LOGINSudah dua hari dari pulangnya Bagas, hari ini Ataya sedang mempersiapkan semua perlengkapan untuk ia muncak nanti. Kemarin kakaknya membawa dua carrier yang telah ia sewa, satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Ataya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Dek,” panggil Arki sambil membuka pintu.
Ataya menoleh. “Iya.”
“Obat-obatan gak lupa ‘kan?” tanya Arki memastikan.
“Gak kok.”
“Oke. Soalnya barang kayak gitu suka tiba-tiba lupa.” Arki menutup kembali pintu kamar sedangkan Ataya lanjut beres-beres.
Seminggu sebelumnya, biasanya Ataya dan Arki selalu latihan fisik agar nanti pada saat perjalanan otot-ototnya tidak terlalu tegang. Ataya memasukkan pakaian seperti jaket, celana panjang, jas hujan, penutup kepala, sarung tangan, kaus kaki. Jaket ini menjadi barang penting yang harus dibawa karena digunakan untuk melindungi tubuh saat mendaki gunung yang ketinggiannya lebih dari 1000 MdPL agar terhindar dari hipotermia. Jas hujan juga dapat digunakan tidak hanya untuk melindungi tubuh saja, tetai bisa untuk melindungi carrier karena biasanya jas hujan lebih lebar.
Ataya juga memasukkan senter kepala, pisau kecil, matras yang digunakan sebagai alas untuk tidur, sleeping bag, obat-obatan; obat penurun panas, obat pengurang nyeri, obat anti alergi, obat asma, obat diare, dan salep antibiotik utuk mengatasi luka lecet. Ataya berhenti sejenak, perasaannya seperti ada yang lupa barang apa yang belum dimasukkannya.
“Ah... tenda!” seru Ataya. Ia berjalan keluar kamar menuju kamar kakaknya. “A....”
Pintu terbuka, Arki muncul dari balik pintu itu. “Kenapa?”
“Tendanya.”
Arki menepuk dahinya pelan. “Ah, lupa, bentar.”
Ataya menunggu selagi Arki mengambil tenda di kamarnya. Ia memikirkan kembali apa yang barang-barang yang belum masuk ke tasnya.
Arki kembali dengan membawa tenda. “Nih.”
Ataya mengambil tenda yang disodorkan oleh kakaknya. “Makasih, A.” Pada saat ia akan melangkah, ia teringat sesuatu. “Belum beli camilan ya?”
“Belum.” Arki menggeleng. “Nanti sore kita ke supermarket.”
“Oke.” Ataya pergi menuju kamarnya lagi. Ia duduk di tengah-tengah barang-barang yang sedang dipilah-pilahnya dan memasukkan tenda tadi ke dalam tasnya.
Kompas. Ataya hampir lupa tidak membawa alat navigasi itu. Ia mencari-cari kompas itu di laci meja belajarnya. Seingatnya, ia menyimpan benda itu di laci meja belajarnya, tapi sekarang tidak ada. Ataya berhenti mencari, ia mengingat-ngingat siapa yang mengambilnya. Setelah mengingat cukup lama, akhirnya ia ingat. Ataya keluar dari kamar lalu tak sengaja bertemu Arki di depan pintu kamar kakaknya itu.
“A, dulu pinjam kompas punyaku kan?” tanya Ataya.
“Iya, ini mau balikin ke kamu,” ucap Arki sembari memperlihatkan kompas yang ada di tangannya.
“Aku ambil ya,” izin Ataya sambil mengambil kompas yang berada di tangan Arki.
Arki melihat jam yang menempel di dinding. Pukul tiga sore. “Mau belanja sekarang?”
“Boleh, yuk.”
Arki mengambil kunci motor yang berada di dalam lemari, lalu mereka berjalan keluar rumah. Tak lupa Ataya mengunci pintu rumah karena di dalam tidak orang sama sekali. Setelah selesai mengunci pintu, Ataya segera menaiki motor yang disana Arki sudah menunggu. Mereka melaju membelah jalanan yang cukup ramai.
Sewaktu di jalan, Ataya bertanya, “Aa dulu pinjam kompas buat apa?”
“Buat muncak juga,” jawab Arki.
“Muncak kemana? Berarti ini kedua kalinya ya?”
“Ke Prau. Nggak, ini yang ketiga kalinya.”
“Terus yang pertama?”
“Pas waktu di Semarang, bareng temen-temen kampus.”
“Oh....” Ataya mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka sampai di supermarket. Ataya turun disusul oleh Arki, lalu masuk ke dalam supermarket. Ataya berjalan terlebih dulu dan Arki membuntutinya di belakang. Ataya memilih camilan seperti cokelat, dan beberapa makanan berkemasan. Tak lupa, ia juga memasukkan dua botol air ukuran besar untuk dirinya dan kakaknya. Ataya sibuk memilih-milih, sedangkan Arki, ia bertugas untuk membawakan keranjang dan mengikuti Ataya.
“Segini cukup kan, A?” tanya Ataya ketika mereka berada di barisan makanan ringan.
Arki mengangguk. “Cukup kok.”
Setelah selesai memasukkan barang-barang yang mereka butuhkan, mereka berjalan ke arah kasir. Ataya dan Raha mengantre sekita lima menit lalu tiba giliran mereka. Arki menaikkan keranjang ke atas agar petugas kasir mudah utuk mengeceknya. Arki mengeluarkan dompet yang ada di saku celananya lalu membayar sejumlah nominal yang disebutkan oleh petugas kasir tadi.
Selesai membayar belanjaannya. Arki menjinjing satu kantong plastik besar, ia berjalan keluar supermarket diikuti Ataya di sampingnya. Arki mengaitkan belanjaan mereka di pengait motor yang berada di depan ketika meraka di parkiran.
Arki melajukan motornya, mereka pulang ke rumah sekitar pukul empat sore dan butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah.
“A, lupa beli trashbag,” ingat Ataya ketika mereka hampir sampai rumah.
“Nanti Aa telepon Ega buat beli trashbag.”
Mereka sampai di rumah dan menemukan ibunya yang sedang masak ketika mereka masuk lebih dalam. Ibunya memasak makanan kesukaan Ataya. Ayam sambal balado. Ataya segera duduk di meja makan dan mengamati meja makan yang telah diisi oleh berbagai macam makanan.
“Ibu pulang jam berapa?” tanya Arki yang baru datang ke dapur.
“Jam setengah empat.”
“Oh.”
“Kalian mandi dulu sana gantian,” perintah ibu yang masih sibuk mencuci piring bekas masak makanan.
“Aku duluan deh,” ujar Ataya. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar untuk mengambil baju tidur serta anduknya.
Tiba di kamarnya, handphone Ataya berdering. Ia mencari handphone-nya yang ternyata berada di tumpukan barang-barangnya tadi. Ataya mengangkat panggilan itu.
“Halo,” sapanya.
“Halo, Ataya.”
“Kenapa?”
“Lo masih beres-beres?”
“Iya, masih.”
“Oh, ya udah lanjut aja. Gue tutup ya.”
“Kenapa, Raha?”
“Ng-nggak. Tadinya gue cuma mau ngobrol aja.”
“Ngobrol tentang apa?” tanya Ataya penasaran.
“Bukan hal penting kok, kalau lo masih beres-beres lanjut aja.”
“Gue gak akan tanya tentang apa sekali lagi, Raha. Jadi, lo ngomong sekarang atau gak sama sekali.”
“Nanti aja, gue masih sedikit bingung.”
“Oke.”
Sambungan terputus, Ataya menyimpan handphone-nya di atas kasur lalu berjalan keluar menuju kamar mandi.
“Lama banget ngambil baju aja,” omel Arki.
Ataya menyengir polos. “Tadi ada urusan sebentar.”
Arki menaikkan sebelah alisnya. “Urusan apa?”
“Kepo.” Ataya segera masuk ke kamar mandi daripada ia terus ditanya oleh Arki apalagi disana masih ada ibunya.
Sepeti biasanya, Ataya butuh waktu lama hanya untuk sekadar mandi. Arki saja kadang kesal menunggu Ataya mandi seperti sekarang ini. Ia tengah duduk di kursi meja makan bersama ibunya, mereka mengobrol untuk membunuh waktu sembari menunggu Ataya selesai.
Ketika Ataya mandi sebuah pesan masuk ke aplikasi chatting miliknya. Sebuah pesan dari Raha yang berisi.
Raha Adhideva
Selamat malam, semoga mimpi indah. See you besok pagi.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua