Share

BAB 15

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:45:54

Ataya tertidur pulas di atas kasurnya. Dering handphone membangunkannya dari mimpinya. Ia mengerang lalu bangun dan mengambil handphone-nya yang berada di meja belajar.

“Ataya, gue udah di jalan mau ke rumah lo,” kata Bagas. Suaranya beradu dengan angin.

“Oke, nanti gue nunggu depan rumah,” ucap Ataya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Baru bangun tidur, lo”

“Iya, ketiduran tadi.”

“Ya udah, gue tutup dulu.”

“Iya.” Ataya bangkit dari duduknya lalu keluar kamar berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.

Setelah selesai mencuci mukanya, Ataya berjalan ke depan rumah. Ketika ia mencapai pintu, ia melihat masih ada Arki dan teman-temannya disana. Ataya melihat jam dinding di ruang tamu. Jam empat. Dan mereka masih betah disana dari pagi. Ataya menggeleng-gelengkan kepalanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu di ruang tamu saja.

Selagi menunggu, Ataya membuka beberapa media sosialnya. Ia hanya melihat-lihat sekilas lalu menutup kembali aplikasi itu dan membuka aplikasi yang lain, begitu seterusnya sampai Arki menghampirinya dan berkata, “Dek, ada temen kamu.”

“Oh, oke.” ataya berdiri dan segera keluar mengahampiri temannya.

Tak ada pelukan ketika mereka bertemu kembali, tak ada sapaan seorang teman. Ataya langsung bertanya, “Kenapa mendadak banget?”

“Gak mau mempersilahkan gue masuk dulu gitu sebagai tamu?”

Ataya mengembuskan napasnya kasar. “Yuk, masuk.”

Bagas melirik ke arah Arki dan teman-temannya dan Ataya mengerti lirikan itu. Ataya berjalan di depan dan Bagas mengikuti di belakang. Ataya memperkenalkan Arki dan teman-temannya kepada Bagas.

“Kenalin ini Arki, kakak gue,” ucap Ataya memperkenalkan Bagas dengan Arki.

“Arki.” Arki tersenyum yang juga dibalas oleh Bagas.

“Itu Raha, temennya kakak gue.” Ataya menunjuk Raha. “Dan itu Ega, temennya kakak gue juga.” Ataya beralih menunjuk Ega.

“Saya Bagas, temennya Ataya,” ucap Bagas memperkenalkan diri kepada mereka semua.

“Santai aja ngomongnya, gak usah formal gitu,” kata Arki sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

“Oke,” jawab Bagas sambil tersenyum.

“Kalau gitu kita ke dalam dulu ya. kasihan teman aku belum dikasih minum daritadi,” ucap Ataya.

Arki terkekeh pelan. “Ya udah sana, kayaknya dia kehausan.”

Bagas hanya tersenyum kecil, lalu mengikuti Ataya masuk ke dalam. Ia melepaskan ranselnya dan duduk di sofa ruang tamu. Tasnya ia simpan di samping dirinya. Bagas menatap ke sekitar, ia melihat satu foto yang diletakkan di lemari. Disana ada Ataya, Arki dan seorang wanita yang sudah memasuki usia lanjut tapi masih tetap terlihat cantik. Mungkin itu ibu mereka, pikir Bagas.

“Mau minum apa, Gas?” tanya Ataya.

“Apa aja,” jawab Bagas.

“Oke, gue ke belakang dulu ya. Lo istirahat deh, sebelum kita cari penginapan.” Ataya meninggalkan Bagas seorang diri di ruang tamu.

Bagas menyenderkan tubuhnya, ia menutup matanya lelah. Memakan waktu sekitar enam jam jika menggunakan kendaraan umun untuk sampai di Majalengka. Sebenarnya, ia tidak merencanakan bahwa ia akan liburan disini.

Ataya kembali dengan membawa nampan yang berisi es teh manis dan meletakkannya di meja, lalu ia duduk di sofa. “Berapa hari lo disini?”

Bagas meminum minuman yang disuguhkan oleh Ataya. “ Besok juga balik.”

“Cepet banget.”

“Kenapa? Masih kangen ya?” tebak Bagas sambil tertawa.

“Gak mungkin gue kangen sama lo.”

“Mungkin aja kan. Selalu ada kemungkinan di dunia ini.”

“Iya deh iya.” Ataya mengalah. “Pantesan aja lo cuma bawa ransel kayak gitu.”

Bagas hanya menyengir dan kembali meminum es teh manisnya,

“Lo mau langsung nyari atau nunggu sebentar lagi?” tanya Ataya setelah keheningan melanda mereka.

“Sekarang aja deh. Ga enak, udah sore juga.”

“Ya udah, yuk,” ajak Ataya. Bagas menggendong kembali tasnya dan mengikuti Ataya keluar.

“A, pinjem motornya bentar, boleh gak?” izin Ataya menginterupsi pembicaraan Arki dan teman-temannya.

“Mau kemana?” tanya Arki.

“Nyari penginapan buat Bagas,” jawab Ataya.

“Nih.” Arki menyodorkan kunci motor kepada Ataya yang langsung diterima oleh Ataya.

“Pergi dulu ya,” pamit Ataya sambil berjalan. Ia memberikan kunci motornya kepada Bagas. “Lo yang bawa ya.”

Bagas menerimanya. Ia menaiki motor dan disusul oleh Ataya lalu mereka pergi meninggalkan rumah.

“Lo tahu penginapan sekitar sini?” tanya Bagas ketika mereka berada di jalan.

“Tahu, nanti pas ada lampu merah pertama, jalan lurus aja terus, nanti ada plang namanya Adara House di sebelah kiri,” jelas Ataya.

“Oke.”

“Lagian, lo kalau mau kesini tuh nyari dulu penginapannya mau dimana,” omel Ataya.

“Kan ada lo yang asli orang sini.”

“Apa hubungannya?”

“Gak ada sih.” Bagas terkekeh pelan.

Ataya berdecih mendengar jawaban Bagas. “Kok lo mendadak banget, bukannya kasih tahu dulu kalau mau kesini.”

“Iya, ada kerjaan mendadak, suruh bikin artikel,” ucap Bagas. Motor mereka berhenti karena lampu merah.

“Bikin artikel tentang apa?”

“Tentang wisata alam gitu. Tapi, daripada gue cuma liat-liat di internet aja buat nyari narasumber, mending kesini langsung ‘kan. Lagian, Bandung-Majalengka itu deket.” Bagas melajukan kembali motornya ketika lampu berubah menjadi hijau. “Lo ada rekomendasi gak?”

Ataya berpikir sejenak. “Ada. Gue juga belum pernah kesana sih, jadi sekalian nyobain juga.”

“Dimana?”

“Di Rajagaluh. Wisata arung jeram, namanya Cikadongdong River Tubing.”

“Oke. lo besok gak ada acara apa-apa ‘kan?”

“Gak ada.”

“Temenin gue ya.”

“Oke. Lo bangunnya jangan siang.”

“Gak bakal lah, kan besok mau main.”

“Soalnya lo susah bangun pagi. Ada kelas pagi aja lo hampir kesiangan, untung gue teleponin lo sampai beberapa kali.”

Bagas tertawa. “Iya, iya, kalau gitu besok pagi lo telepon gue ya. Gue juga heran, padahal alarm selalu gue nyalain, tapi tetep aja gak kedengeran.”

“Itu mah lo aja yang kebo.”

Di depan sana, Bagas melihat plang yang tadi disebutkan oleh Ataya. Mereka masuk ke gerbang penginapan itu lalu parkir di tempat yang disediakan. Ataya turun terlebih dulu disusul oleh Bagas. Mereka berjalan beriringan masuk ke pintu masuk dan menemukan seorang resepsionis di balik meja tinggi.

“Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu,” ucap resepsionis itu ramah.

“Saya mau reservasi satu kamar, mbak,” kata Bagas. Ataya berdiri di samping Bagas.

“Baik mas. Masnya mau bayar cash atau kartu?” tanya resepsionis.

“Kartu aja, Mbak.” Bagas mengeluarkan kartunya untuk bayar.

“Terimakasih,” ucap resepsionis. Ia mengambil kunci yang ada di berjejer di belakangnya lalu memberikannya kepada Bagas. “Ini, Mas.”

Bagas mengambil kunci itu lalu berbalik menghadap Ataya. “Lo pulang aja, udah malem. Maaf ya, gue gak bisa nganterin lo.”

“Santai kali, kalau gitu gue balik ya.” Ataya berjalan keluar penginapan itu lalu menuju parkiran.

Bagas berdiri di depan pintu masuk lalu melambaikan tangannya ketika Ataya mulai melajukan motornya dan meninggalkan tempat ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status