LOGINSekitar pukul sembilan, Ataya sudah beres dengan pekerjaan rumahnya. Sekarang ia sedang menyirami tanaman yang berada di pinggir rumah. Ataya menutup setengah selangnya agar air yang keluar dapat keluar lebih jauh jaraknya. Ia baru tahu pada saat Sekolah Menengah Pertama kalau yang dilakukannya sekarang ini adalah pengaplikasian dari Fisika. Sejak saat itu, ia mulai sedikit menyukai Fisika.
Ataya bersenandung pelan, menyanyikan lagu Manuk Dadali yang sering ia dengarkan ketika Sekolah Dasar. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya kecil sembari menikmati angin yang masih segar. Beberapa menit kemudian, Ataya berjalan untuk mematikan keran dan menggulung kembali selangnya lalu diletakkan di pinggir agar tidak menghalangi. Kemudian ia mengambil anduknya yang berada di jemuran dan masuk ke dalam rumah.
“Udah beres nyiramnya, Dek?” tanya Arki ketika Ataya keluar dari kamar sambil membawa baju.
“Udah. Aa mau kemana?”
“Ke depan, nungguin temen.”
“Oh, oke, kalau gitu aku mandi dulu.”
“Iya,” jawab Arki. Ataya pergi ke kamar mandi, sedangkan Arki berjalan ke depan dan duduk di kursi teras rumah.
Butuh sekitar tiga puluh menit Ataya mandi sampai ia benar-benar selesai dan keluar dari kamar mandi. Ataya mendengar sayup-sayup suara Arki dengan temannya ketika ia akan masuk kamar. Ataya mengedikkan bahunya tidak peduli, ia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
Ataya menatap cermin yang memantulkan dirinya sambil mengeringkan rambutnya dengan anduk. Penampilannya sedikit berbeda hari ini, ia memakai baju yang dibelikan oleh ibunya kemarin. Menatap sekali lagi, lalu ia keluar dari kamar untuk menjemur anduknya. Ataya keluar tanpa memedulika Arki dan temannya, ia hanya lewat dan segera menjemur anduk.
“Dek,” panggil Arki.
Ataya menoleh dan sedikit terkejut melihat Raha ada disana. “Iya?”
“Aa mau beli kopi sama gula dulu ke warung, kamu bisa nemenin Raha disini?”
“Memangnya kemarin Ibu gak beli?”
“Kayaknya lupa deh. Ya udah, kamu sini duduk.” Arki berdiri lalu berjalan ke arah motor dan langsung melajukannya.
Ataya berjalan enggan menghampiri Raha dan duduk di kursi. Ia hanya menatap lurus ke depan tanpa membuka obrolan sedikitpun.
“Ataya,” panggil Raha.
“Hmm.”
“Gue udah nyari tahu arti dari lagu kemarin,” ujar Raha memberi tahu.
“Kenapa lo nyari tahu?”
“Penasaran aja.”
“Oh.”
“Dan lagu itu untuk siapa?”
“Hm?” Ada jeda sebelum Ataya melanjutkan, “untuk seseorang yang gue benci.”
“Siapa?” rasa ingin tahu Raha sangat besar, makanya ia langsung mencari tahu arti dari lagu itu pada saat ia pulang setelah mengantar Ataya.
“Waktu itu, lo pernah nanya kan kenapa gue sua Astronomi?” Ataya mengalihkan pembicaraan.
“Ya.” Raha tahu bahwa Ataya sedang mengalihkan pembicaraan.
Ataya melirik sekilas lalu menatap kembali ke depan. “Karena, mereka selalu ada buat gue ketika malam hari.”
“Mereka?” tanya Raha tak mengerti.
“Bintang, Bulan, dan Planet.”
“Oh.”
“Karena gue terlalu kecil untuk bersanding dengan mereka,” lanjut Ataya.
Raha mengangguk, berusaha untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Ataya menatap Raha. “Lo lebih milih Venus atau Pluto?”
“Tergantung,” jawab Raha.
Ataya tersenyum getir. “Gue pengin kayak Venus, tapi gak bisa.” Ada jeda sebentar. “... gue lebih mirip Pluto.”
“Kenapa?”
“Venus, karena gue pengin seterang dia, seunik dia, dan dia selalu ada pada saat matahari akan terbit dan terbenam. Walaupun Venus sangat panas, tapi ia masih tetap bertahan dengan terus bersinar, tentu aja dibantu sama matahari karena Venus bukan bintang yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Planet kedua yang sering disebut kembaran Bumi, padahal ia sama sekali gak layak huni,” jelas Ataya.
“Venus, sang dewi cinta—kenapa Pluto?”
“Pluto adalah planet kerdil yang bahkan sekarang ia dikeluarkan dari sistem tata surya karena gak memenuhi standar sebuah planet. Ia dingin. Sendirian. Dan dikucilkan karena dia berbeda.”
“Tapi, walaupun begitu dia tetap baik-baik aja.”
Ataya menaikkan sebelah alisnya. “Siapa yang tahu? Semuanya hanya terlihat di permukaannya aja. Gak ada yang tahu, gimana perasaan Pluto.”
“134340, itu kode untuk Pluto. Unik ‘kan? Dia sekarang jadi planet katai di sabuk Kuiper.” Raha menatap langsung mata Ataya. “Pada akhirnya, kita hanya perlu mensyukuri apa pun yang kita miliki hari ini. Seperti Pluto, ia mensyukuri dirinya tidak lagi menjadi bagian dari sistem tata surya, karena di tempat dirinya sekarang ini, ia lebih bahagia, tenang, dan gak sendirian, lagi.”
Handphone Ataya berbunyi, ia mengalihkan tatapannya dari Raha. “Gue angkat telepon bentar.”
“Halo.” Ataya berjalan sedikit menjauh dari tempat duduknya.
“Rumah lo dimana?” suara seorang laki-laki terdengar.
“Lo mau ngapain?” tanya Ataya heran.
“Gue mau main ke Majalengka.”
“Kapan lo berangkat darisana, Gas?”
“Ini lagi di jalan,” jawab Bagas yang suaranya sedikit samar karena suara bising dari mobil.
Ataya melihat Arki sudah datang dan menghampiri Raha lalu duduk di kursi yang tadi diduduki olehnya. Ataya kembali berbicara, “Nanti gue share loc aja, kabarin gue kalau lo udah sampe—lo udah dapet tempat tinggal selama disini?”
“Oke. Belum.”
“Ya udah, nanti lo kesini dulu terus kita cari bareng-bareng,” kata Ataya.
“Thank’s, Ataya. Gue tutup ya.”
“Hmm.”
Ataya memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku celana dan menghampiri Arki dan Raha.
“Telepon dari siapa, Dek?” tanya Raha ketika Ataya mendekat.
“Dari temen. Aku masuk ya, A,” ucap Ataya. Arki mengangguk membiarkan Ataya masuk ke dalam rumah.
“Gue bikin kopi bentar ya,” ucap Arki. Ia meninggalkan Raha yang duduk termenung disana.
Lima menit kemudian Arki kembali dengan membawa dua gelas kopi di tangannya, ia meletakkannya di meja. “Minum, Ha.”
“Iya.” Raha mengambil kopinya dan meminumnya sedikit demi sedikit.
“Btw, katanya Ataya mau ikut muncak,” kata Arki sambil menyimpan kopinya di meja. “Sama temennya juga.”
“Oke, berarti nambah dua orang ya.” Raha mengangguk-anggukan kepalanya.
“Iya. Lo pulang kapan, Ha?”
“Habis muncak gue pulang, kasihan Ibu sendirian disana.”
“Habis muncak banget?”
“Ya paling satu hari setelah muncak.”
“Anak baik banget.” Arki terkikik pelan sambil mengangkat gelasnya.
“Gue memang anak baik, maaf ya,” balas Raha yang juga sama-sama tertawa.
“Eh, Ega katanya mau nyusul kesini,” ingat Arki ketika Ega belum datang juga.
“Gak tahu, mungkin ada urusan lain dulu kali,” jawab Raha lalu menyesap kopinya.
“Oh, oke. Tadi, lo ngobrol apa aja sama Ataya?”
“Ngobrol biasa aja, planet-planet gitu.”
“Gue kirain apa.” Arki mengedikkan bahunya.
“Apaan?”
“Gak.” Arki menyengir.
Mereka berdua menghabiskan waktu dengan mengobrol dari hal yang ringan sampai yang berat selagi menunggu Ega datang. Diselingi dengan minum kopi dan camilan yang diambil oleh Arki dari ruang tamu.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua