LOGINAtaya menekan tombol panggil di handphone-nya. Ia menunggu sampai pada deringan ketiga panggilan itu diangkat oleh pemiliknya.
“Halo.”
“Tumben lo udah bangun,” ucap Ataya.
“Iya lah, hari ini kan mau main,” jawab Bagas di seberang sana.
“Kalau main semangat ya lo.”
Bagas tertawa mendengar ucapan Ataya.
“Btw, Kakak gue sama temen-temennya mau ikut juga, gak apa-apa?”
“Ya gak apa-apa, biar seru juga kalau banyakan.”
“Oke. kalau gitu gue siap-siap dulu ya. nanti gue kesana jemput lo.”
“Oke.”
Ataya mematikan panggilan itu dan segera bersiap-siap. Ia melihat jam tangannya. Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Setelah selesai bersiap-siap, Ataya keluar dari kamarnya dan menemukan Arki dan Raha yang sedang duduk di ruang tamu.
“Kok cuma berdua?” tanya Ataya heran.
“Iya, Ega gak bisa ikut karena harus nganter Ibunya,” jawab Arki. “Ya udah, yuk.”
“Tapi aku mau jemput Bagas dulu, dia kan gak ada motor,” kata Ataya.
“Bareng aja, biar gak bolak-balik. Aa bawa motor yang Ega kok, nanti Raha dibonceng sama Aa,” jelas Arki.
“Oh oke. Kuncinya, A.”
Arki memberikan kunci motor kepada Ataya, lalu mereka bertiga berjalan keluar. Ataya menaiki motornya begitu pun dengan Arki dan Raha. Mereka melajukan motornya dengan Ataya berada di depan.
Butuh waktu dua puluh lima menit untuk sampai ke penginapannya Bagas. Ataya dan yang lain memarkirkan motornya ketika mereka sudah sampai. Diluar, Bagas sudah menunggu, ia berjalan menghampiri mereka bertiga.
“Pagi,” sapa Bagas sambil tersenyum hangat.
“Pagi,” balas Arki dan Raha berbarengan, sedangkan Ataya, ia hanya diam saja.
“Yuk, berangkat.” Ataya memberikan kunci motor kepada Bagas yang langsung diterimanya.
Raha melirik sekilas ke arah Ataya dan Bagas yang ada di depannya ketika mereka berada di jalan. Raha mencoba mengalihkan pandangannya tapi tidak bisa. Ia terus menatap mereka sampai Ataya tak sengaja meliriknya ketika motor mereka bersampingan.
“Lo tahu jalannya gak?” tanya Arki sambil berteriak.
“Gak tahu,” jawab Bagas yang juga sama berteriaknya.
“Kalau gitu, gue di depan ya.”
“Oke.”
Arki menambah kecepatan motornya sehingga mereka berdua berada di depan Bagas dan Ataya. Pada saat itu, Raha bertanya kepada Arki, “Itu temennya Ataya, ya?”
“Iya, kayaknya. Kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa.”
Arki mengangguk-angguk, sedangkan Raha mencoba menikmati pemandangan pohon-pohon yang berada di sisi kanan-kiri jalan. Hari ini cuacanya sangat cerah. Rasa dingin mulai menyelimuti ketika mereka sedikit lagi tiba di tempat tujuan. Raha mengeratkan jaketnya. Ia kembali melihat ke belakang. Ataya dan Bagas ada di belakangnya.
“Lo udah pernah kesini?” tanya Raha.
“Udah, waktu itu sama anak-anak,” jawab Arki. Ia menambah kembali kecepatannya karena jalan yang menanjak.
“Oh,” ucap Raha sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Menatap sekeliling lagi, sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai, karena banyak orang-orang yang ada disana.
Sekitar lima menit kemudian, mereka akhirnya sampai di Cikadongdong River Tubing. Mereka turun dari motor lalu masuk membeli tiket sebesar tiga puluh lima ribu rupiah. Banyak orang yang datang kesini untuk mencoba wisatanya, padahal hari ini hari biasa.
Mereka memakai alat keselamatan seperti; pelampung, helm, pelindung kaki dan tangan yang telah diberikan kepada mereka oleh pemandu. Sebelum menyusuri sungai, mereka mendengar terlebih dahulu penjelasan dari pemandu tentang langkah keamanan serta keselamatan mereka, setelah itu mereka melakukan pemanasan yang harus dilakukan sebelum berangkat.
Setelah melakukan serangkaian kegiatan sebelum berangkat, akhirnya mereka mulai menaiki ban satu persatu Ataya duduk diapit oleh Bagas dan Raha, sedangkan Arki, ia duduk di samping Raha sekaligus Bagas. Mereka berpegangan erat ke tempat yang disediakan di samping mereka masing-masing.
“Pegangan yang erat, Ay,” ucap Bagas ketika mereka akan berangkat. Ataya mengangguk pelan.
Melihat interaksi Ataya dan Bagas, Raha hanya melirik sekilas lalu mengeratkan kembali pegangannya.
Mereka mulai berangkat. Ataya menipiskan bibirnya untuk menghalau rasa takutnya. Adrenalin yang berpacu diantara mereka membuat mereka kian bahagia. Setelah menyesuaikan dengan keadaan, Ataya mulai menikmati perjalanannya. Mereka tertawa bahagia melewati sungai sepanjang tiga ratus lima puluh meter itu dengan jalur yang dimulai dari landai hingga berkelok-kelok.
Suasana alam yang sangat menyejukkan mata, air yang jernih dan suara kicau burung yang melantun dengan merdu. Beberapa kali mereka menabrak batu tak menjadikannya takut, justru mereka tertawa terbahak-bahak menikmati setiap momen yang mereka lewati. Pemandu yang bertugas juga membantu para pengunjung ketika mengalami kesulitan, begitu juga dengan mereka yang ketika berada di bagian yang berkelok, mereka tersangkut.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai kembali. Mereka melucuti alat keselamatannya ketika berada di tempat alat keselamatan. Ataya mengambil anduk dan baju gantinya yang ia bawa, begitu juga dengan Arki, Raha, dan Bagas.
“Ganti baju duluan, ya,” ucap Ataya sambil menenteng anduk dan bajunya.
“Oke,” jawab Arki yang masih sibuk dengan rambutnya.
Satu persatu dari mereka mulai mengganti baju. Ataya yang pertama kali kembali ke tempat mereka tadi kumpul. Ia menyimpan anduk dan kresek yang berisi baju basahnya ke dalam tas. Ia menatap ke sekeliling memandangi hutan-hutan yang masih asri. Ia termenung di tempatnya sampai seseorang menepuk pundaknya yang membuat ia kaget dan langsung menoleh.
“Kenapa?” tanya Ataya.
“Nggak.” Raha berdiri di samping Ataya. “Lo seneng banget ya.”
Ataya menoleh lalu mengangguk. “Dia temen gue, jadi gue seneng.”
“Udah lama kenal?” Raha merutuki dirinya setelah bertanya seperti itu, sifat ingin tahunya muncul kembali.
“Dari kita masih mahasiswa baru. Satu kelompok dan sampai sekarang jadi temen baik.” Ataya memicingkan matanya. “Kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa.”
“Selalu ada alasan ketika seseorang menanyakan atau melakukan sesuatu,” ucap Ataya mengalihkan pandangannya.
“Ya, semua ada alasannya. Tapi, kadang manusia sulit untuk mendeteksi kenapa ia melakukan suatu hal. Contohya, sebuah perasaan yang tidak dapat ia mengerti.”
“Sebuah perasaan,” gumam Ataya sambil memandang lurus ke depan.
Arki dan Bagas berjalan berbarengan menghampiri mereka sambil menenteng baju dan anduknya masing-masing.
“Mau disini dulu atau langsung pulang?” tanya Arki ketika ia sudah memasukkan baju dan anduknya.
“Gue sama Ataya mau jalan-jalan dulu, kalian kalau mau pulang sekarang juga boleh,” ucap Bagas.
Arki melirik Ataya yang mengangguk mengiyakan. “Ya udah, gue sama Raha pulang duluan ya. Kalian hati-hati.”
Arki mengambil tasnya begitu juga dengan Raha. Ketika Raha tepat melewati Ataya, ia berbicara pelan, “Have fun, Ataya.”
Ataya hanya diam, tidak merespon apapun. Setelah kepergian Arki dan Raha, Bagas berbicara, “Ajak gue jalan-jalan ya, Ay.”
“Oke, Ya udah yuk.”
Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat tadi ke arah parkiran. Ataya menaiki motornya. Memulai harinya sebagai tour guide dadakannya Bagas.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua