aa yang ngepel,” ucap Ataya sekenanya.
“Apaan kok Aa?” seru Arki.
“Kan gantian, tadi pagi aku udah ngepel, nah sekarang Aa yang ngepel,” ucap Ataya sambil melirik sebentar kemudian fokus lagi.
Arki mengembuskan napasnya. “Ya udah, nanti biar Arki yang ngepel, Bu.”
“Iya. Ya udah ibu ke belakang dulu mau masak buat nanti makan malam,” ucap ibu sambil berdiri lalu pergi ke dapur meninggalkan Ataya dan Arki yang lanjut menonton film.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua