LOGIN“Gue gak tahu mau kemana, Gas,” ucap Ataya polos.
“Terus dari tadi kita muter-muter itu apa?” tanya Bagas kesal.
“Ya udah sih, ini juga jalan-jalan kan namanya,” jawab Ataya acuh.
Bagas mendengus kesal. Sekarang ini mereka sedang berada di jalan yang entah mau kemana tujuan mereka. Ataya hanya sesekali memberi petunjuk jalan tanpa tahu mereka akan kemana.
“GGM aja, yuk,” ajak Ataya setelah cukup lama hening dan mereka masih terus melaju.
“Ayo.”
Ataya memberi tahu arah jalan untuk ke GGM kepada Bagas. Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya mereka sampai. Bagas dan Ataya turun dari motor, mereka berjalan ke arah tempat duduk yang sudah disediakan. Waktu tak terasa bergulir dengan cepat. GGM mulai dipadati oleh pengunjung karena hari sudah sore dan suasananya mendukung hanya untuk sekadar berdiam diri atau bermain.
Mereka duduk di kursi panjang menghadap ke jalan. Bagas memandang kendaraan yang berlalu lalang lalu berbicara, “Udah lama lo gak hubungin gue.”
“... gue sibuk.”
“Gak ada apa-apa kan?” tanya Bagas khawatir.
“Gue udah curiga kenapa lo mendadak main kesini. Kalau pun lo bikin artikel tentang wisata, Bandung lebih banyak tempat wisata yang jauh lebih bagus.”
“Gue... gue cuma khawatir sama lo, Ay.”
“Gue disini sama keluarga gue, Gas. Gak mungkin terjadi apa-apa sama gue.”
Bagas menunduk. “Ya, lo bener.”
Ataya menepuk bahunya Bagas. “Makasih udah jadi temen terbaik gue dan yang selalu ada buat gue.”
“Cuma temen aja?” Bagas menatap Ataya lalu tersenyum jahil.
“Mau lo apa?”
“Lebih, deh.”
“Gak boleh ya, Gas.”
“Kenapa?”
“Karena gue gak mau ngancurin pertemanan kita.”
“Good girl.”
“Gue memang anak baik.” Ataya memuji dirinya sendiri sembari memeletkan lidahnya ke arah Bagas yang ditanggapi dengan tertawa.
Bagas menatap ke sekeliling. “Disini ramai juga ya.”
“Iya, masyarakat disini kalau sore-sore kayak gini suka main disini. Ada yang sama keluarganya, temen-temennya, pacarnya, dan yang lainnya. Kalau anak-anak pasti seneng karena banyak jajanan juga terus suasananya mendukung banget, apalagi pas matahari terbenam.”
“Sayang banget gue disini cuma sebentar aja,” keluh Bagas.
“Lain kali lo liburan disini dua minggu kalau bisa.”
“Kapan-kapan, deh kalau sempat,” canda Bagas.
Ataya berdecih lalu memandang ke sekelilingnya. Matanya tertuju kepada sebuah keluarga yang sedang bermain dengan anak-anaknya. Mereka terlihat sangat bahagia seolah-olah kebahagiaan itu hanya datang untuk keluarga kecil mereka. Ataya tersenyum getir.
Bagas yang tidak sengaja melihat Ataya sedang memperhatikan sesuatu mengikuti arah pandang Ataya, lalu ia bertanya, “Lo gak apa-apa?”
Ataya mengalihkan pandangannya. “Udah berapa kali lo nanya itu ke gue?”
“Beribu-ribu kali kalau lo mau tahu. Gue aja susah ngitungnya.”
“Gue selalu baik-baik aja. Itu jawabannya.”
“Gue tahu. Lo selalu jawab kayak gitu.”
Mereka terdiam cukup lama, sampai tiba waktunya matahari mulai terbenam. Ataya dan Bagas menikmati semilir angin dan cahaya kemerah-merahan matahari terbenam.
“Udah lama kita gak lihat sunset bareng,” ucap Bagas.
“Iya, terakhir kali tiga bulan yang lalu.”
“Gue kangen sama rooftop kampus.”
“Gue juga. Disana tenang banget.”
Bagas mengangguk menyetujui.
“Lo pulang jam berapa?” tanya Ataya.
“Jam delapan gue pulang.”
“Mau gue anter ke terminal?”
“Gak usah, takut lo capek, seharian ini kan lo nemenin gue.”
“Santai kali. Ya udah gue liat lo sampai naik angkot aja ya.” ataya terkikik pelan.
“Iya, iya.” Bagas berdiri dari duduknya. “Yuk, pulang.”
Ataya segera berdiri dan berjalan di samping Bagas. Mereka meninggalkan tempat tadi. Di perjalanan Ataya bertanya, “Lo udah beres-beres?”
“Udah, tinggal langsung bawa aja di kamar,” jawab Bagas sedikit berteriak.
“Oh oke.”
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Butuh waktu tiga belas menit untuk mereka sampai di penginapannya Bagas. Setelah memarkirkan motornya, Ataya dan Bagas turun. Mereka berjalan ke arah pintu masuk penginapan, disitu Ataya bilang, “Gue tunggu disini ya.”
Bagas hanya mengangguk lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil tasnya. Ataya memandang interior penginapan ini, ia duduk di kursi ruang tunggu. Beberapa menit kemudian Bagas muncul dan langsung menghampirinya.
“Udah check-out?”
“Udah tadi.” Bagas melihat jam yang ada di tangannya. “Belum jam delapan, lo mau nunggu disini dulu.”
“Iya.”
“Oke.” Bagas duduk di kursi yang berhadapan dengan Ataya. “Lo udah bilang sama Ibu atau Kakak lo?”
“Udah, baru aja.”
Bagas mengangguk. Cukup lama mereka diam saja, Bagas melihat jamnya kembali lalu berkata, “Udah jam delapan, yuk.”
Ataya bangkit dari duduknya diikuti oleh Bagas yang sambil membenarkan tasnya. Untungnya, penginapan ini berada di pinggir jalan raya jadi tidak perlu menunggu angkot terlalu lama. Mereka berdiri di gerbang penginapan menunggu angkot. Beberapa menit kemudian angkot datang, Bagas melambaikan tangannya agar angkot itu berhenti.
“Lo hati-hati ya pulangnnya,” ucap Bagas ketika ia akan masuk ke dalam angkot.
“Lo juga.”
“Bye,” pamit Bagas, ia sudah duduk di dalam angkot.
Ataya menunggu angkot itu sampai tidak terlihat lagi dari pandangannya. Ia berjalan ke arah motornya lalu melajukannya keluar dari penginapan menuju rumahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai. Ataya melajukan motornya dengan kecepatan yang sedikit tinggi dari biasanya, untungnya, malam ini jalanan cukup lengang jadi ia tidak terlalu khawatir.
Ataya memarkirkan motornya di garasi lalu ia masuk ke dalam rumah. Pada saat Ataya akan membuka pintu kamarnya, ibunya menginterupsinya, “Baru pulang, Dek?”
Ataya berbalik menghadap ibunya. “Iya, tadi habis nganterin temen dulu.”
“Kemana?”
Ataya lupa, ia tidak memberitahu ibunya, malah ia hanya memberitahu kakaknya saja.
“Cuma nganterin dia sampai naik angkot aja.”
“Oh.” Ibunya mengangguk-anggukan kepalanya. “Kalau gitu, kamu mandi dulu, Dek.”
“Iya, ini mau ambil baju sama anduknya dulu.”
Ibu mengangguk lalu berbalik meninggalkan Ataya, sedangkan Ataya, ia masuk ke dalam kamarnya lalu membuka lemari untuk mengambil baju tidurnya serta tidak lupa ia juga mengambil anduk yang tersampir di gantungan baju.
Kemudian Ataya keluar dari kamarnya, ketika ia berjalan ke kamar mandi, ia berpapasan dengan Arki.
“Aa gak bilang sama Ibu?” tanya Ataya.
“Oh iya. Aduh, Aa lupa tadi, maaf ya.”
Ataya hanya mengembuskan napasnya lalu berjalan pergi meninggalkan Arki. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan badannya yang tersa sangat lengket.
Ketika Arki akan masuk ke kamar, ibu memanggil dirinya. Ia pun menghampiri ibunya dan duduk di atas karpet lalu bertanya, “Kenapa, Bu?”
“Tadi kalian main sama siapa aja?” tanya ibu penasaran.
“Sama Raha terus Bagas.”
“Oh, temannya Ataya itu ya?”
“Iya.”
“Oh.” Ibunya hanya ber-oh ria.
“Kenapa, Bu? Kok nanya kayak gitu?”
“Sebagai Ibu, Ibu harus tahu anaknya main sama siapa aja,” jelas ibunya.
“Oh. Ya udah aku balik ke kamar ya, Bu,” pamit Arki.
“Iya.”
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua